
LUTIM – Dugaan kebocoran dalam rantai distribusi LPG 3kg menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPRD Lutim terkait kelangkaan gas melon yang terjadi di sejumlah wilayah.
Anggota Komisi II DPRD Lutim, Ambrosius, menilai persoalan LPG tidak hanya berkaitan dengan kuota, tetapi juga perlu dilihat dari sisi distribusi hingga penggunaan di lapangan.
Menurutnya, dengan kuota LPG yang mencapai 3.590.333 tabung per tahun atau setara sekitar 9 ribu tabung per hari, perlu dilakukan kajian mengenai jumlah pengguna dan pola penyalurannya.
“Harus kita cari juga sisinya, bahwa memang suplai Pertamina kurang. Selain kurang, ada lagi oknum-oknum yang menyalahgunakan. Kan di situ kita mau cari tahu,” ujarnya.
Kecurigaan terhadap distribusi LPG 3kg juga disampaikan perwakilan Lak Ham Indonesia (LHI), Iskar. Ia mengaku menerima berbagai laporan dari masyarakat terkait dugaan penyimpangan di tingkat pangkalan maupun agen.
“Ada beberapa catatan yang kami bawa dari lapangan. Yang kami curigai ini terkait langkanya tabung ada di pangkalan, yang kedua ada di agen. Karena rata-rata pangkalan sebenarnya bermain,” kata Iskar.
Ia bahkan menduga sebagian pangkalan tidak menyalurkan LPG subsidi sebagaimana mestinya. Selain itu, LHI juga menemukan laporan adanya pangkalan yang mengaku mengalami pengurangan kuota.
Sementara itu, perwakilan Jaringan Aktivis Masyarakat (Jakam) Lutim, Jois A. Baso, menilai persoalan utama yang perlu dijawab adalah keberadaan LPG 3kg setelah keluar dari rantai distribusi resmi.
“Mata rantainya mulai dari Pertamina, kemudian ke agen, kemudian ke masyarakat. Persoalannya, ternyata tidak tercukupi. Jadi hilang ini barang-barang. Kita tidak tahu di rantai mana barang-barang ini hilang,” ujarnya.
Sorotan juga datang dari anggota Komisi II DPRD Lutim, Aprianto. Ia mengingatkan adanya ketentuan yang membatasi penyaluran LPG dari pangkalan kepada pengecer.
Menurutnya, dari total LPG yang diterima pangkalan, hanya sekitar 10 persen yang dapat disalurkan kepada pengecer. Namun di lapangan, ia menduga ketentuan tersebut tidak berjalan maksimal.
“Kadang pangkalan sudah lebih dari 10 persen. Ada di kampung saya, bongkar subuh habis pagi. Tidak masuk akal. Ini yang harus diperketat karena bisa menjadi mata rantai distribusi keluar daerah,” katanya.
Menanggapi berbagai tudingan tersebut, perwakilan Agen PT. Khaerani menjelaskan bahwa pihaknya juga mengalami pengurangan alokasi LPG 3kg dalam beberapa bulan terakhir.
Ia menyebut kuota yang diterima perusahaan turun dari 66.080 tabung menjadi 61.040 tabung per bulan. Penurunan itu setara dengan berkurangnya sekitar 5.040 tabung atau sembilan mobil distribusi.
Namun demikian, pihak agen membantah adanya distribusi yang tidak terpantau. Menurutnya, seluruh penyaluran LPG ke pangkalan dilaporkan setiap hari melalui sistem pengawasan yang melibatkan pemerintah daerah, kecamatan, hingga kelurahan.
“Distribusinya kami laporkan setiap hari. Semua agen ada dalam grup pengawasan bersama pemerintah daerah,” katanya.
Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari anggota Komisi II DPRD Lutim, Sarkawi A. Hamid. Menurutnya, persoalan yang perlu dijelaskan bukan hanya jumlah tabung yang diterima agen, tetapi bagaimana distribusi itu sampai ke pangkalan dan masyarakat.
“Jangan sesederhana itu. Dari jumlah itu, bagaimana cara mendistribusikannya ke pangkalan ini,” tegas Sarkawi, saat ia mencecar salah satu agen yang ikut selama berlagsungnya RDP tersebut.
Dalam kesempatan itu, pihak PT Khaerani mengungkapkan memiliki 176 pangkalan di Luwu Timur. Agen tersebut juga mengaku telah menjatuhkan sanksi terhadap salah satu pangkalan yang diduga lebih banyak menyalurkan LPG kepada pengecer dibanding masyarakat.
“Sudah ada beberapa pelanggaran. Berdasarkan laporan media dan bukti video yang kami terima, pangkalan tersebut lebih banyak menyalurkan ke pengecer. Karena itu kami skorsing,” ungkap perwakilan PT Khaerani.
Sementara itu, perwakilan PT Harindo Gas Utama menyebut pihaknya saat ini memiliki 186 pangkalan yang tersebar di 11 kecamatan di Lutim. Sepanjang 2025, perusahaan tersebut menyalurkan sekitar 1.024.800 tabung LPG 3kg.
Meski begitu, pihak perusahaan mengakui jumlah pasokan yang diterima pada 2026 kembali mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.