Mantan Aktivis Ini Kecam Represi Warga Laoli, Sindir Lembaga Mahasiswa Lutim yang Bungkam

waktu baca 2 menit
Jumat, 1 Mei 2026 21:25 0 1292 Tim Redaksi
 

MALILI — Mantan aktivis mahasiswa era Reformasi, Wahyu ‘Tom’ Al-Kadry, mengecam keras tindakan represif yang dilakukan Satpol PP terhadap warga petani Laoli, Kabupaten Luwu Timur, serta menyindir sikap bungkam sejumlah organisasi mahasiswa asal Luwu Timur yang dinilainya gagal menunjukkan keberpihakan terhadap rakyat.

Dalam pernyataan yang diterima redaksi pada Jumat (1/5/2026), Wahyu “Tom” Al-Kadry menegaskan bahwa pendekatan koersif terhadap masyarakat hanya akan memperburuk konflik agraria dan melukai rasa keadilan warga yang telah lama menggantungkan hidup pada tanah mereka.

“Saya sangat prihatin melihat warga mendapat tekanan, sementara pembelaan serius justru datang dari LBH Makassar, PBHI Sulsel, dan LKBHMI HMI Cabang Makassar. Mereka hadir ketika rakyat membutuhkan pendampingan,” ujar Tom.

Sebaliknya, Tom mempertanyakan sikap organisasi mahasiswa daerah seperti IPMALUTIM, HAM Lutim Palopo, dan IPPMK Lutim Palu yang menurutnya cenderung diam terhadap persoalan besar yang menimpa masyarakat di daerah asal mereka sendiri.

“Ini sangat memprihatinkan. Warga di kampung halaman sendiri sedang menghadapi persoalan serius, tetapi lembaga mahasiswa yang membawa identitas Luwu Timur justru terkesan apatis. Mereka seharusnya malu,” tegas mantan Sekretaris Umum HMI Cabang Makassar periode 2002–2003 tersebut.

Tom bahkan menyoroti kemungkinan adanya ketakutan politik yang membuat sebagian organisasi mahasiswa enggan bersikap kritis terhadap pemerintah daerah.

“Jangan sampai sikap diam ini dipengaruhi rasa takut karena bantuan hibah APBD bisa terganggu. Jika gerakan mahasiswa sudah tunduk pada kepentingan seperti itu, maka independensi mereka sedang dipertaruhkan,” katanya.

Sebagai mantan Koordinator Wilayah XI Sulawesi ISMAHI dan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum UMI, Tom menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi garda terdepan dalam membela masyarakat tertindas.

“Persoalan di Luwu Timur justru disikapi serius oleh lembaga-lembaga luar yang tidak punya keterikatan khusus dengan daerah tersebut. Sementara mahasiswa lokal memilih diam. Ini tamparan keras bagi idealisme dan marwah gerakan mahasiswa,” tandasnya.

Menurut Tom, konflik Laoli bukan hanya soal sengketa lahan, tetapi juga ujian nyata terhadap keberanian moral generasi muda intelektual Luwu Timur.

Ia menegaskan bahwa ketika rakyat menghadapi tekanan, diam bukanlah netralitas, melainkan bentuk pengingkaran terhadap sejarah perjuangan mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial.

Pernyataan Wahyu “Tom” Al-Kadry pun menjadi kritik terbuka sekaligus peringatan bagi organisasi mahasiswa Luwu Timur agar tidak kehilangan arah perjuangan di tengah konflik yang menyangkut hak hidup masyarakatnya sendiri. (*)