
NUHA – PT. Vale Indonesia Tbk, memaparkan arah Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang dijalankan perusahaan melalui tiga pilar utama, yakni pengembangan sumber daya manusia, pengembangan penghidupan berkelanjutan, serta penguatan resiliensi sosial-ekologi.
Paparan tersebut disampaikan Senior Coordinator PTPM Planning and Environment PT. Vale Indonesia, Sainab Husain Paragay, dalam kegiatan Upskilling & Site Visit Media yang digelar di Ballroom Hotel Mireya, Sorowako, Nuha, Senin (26/7/2026).
Menurut Sainab, seluruh program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT. Vale berpedoman pada Rencana Induk Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (RIPPM).
“Program Pengembangan atau PPM PT. Vale ini tentu saja kita selalu merujuk kepada dokumen RIPPM PT. Vale. Jadi dokumen RIPPM inilah yang menjadi pedoman kami untuk menjalankan kegiatan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat di PT. Vale,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meskipun kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenal delapan pilar PPM, PT. Vale mengelompokkannya ke dalam tiga fokus utama agar pelaksanaan program lebih terarah.
“Pilar PPM sebenarnya ada delapan. Tetapi PT. Vale mengerucutkannya menjadi tiga pilar, yakni pengembangan sumber daya manusia, pengembangan penghidupan berkelanjutan, dan penguatan resiliensi. Dari tiga pilar ini kemudian kami turunkan ke delapan pilar PPM yang ada dalam kebijakan Kementerian ESDM,” katanya.
Sainab mengatakan, pelaksanaan PPM di PT.Vale tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga berangkat dari tata kelola yang mengacu pada berbagai standar keberlanjutan, seperti ISO 26000, ESG, SDGs, GRI, dan ICMM.
Selain itu, perusahaan menerapkan prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, inklusivitas, serta keadilan dalam setiap pelaksanaan program.
“Value yang kami bangun adalah co-creation, kemudian shared value, gender inclusion, dan yang paling penting adalah sustainable impact. Bagaimana dampak dari program itu dapat berlanjut menjadi salah satu tujuan dari program pemberdayaan masyarakat yang kami lakukan,” jelasnya.
Ia menuturkan, PT.Vale memosisikan diri sebagai enabler atau penghubung yang membantu masyarakat mengembangkan potensi yang dimiliki.
Karena itu, setiap program diawali dengan kajian dasar (baseline study), social mapping, dan potential mapping sebelum disusun menjadi perencanaan yang komprehensif.
“Intinya, kami adalah enabler. Kami menjadi penghubung yang bisa menjadi kanal agar komunitas dapat berkembang dan lebih baik ke depannya. Jadi bukan serta-merta menentukan program, tetapi melalui perencanaan, identifikasi kebutuhan, social mapping, potential mapping, hingga monitoring, evaluasi, pelaporan, dan komunikasi,” katanya.
Dalam implementasinya, tiga pilar tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai program, mulai dari pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi masyarakat, pertanian, peternakan, pemberdayaan UMKM, hingga penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim dan pelestarian lingkungan.
Di bidang pendidikan, PT.Vale menjalankan program Beasiswa Anak Asuh bagi pelajar dari keluarga kurang mampu di wilayah pemberdayaan, serta Beasiswa Komunitas untuk jenjang magister dan doktor bagi putra-putri berprestasi.
“Kami tidak memberikan beasiswa S1 karena kita semua mengetahui Pemerintah Kabupaten Luwu Timur sudah memiliki program beasiswa S1. Karena itu kami mengambil bagian memberikan beasiswa kepada anak-anak berprestasi untuk program magister dan doktor,” ujar Sainab.
Selain pendidikan, perusahaan juga mengembangkan pelatihan vokasi bersertifikat yang disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja dan potensi daerah.
Dalam siaran pers yang dibagikan pada kegiatan tersebut, PT.Vale menyebutkan lebih dari 500 masyarakat telah mengikuti pelatihan keterampilan bersertifikat untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal.
Sementara itu, lebih dari 1.000 penerima manfaat telah memperoleh dukungan melalui program beasiswa di berbagai jenjang pendidikan.
Pada sektor penghidupan berkelanjutan, perusahaan melakukan pendampingan terhadap kelompok tani, peternak, pelaku UMKM, hingga pengembangan usaha berbasis potensi desa.
Sementara pada pilar resiliensi sosial-ekologi, program difokuskan pada konservasi pesisir, rehabilitasi mangrove, transplantasi terumbu karang, pengelolaan bank sampah, adaptasi perubahan iklim, serta peningkatan ketahanan desa.
Menurut Sainab, seluruh program tersebut dirancang agar tidak hanya menghasilkan manfaat jangka pendek, tetapi mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat maupun lingkungan di sekitar wilayah pemberdayaan PT. Vale. (*)