Menempa SDM Industri dari Jantung Vokasi Sorowako

waktu baca 3 menit
Rabu, 29 Jul 2026 11:44 0 1288 Tim Redaksi
 

NUHA – Tak hanya dikenal sebagai salah satu pusat industri nikel Indonesia, Sorowako, Kecamatan Nuha, juga telah menumbuhkan sebuah lembaga pendidikan vokasi yang berperan menyiapkan tenaga kerja terampil bagi dunia industri.

Melalui Politeknik Sorowako, keterampilan teknis, disiplin kerja, dan kesiapan menghadapi kebutuhan industri ditempa sejak para mahasiswa menginjakkan kaki di bangku kuliah.

Gambaran itu diperoleh 40 jurnalis dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara, saat mengunjungi kampus tersebut dalam rangkaian Up-Skilling and Site Visit Media yang diselenggarakan PT. Vale Indonesia bekerja sama dengan Tempo Institute.

Kunjungan ke sana, pada Selasa (28/7/2026), menjadi salah satu sesi dalam kegiatan itu, selain kunjungan para peserta berkeliling melihat lingkungan pengelolaan limbah Lamella Gravity Settler (LGS) dan pusat penghijauan PT.Vale di areal tak jauh dari Taman Kehati Wallacea.

Menempa SDM Industri dari Jantung Vokasi Sorowako

Meski suasana kampus pagi itu tampak lebih lengang karena mahasiswa masih menjalani masa libur, aktivitas pendidikan tetap berlangsung. Mahasiswa baru sedang mengikuti matrikulasi, sementara mahasiswa tingkat akhir menyelesaikan berbagai persiapan sebelum menuntaskan studinya.

“Mahasiswa masih pada libur. Jadi nanti mungkin kita akan keliling, yang kita lihat adalah mesin-mesin tanpa tuan, karena mahasiswanya memang masih pada libur,” ujar Direktur Politeknik Sorowako, Harjuma, membuka pertemuan dengan para peserta.

Saat awak media diajak menyambangi bengkel-bengkel praktik di area Politeknik, yang pagi itu memang tampak lebih lengang dari aktifitas mahasiswa, kisah perjalanan panjang lembaga pendidikan itu bisa terlihat dari gelaran peralatan dan etalase inovasi mahasiswa mereka.

Harjuma menjelaskan, Politeknik Sorowako berawal dari Inco Suminoko Technical Training Center yang didirikan pada 1991 sebagai pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat di sekitar wilayah pemberdayaan perusahaan.

Perjalanan itu terus berkembang menjadi Akademi Teknik Sorowako pada 1993, sebelum resmi bertransformasi menjadi Politeknik Sorowako pada 20 Mei 2025.

Menempa SDM Industri dari Jantung Vokasi Sorowako

Kini, kampus tersebut mengelola tiga program studi, yakni D-III Perawatan dan Perbaikan Mesin, D-IV Rekayasa Perancangan Mekanik, serta D-IV Teknologi Rekayasa Pengelasan dan Fabrikasi dengan jumlah sekitar 408 mahasiswa.

Menurut Harjuma, jumlah mahasiswa memang sengaja dibatasi. Alasannya bukan karena keterbatasan minat, melainkan agar setiap mahasiswa memperoleh kesempatan praktik yang memadai.

“Kami ingin memastikan bahwa semua anak-anak yang kuliah di tempat ini memang sesuai dengan fasilitas praktikum yang ada. Karena ini sekolah vokasi, keterampilan menjadi yang utama,” katanya.

Komitmen terhadap kualitas itu juga tercermin sejak proses penerimaan mahasiswa. Selain mengikuti tes akademik, calon mahasiswa diwajibkan menjalani tes fisik, wawancara, hingga pemeriksaan kesehatan.

Tes fisik, kata Harjuma, menjadi bagian penting karena mahasiswa akan menghabiskan sebagian besar waktu belajarnya di bengkel praktik dengan durasi yang cukup panjang.

“Kami memang ingin memastikan bahwa selain fisiknya memadai, juga kesehatannya memang sesuai. Anak-anak akan bekerja di bengkel dengan durasi waktu yang cukup panjang,” ujarnya.

Sebagai kampus vokasi, Politeknik Sorowako juga tidak hanya berfokus pada proses belajar di ruang kelas. Kampus berupaya memastikan lulusannya mampu bersaing di dunia kerja melalui kemitraan dengan berbagai perusahaan dan pelaksanaan program campus hiring.

Upaya tersebut berkontribusi terhadap tingkat serapan lulusan yang mencapai sekitar 85 persen dalam waktu kurang dari enam bulan setelah menyelesaikan pendidikan.

Meski memiliki hubungan historis dengan PT. Vale Indonesia, Harjuma menegaskan bahwa tidak ada jalur khusus bagi lulusan Politeknik Sorowako untuk bekerja di perusahaan tersebut.

“Kalau mereka tamat di sini, jika nanti PT. Vale membuka lowongan, mereka dipersilakan untuk melamar dan mengikuti kompetisi sebagaimana peserta yang lain,” tegasnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa kampus tersebut hanya diperuntukkan bagi anak-anak karyawan perusahaan. Menurutnya, Politeknik itu merupakan kampus nasional yang terbuka bagi siapa saja selama mampu melewati seluruh tahapan seleksi.

Saat ini, mahasiswa memang masih didominasi berasal dari Lutim. Akan tetapi, sejumlah mahasiswa lainnya juga datang dari berbagai daerah, seperti Luwu Utara, Palopo, Toraja, Makassar, hingga luar Pulau Sulawesi.

Di tengah pesatnya perkembangan industri, Politeknik Sorowako memilih membatasi jumlah mahasiswa. Bagi kampus vokasi ini, kualitas lulusan tetap menjadi tujuan utama dalam menempa SDM industri. (*)