
MALILI – Suara perempuan itu mulai serak. Selama dua hari terakhir ia bersama puluhan warga bertahan di lokasi. Di tengah puing-puing rumah yang telah rata dengan tanah, perempuan itu terus berorasi dari dalam musholla, bangunan terakhir yang belum sempat dihancurkan di Dusun Laoli, Desa Harapan, Jumat (31/7/2026).
Pengosongan lahan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama aparat TNI dan Kepolisian masih terus berlangsung. Berbeda dengan hari pertama, kawasan yang sebelumnya dipenuhi rumah warga kini nyaris tak bersisa.
Tampak di sekeliling musholla, puluhan aparat tampak berjaga membentuk barisan, sementara kendaraan dinas dan beberapa alat berat mulai terlihat di sekitar lokasi.
“Kemarin saya katakan bongkar masjid tapi kalian tidak mau. Karena apa? Karena kami tahu kalian orang muslim. Anda orang beragama, tapi kami di dalam masjid ini ingin menenangkan pikiran kami,” teriak perempuan itu bagai memberi khutbah.
Tak berselang lama hingga ketegangan kembali pecah. Sejumlah personel Satpol PP terus memaksa memasuki musholla, dan mengeluarkan warga beserta barang-barang yang masih tersisa.
Musholla itu telah ditempati warga untuk mengungsi ketika permukiman mereka dibongkar. Sebelum, bangunan yang selama dua hari menjadi tempat berlindung, sekaligus titik terakhir perlawanan mereka, akhirnya ikut dikosongkan.
“Kami ini manusia, 27 kepala keluarga, menenangkan pikiran kami di sini. Jangan hanya sekadar tunduk mendengar, masuk telinga kiri keluar telinga kanan,” ucapnya lagi, sebelum tangis dan teriakan kembali pecah.
Selama proses pengosongan itu, Pendamping Lapangan Petani Laoli dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Fajrin, ikut menjadi korban. Ia ditarik paksa keluar dari musholla oleh Satpol PP dan beberapa aparat, hingga mengalami luka pada bagian wajah dan leher.
Meski mengalami luka, Fajrin, yang pula menjabat selaku Staf Ekonomi, Sosial dan Budaya di LBH Makassar, tetap berada di sekitar lokasi bersama warga, hingga pengungsian terpaksa dilakukan.
Seluruh warga mengangkut barang-barang mereka yang tersisa, setelah sore hingga malam sebelumnya, mereka sempat membuat tenda-tenda darurat dan menetap di area sekitar musholla.
Mereka hanya dapat pasrah mengangkut seluruh barang-barang yang dapat diselamatkan, menuju rumah kerabat terdekatnya yang berjarak sekitar dua kilometer dari titik awal rumah dan kebun-kebunnya.
Saat ditemui di sekitar area tersebut, mereka menceritakan akan membangun tenda-tenda pengungsian di sana, sebagai hunian sementara sekalian menenangkan diri setelah berlangsungnya aksi penggusuran berkali-kali tersebut.
Hingga menjelang sore, warga terus mengangkut barang-barang yang masih bisa dibawa. Harapan puluhan keluarga itu kini bertumpu pada halaman rumah kerabat, sebagai tempat teduh sementara, entah seberapa aman dari penggusuran kembali.

