
MALILI – Persoalan pelibatan Desa Balantang dalam penyusunan dokumen adendum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) PT. Prima Utama Lestari (PUL), bukan satu-satunya hal yang mengemuka dalam pertemuan antara warga dan pihak perusahaan di Kantor Camat Malili, Selasa (30/6/2026).
Di tengah pembahasan mengenai status Desa Balantang dalam wilayah terdampak aktivitas perusahaan, warga juga menyampaikan keluhan lain yang selama ini mereka rasakan, yakni minimnya kesempatan kerja bagi masyarakat setempat.
Persoalan tersebut muncul ketika diskusi mulai bergeser dari persoalan jalur tongkang dan dampak operasional perusahaan ke manfaat yang selama ini diterima warga sekitar.
Bagi sebagian warga, keberadaan perusahaan di sekitar wilayah mereka tidak hanya dipandang dari sisi dampak lingkungan semata, tetapi juga diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat yang berada di sekitar area aktivitas perusahaan.
Hanya saja, menurut warga, harapan itu belum banyak dirasakan oleh masyarakat Balantang. Salah seorang warga Balantang, Heri, mempertanyakan sejauh mana perusahaan telah melibatkan tenaga kerja dari desanya selama menjalankan aktivitas di wilayah tersebut.
Menurutnya, meski operasional PT.PUL telah berjalan cukup lama, masyarakat Balantang belum melihat adanya keterlibatan tenaga kerja dari turut diambil dari wilayah mereka.
“PT.PUL selama dia beroperasi sampai sekarang tidak ada satu pun karyawannya diambil,” katanya dalam forum.
Pernyataan itu kemudian diikuti keluhan lain mengenai proses penerimaan tenaga kerja yang menurut warga belum sepenuhnya memberi ruang yang sama bagi masyarakat Balantang.
Heri mengaku pernah mendengar adanya warga Balantang yang mencoba melamar pekerjaan, namun tidak berhasil diterima.
“Saya punya teman dulu, orang Balantang, melamar. Cuma karena bukan orang Ussu jadi dia ditolak,” ujarnya.
Ia menilai alasan mengenai kemampuan atau keterampilan kerja juga tidak seluruhnya dapat dijadikan dasar, terutama untuk sejumlah pekerjaan yang menurutnya tidak memerlukan keahlian teknis khusus.
“Kalau skill, di mana-mana perusahaan kerja juga tidak ada, Pak,” katanya.
Keluhan serupa turut disampaikan Ketua Program Kampung Iklim (Proklim) Desa Balantang, Asmar Alam.
Menurutnya, beberapa jenis pekerjaan yang ada di lapangan semestinya dapat diisi oleh tenaga kerja lokal apabila perusahaan membuka peluang lebih luas kepada masyarakat sekitar.
Asmar menilai pekerjaan-pekerjaan dasar yang tidak membutuhkan sertifikasi atau keahlian khusus seharusnya dapat menjadi ruang masuk bagi warga Balantang.
“Masalah skill ini yang kita butuhkan juga yang non-skill ini. Tapi buktinya, di atas itu yang kerja sebagai helper mekanik, apa skill-nya juga di mana,” ujarnya.
Ia juga menyinggung adanya pandangan di tengah masyarakat yang menilai penerimaan tenaga kerja selama ini belum sepenuhnya terbuka.
Menurutnya, persepsi seperti itu muncul karena masyarakat belum melihat keterwakilan tenaga kerja dari wilayah mereka sendiri.
Sementara itu, menanggapi keluhan warga, perwakilan PT.PUL Jonathan mengatakan perusahaan tetap membuka peluang kerja sesuai kebutuhan perusahaan. “Kalau skill ini kan semuanya bisa masuk, Pak,” katanya.
Hanya saja, ketika ditanya lebih jauh mengenai keberadaan tenaga kerja asal Balantang yang saat ini bekerja di perusahaan, Jonathan mengakui hingga saat ini belum terdapat pekerja yang berasal dari desa tersebut.
“Kalau sekarang belum ada,” ia mengatakan.

