Sehari Menyusuri Jejak Nikel, Alam, dan Harapan di Sorowako

waktu baca 5 menit
Rabu, 29 Jul 2026 11:48 0 1284 Tim Redaksi

Liputan Arsal Amiruddin

 

NUHA – Setidaknya ada lima pesan yang dibunyikan melalui grup WhatsApp sejak malam sebelumnya. Menggunakan kostum yang telah dibagikan, memakai sepatu, membawa tempat minum, menyimpan kunci kamar di resepsionis, dan berkumpul di lobby hotel tepat pukul 06.00 Wita.

Maka deru pagi di Hotel Mireya, Sorowako, Selasa (28/7/2026), telah lebih dulu dipenuhi aktivitas sekitar 40 awak media dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Bus berwarna putih telah menunggu di depan jalan yang tak jauh dari halaman hotel. Hari ketiga gelaran Up-Skilling and Site Visit Media PT. Vale Indonesia Tbk, segera dimulai.

Tepat setelah seluruh peserta diimbau mengenakan safety bell, kendaraan itu bergerak perlahan menuju Pontada, kawasan yang lebih dikenal masyarakat sebagai Pantai Ide.

Dari sanalah perjalanan dimulai, menyusuri salah satu danau purba terdalam di dunia. Di tepian dermaga, dua raft atau kapal bermesin telah bersandar. Persiapan pelayaran telah dilakukan, aneka panganan dan minuman telah tersedia menyambut rombongan.

Tak butuh waktu lama hingga mesin kapal dihidupkan, perahu perlahan meninggalkan dermaga. Riak-riak kecil segera pecah di buritan. Percikan air sesekali terbang terbawa angin, membasahi sisi kapal.

Semakin jauh dari daratan, hamparan Danau Matano tampak seperti bentangan kaca berwarna hijau kebiruan. Di kanan kiri, tebing batu berdiri kokoh, diselimuti vegetasi tropis yang tumbuh rapat hingga menyentuh bibir danau.

Sulit membayangkan bahwa bentang alam yang tenang itu menyimpan sejarah geologi yang telah berlangsung jutaan tahun.

Danau Matano dikenal sebagai salah satu danau tektonik tertua di dunia. Kedalamannya mencapai lebih dari 590 meter dan menyimpan berbagai spesies endemik yang hanya hidup di perairan tersebut.

Sekitar dua puluh menit pelayaran, laju kapal mulai melambat. “Kita tiba di Gua Air,” ujar pengemudi kapal sembari mengarahkan haluan mendekati sebuah celah di dinding tebing.

Dari kejauhan, mulut gua itu tampak biasa. Hanya berupa lubang kecil yang sebagian berada tepat di permukaan air. Tak menyangka ceritanya jauh lebih besar dibanding ukuran pintu masuknya.

Menurut beberapa penelusuran, lokasi itu kerap didatangi para penyelam. Sebagian masuk untuk menjelajahi lorong-lorong bawah air, sebagian lainnya melakukan penelitian.

Gua Air itu merupakan salah satu situs yang menarik perhatian kalangan arkeolog, ahli geologi, hingga peneliti bawah air.

Pada bagian dalamnya terdapat rongga besar dengan ventilasi alami tempat cahaya matahari masuk dari atas, memperlihatkan stalaktit yang menghiasi langit-langit gua.

Dinding batunya juga memiliki rona kehijauan akibat kandungan mineral yang banyak ditemukan di kawasan itu. Konon, gua tersebut di masa lalu, pernah menjadi tempat persembunyian.

Perahu tak berlabuh terlalu lama. Mesin kembali meraung pelan. Kapal berbalik arah, menyusuri tepian danau. Dari atas kapal, peserta dapat melihat bentang kawasan yang menjadi wajah lain Sorowako.

Di satu sisi, hutan dan perbukitan masih mendominasi. Di sisi lain, aktivitas pertambangan, permukiman, hingga fasilitas penunjang industri membentang di lanskap yang sama, menghadirkan kontras yang sulit diabaikan.

