Tanur Listrik 3 Sorowako Kembali Beroperasi, Produksi Nikel Vale Naik 19 Persen

waktu baca 3 menit
Kamis, 30 Jul 2026 09:00 0 1277 Arsal Amiruddin
 

LUTIM – PT. Vale Indonesia Tbk, mencatat pemulihan produksi nikel matte pada Triwulan II 2026, setelah proyek pembangunan kembali Tanur Listrik 3 di Sorowako rampung pada Juni lalu.

Produksi nikel matte disebut mencapai 16.153 metrik ton, meningkat sekitar 19 persen dibandingkan Triwulan I 2026 yang tercatat sebesar 13.620 ton.

Laporan kinerja interim yang dirilis perseroan pada 29 Juli 2026, menyebut total produksi nikel matte sepanjang semester pertama tahun ini mencapai 29.773 ton.

PT. Vale menyatakan peningkatan tersebut mencerminkan pulihnya kinerja operasional setelah selesainya proyek pembangunan kembali Tanur Listrik 3, dengan tetap mempertahankan fokus pada keselamatan kerja dan keandalan operasional.

Perseroan juga menyebut masih berada pada jalur untuk mencapai target produksi tahunan. Pulihnya produksi turut mendorong perbaikan kinerja keuangan perusahaan.

Pada Triwulan II 2026, pendapatan PT. Vale mencapai AS$.290 juta atau meningkat 15 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut didukung oleh meningkatnya harga realisasi rata-rata nikel matte menjadi AS$14.765 per ton. Sementara, EBITDA naik 45 persen menjadi AS$116 juta dan laba bersih meningkat 39 persen menjadi AS$61 juta.

Di sisi biaya, perusahaan mencatat biaya tunai pokok penjualan nikel matte turun dari AS$10.382 per ton pada Triwulan I menjadi AS$10.005 per ton pada Triwulan II.

Menurut PT. Vale, capaian ini menunjukkan pengelolaan biaya yang tetap terjaga di tengah kenaikan harga energi global.

Selama periode tersebut, harga rata-rata HSFO, diesel, dan batu bara masing-masing meningkat sekitar 25 persen, 40 persen, dan 12 persen, yang disebut dipengaruhi oleh situasi geopolitik serta dampaknya terhadap pasar energi dunia.

Selain melaporkan pemulihan produksi di Sorowako, PT. Vale juga mengumumkan perkembangan proyek hilirisasi melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali.

Perseroan menyebut autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi telah tiba dan diresmikan dalam BNSI Autoclave Delivery Ceremony pada 22 Juli 2026 silam, dihadiri Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT. Vale, Bernardus Irmanto, mengatakan kedatangan autoclave tersebut menjadi tonggak penting bagi pengembangan industri hilirisasi nasional.

“Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional,” ujar Bernardus.

Pemulihan produksi di Sorowako ini terjadi setelah Badan Pusat Statistik pula mencatat ekonomi Lutim, sempat terkontraksi hingga minus 2,31 persen pada Triwulan I 2026 lalu.

Saat itu, sektor pertambangan yang menjadi penyumbang terbesar struktur PDRB daerah mengalami pelemahan seiring turunnya produksi nikel matte PT. Vale yang dikabarkan terjadi karena dampak pembatasan RKAB.

Meski menunjukkan pemulihan pada Triwulan II, total produksi nikel matte PT. Vale sepanjang semester pertama 2026 masih berada di bawah capaian periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan perusahaan, produksi Januari–Juni 2026 tercatat 29.773 ton, sedangkan pada semester pertama 2025 mencapai 35.584 ton.

Adanya peningkatan produksi pada Triwulan II dibandingkan Triwulan I bisa menjadi sinyal pulihnya operasional PT. Vale di Sorowako, sekaligus dapat memberi arah positif bagi ekonomi daerah.

Meski begitu, seberapa besar dampak pemulihannya mampu mendorong kembali pertumbuhan ekonomi Lutim, baru dapat dipastikan setelah Badan Pusat Statistik merilis data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Triwulan II 2026 nanti.