LGS PT Vale Diklaim Mampu Turunkan Kekeruhan Air hingga di Bawah 10 mg/L

waktu baca 3 menit
Rabu, 29 Jul 2026 11:32 0 1279 Tim Redaksi
 

NUHA – Teknologi Lamella Gravity Settler (LGS) milik PT Vale Indonesia diklaim mampu menurunkan tingkat kekeruhan air atau Total Suspended Solid (TSS) hingga di bawah 10 miligram/Liter (mg/L), sebelum dialirkan ke badan air hingga bermuara ke Danau Matano.

Paparan mengenai sistem pengolahan air tersebut, disampaikan saat berlangsungnya sesi kunjungan sekitar 40 jurnalis dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara, di gelaran Up-Skilling dan Site Visit Media yang diselenggarakan PT. Vale Indonesia bekerja sama dengan Tempo Institute, Selasa (28/7/2026).

Selama rangkaian kegiatan, para peserta tidak hanya mengunjungi LGS, tetapi juga diajak melihat aktivitas pendidikan vokasi di Politeknik Sorowako, serta kawasan konservasi di Taman Kehati Wallacea sebagai bagian dari pengenalan berbagai program perusahaan.

Supervisor Mine Infrastructure PT. Vale Indonesia, Aris Kallolangi, mengatakan pengelolaan air merupakan salah satu komitmen perusahaan dalam mewujudkan praktik pertambangan yang berkelanjutan.

“Kalau air kita jaga, berarti penambangan pun akan awet, akan berkelanjutan juga,” kata Aris. Menurutnya, LGS dibangun di lokasi yang aliran airnya paling dekat dengan kawasan permukiman dan bermuara langsung ke Danau Matano, karenanya kualitas air yang dilepas harus tetap memenuhi baku mutu.

Sementara itu, Supervisor Hydrology Planning and Compliance PT. Vale Indonesia, Andi Burhanuddin, menjelaskan konsep utama pengelolaan air limpasan tambang tidak hanya berfokus pada kualitas air, tetapi juga pengendalian debit agar tidak memicu erosi maupun longsor.

“Konsep pengolahan limpasan tambang itu adalah bagaimana kita mengelola debit sebenarnya. Debit yang bisa kita kelola dengan baik sehingga tidak menggerus atau membuat longsor di mana-mana,” ujarnya.

Ia mengatakan LGS merupakan satu-satunya fasilitas dengan teknologi serupa yang diterapkan di tambang nikel di Indonesia. Dibandingkan kolam pengendapan konvensional, teknologi ini dinilai lebih efektif dalam menurunkan kadar TSS sekaligus lebih efisien dari sisi kebutuhan lahan.

“Kalau misalnya ada air yang masuk dengan TSS sekitar 1.000, keluarnya bisa sampai di bawah 10. Dibanding yang konvensional mungkin masih sekitar 20 sampai 30,” jelasnya.

Dalam prosesnya, air limpasan terlebih dahulu diukur debitnya, kemudian diberi injeksi fero sulfat sebelum kembali diuji di bagian hilir. Air baru dilepas ke badan air apabila seluruh parameter telah memenuhi baku mutu.

“Sebenarnya tidak butuh waktu lama, sekitar satu sampai dua jam saja pengolahan air itu bisa dirilis ke badan air,” katanya.

Selain mengendalikan TSS, PT. Vale juga memantau kandungan Chromium VI (Cr6) agar tetap berada di bawah ambang batas yang ditetapkan pemerintah.

Andi menambahkan, sistem LGS telah dirancang untuk menghadapi curah hujan tinggi melalui kolam retensi dan sejumlah kolam pengendapan yang saling terhubung sehingga debit air tetap terkendali.

Menurutnya, hasil pemantauan kualitas air di titik penaatan hingga kini masih memenuhi baku mutu. Bahkan, sampel yang diambil konsultan internasional dalam proses pemenuhan standar IRMA pada akhir tahun lalu, juga menunjukkan hasil yang sesuai.

“Alhamdulillah hasilnya memenuhi baku mutu. Jadi selain internasional juga, nasional juga memenuhi baku mutu,” tutupnya. (*)