MAKASSAR – Tak sulit menemukan Mochtar Djuma di Kota Makassar. Hampir saban hari, pria berkumis lebat itu nongkrong di warung kopi, bermain catur sambil berdiskusi dengan siapa saja yang datang menyapa. Namun siapa sangka, dari warung kopi itulah lahir sebuah langkah hukum yang mengguncang jagat olahraga Makassar.
Mochtar, atau akrab disapa MJ, belakangan menjadi perbincangan hangat setelah menggugat legalitas ketua terpilih KONI Makassar, Ismail. Meski dikenal sebagai sahabat pribadi Ismail, MJ memilih menempuh jalur hukum untuk membatalkan hasil Musorkot Luar Biasa KONI Makassar yang digelar April lalu.
“Hubungan personal tak boleh menutup mata kita terhadap pelanggaran aturan. Kalau kita biarkan satu celah, lama-lama akan menjadi kebiasaan,” ujarnya saat ditemui di salah satu warkop langganannya di Jalan Veteran.
Mochtar bukan nama asing di kancah olahraga Makassar. Ia adalah Wakil Ketua Bidang Hukum KONI Makassar, Plt Ketua Umum KONI 2025, dan Ketua Harian Percasi Makassar. Ia juga pernah memimpin DPC PDIP Makassar selama satu dekade dan menjadi legislator DPRD Makassar dua periode.
Dalam dunia olahraga, MJ dikenal karena komitmennya terhadap regulasi. Di Porprov Sulsel 2022, ia memimpin tim hukum yang sukses membatalkan keputusan juri cabang catur yang dianggap melanggar, sehingga medali beralih ke atlet Makassar.
“Olahraga itu soal aturan, bukan soal kompromi. Kita ingin membentuk generasi atlet yang jujur dan berprestasi. Tapi itu tak mungkin kalau regulasi justru dilanggar di level pengurus,” tegas kandidat doktor hukum Universitas Hasanuddin ini.
Bersama Forum Penyelamat Olahraga Makassar, Mochtar mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Makassar. Ia menilai pemilihan ketua KONI kali ini sarat pelanggaran aturan, mulai dari aspek manajerial hingga rangkap jabatan.
Meski demikian, MJ menegaskan bahwa dirinya siap menerima apapun hasil putusan pengadilan.
“Saya tidak mencari menang atau kalah. Yang saya cari adalah kepastian hukum dalam dunia olahraga. Karena tanpa itu, semua jadi abu-abu,” tandasnya. (*)