Supardin, Anak Petani Malili yang Raih Gelar Profesor Fikih Mawaris di UIN Alauddin Makassar

waktu baca 2 menit
Jumat, 19 Sep 2025 19:53 0 1354 Tim Redaksi
 

MAKASSAR – Suasana khidmat menyelimuti Auditorium UIN Alauddin Makassar, Rabu (17/9/2025). Tepuk tangan meriah mengiringi langkah seorang lelaki sederhana menuju podium.

Dialah Prof. Dr. Drs. H. Supardin, M.H.I, anak seorang petani dari Makassar yang hari itu resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fikih Mawaris dan Hukum Kewarisan.

Pengukuhan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga kisah inspiratif tentang ketekunan, pengorbanan, dan cinta ilmu.

Supardin, putra pasangan almarhum Diusman Djahir dan Sitti Fatimah, tumbuh dalam keluarga sederhana. Meski hidup dengan keterbatasan, orang tuanya selalu menanamkan nilai bahwa pendidikan adalah warisan paling berharga.

Berbekal semangat itu, Supardin menempuh pendidikan di IAIN Alauddin hingga meraih sarjana pada 1991. Ia kemudian melanjutkan studi magister (2006) dan doktor (2013) di bidang Hukum Islam di kampus yang sama.

Konsistensinya mendalami fikih mawaris membuatnya dikenal sebagai akademisi tekun dan produktif, dengan banyak publikasi ilmiah nasional dan internasional yang menjadi rujukan.

Dalam orasi ilmiah berjudul “Warisan di Persimpangan: Konflik antara Tradisi dan Keadilan”, ia menegaskan bahwa fikih mawaris tidak hanya soal pembagian harta, melainkan refleksi keadilan sosial.

“Tradisi yang tidak mampu beradaptasi dengan prinsip keadilan akan kehilangan relevansinya. Solusi adil harus ditemukan agar semua ahli waris mendapatkan haknya tanpa mengabaikan kearifan budaya,” ujarnya.

Rektor UIN Alauddin, Prof. Hamdan Juhannis, Ph.D, menyebut Supardin sebagai teladan akademisi yang rendah hati dan tulus. “Prof. Supardin bukan hanya berprestasi, tapi juga selalu membimbing dengan kesabaran,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, UIN Alauddin juga mengukuhkan tiga guru besar lainnya: Prof. Dr. Thahir Maloko (Ilmu Hukum Perkawinan Islam), Prof. Dr. Muhammad Yahya (Ilmu Kritik Sanad Hadis), dan Prof. Dr. Munawir Kamaluddin (Ilmu Pendidikan Nilai & Karakter Islami).

Pengukuhan ini menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk menembus puncak akademik.

Dari sawah yang penuh lumpur, kini Prof. Supardin berdiri gagah sebagai profesor, meninggalkan warisan berharga berupa dedikasi, integritas, dan cinta ilmu. (*)