Usai mengelilingi danau itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Politeknik Sorowako. Di kampus vokasi tersebut, peserta diperkenalkan pada konsep pendidikan berbasis industri.

Berbagai laboratorium, ruang praktik, hingga fasilitas pembelajaran dirancang agar mahasiswa terbiasa dengan kondisi kerja yang sesungguhnya. Hubungan antara dunia pendidikan dan industri menjadi misi utama hadirnya politeknik tersebut.

“Tadi pagi kita sudah berkeliling Danau Matano dan saat ini sedang berada di Poliwako. Nanti siang kita akan ke Lamella Gravity Settler (LGS) dan Taman Kehati. Di masing-masing lokasi akan ada narasumber yang akan memberikan penjelasan terkait lokasi yang dikunjungi,” ujar Wanti, salah seorang staf di External Communication PT. Vale Indonesia.

Matahari mulai tegak ketika rombongan singgah di kawasan Guest House. Makan siang jadi jeda yang nyaris tak terasa. Belum lama menikmati hidangan, peserta kembali dipanggil menuju bus.

Perjalanan rupanya masih menyisakan sisi lain Sorowako yang jarang dilihat. Kali ini, kendaraan berhenti di sebuah kawasan yang didominasi pipa-pipa baja, kolam-kolam bertingkat, dan pagar pengaman.

Dari tampilannya yang serba teknis, lokasi bernama Lamella Gravity Settler (LGS) itu menjadi salah satu simpul penting dalam pengelolaan air di area operasional PT. Vale.

Melalui sistem pengendapan menggunakan pelat-pelat lamella, partikel sedimen dipisahkan dari air sehingga kualitas air yang dilepas kembali ke lingkungan, tetap memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan.

Para peserta mendapat penjelasan mengenai tahapan pengolahan itu, mulai dari aliran air masuk, hingga proses sedimentasi berlangsung.

Perjalanan belum berhenti. Bus kemudian memasuki kawasan Taman Keanekaragaman Hayati Sawerigading Wallacea. Hamparan hijau seluas sekitar 15 hektare itu menjadi rumah bagi berbagai koleksi tumbuhan lokal Sulawesi.

Jalur pejalan kaki menghubungkan arboretum, rumah pembibitan, greenhouse, hingga area konservasi satwa. Di salah satu sudut, rusa dan seekor anoa tampak berkeliaran. Segera mereka menjadi perhatian peserta, yang tak henti mengabadikan momen melalui kamera.

Kawasan tersebut juga memiliki cerita tersendiri. Presiden Indonesia Periode 2019-2024, Joko Widodo, pernah berkunjung dan meresmikan lokasinya. Sebuah pohon yang ditanamnya masih tumbuh sebagai penanda kunjungan, berdampingan bersama kawanan rusa dan anoa.

Sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini dipenuhi ribuan pohon itu pernah menjadi lahan bekas tambang sekitar dua dekade silam. Pepohonan telah tumbuh tinggi, menaungi jalur-jalur setapak. Di bawahnya, ribuan bibit baru terus dirawat.

Nursery tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 700 ribu bibit setiap tahun yang digunakan untuk mendukung reklamasi dan rehabilitasi lahan paska-tambang maupun kegiatan konservasi lainnya.

Berbagai jenis pohon endemik Sulawesi memenuhi area persemaian. Di sanalah siklus rehabilitasi dimulai, ketika benih-benih kecil dipersiapkan, untuk suatu hari kembali menghijaukan kawasan yang pernah digali.

Sore hari hampir menjelang, ketika rombongan kembali merapat ke Hotel Mireya. Dari banyaknya spot lokasi yang sempat disambangi, tampaknya masing-masing orang pulang membawa ceritanya sendiri tentang banyak hal yang telah mereka amati.

Entah dari kedalaman eksotik Danau Matano, di kunjungan pembekalan keterampilan Politeknik Sorowako, di kerumitan instalasi olahan limbah industri, atau dari rehabilitasi lingkungan yang terus dilakukan oleh pihak korporasi. (*)