
NUHA – PT Vale Indonesia Tbk menyampaikan progres pembangunan Indonesia Growth Project (IGP) Sorowako Limonite (Sorlim) terus menunjukkan perkembangan.
Hingga pertengahan tahun ini, konstruksi tambang telah mencapai 50,5 persen, sedangkan pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) mencapai 19,3 persen.
Perkembangan tersebut dipaparkan Senior Manager Construction IGP Sorowako Limonite Ore PT. Vale Indonesia, Ridwan Banda, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Upskilling & Site Visit Media di Ballroom Hotel Mireya, Sorowako, Nuha.
Ridwan menjelaskan, Sorlim merupakan salah satu proyek strategis perusahaan yang mengintegrasikan pengembangan tambang limonit di Blok Sorowako dengan pembangunan fasilitas HPAL bersama mitra.
“Pembangunan fasilitas HPAL akan berlokasi di kawasan industri di Kabupaten Lutim dan didukung oleh Feed Preparation Plant (FPP) serta berbagai fasilitas penunjang lainnya yang saat ini terus berkembang sesuai tahapan proyek,” ujarnya.
Menurutnya, bijih limonit dengan kadar rata-rata sekitar 1,14 persen nikel (Ni) akan diolah menjadi produk bernilai tambah yang mendukung kebutuhan bahan baku industri kendaraan listrik dan transisi energi.
Ridwan mengatakan, konstruksi tambang ditargetkan selesai pada kuartal II 2027, sementara pembangunan fasilitas HPAL ditargetkan rampung pada kuartal IV 2027.
“Hingga saat ini progres pembangunan terus menunjukkan perkembangan positif. Konstruksi tambang telah mencapai 50,5 persen dan ditargetkan rampung pada kuartal II 2027, sementara pembangunan fasilitas HPAL telah mencapai 19,3 persen dengan target penyelesaian pada kuartal IV 2027,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan Sorlim merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung hilirisasi mineral di Indonesia dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja, tata kelola perusahaan yang baik, serta prinsip keberlanjutan.
Dalam sesi diskusi bersama peserta, Ridwan mengakui pelaksanaan proyek berskala besar tidak terlepas dari berbagai tantangan.
“Kalau berbicara mengenai kendala proyek, membangun rumah kita sendiri saja pasti banyak kendalanya. Apalagi kalau berbicara mengenai proyek sebesar ini yang mencakup banyak lokasi dan banyak pekerjaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian kendala masih dapat dikendalikan oleh perusahaan melalui proses perencanaan dan pengawasan proyek. Akan tetapi, terdapat pula faktor-faktor yang berada di luar kendali perusahaan, seperti proses perizinan maupun regulasi pemerintah.
“Kalau kendala itu masih bisa kami kontrol, tentu menjadi tanggung jawab kami. Tetapi kalau berkaitan dengan perizinan atau regulasi pemerintah, kami harus mengikuti seluruh ketentuan yang berlaku,” katanya.
Menurut Ridwan, perusahaan juga melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek agar berjalan sesuai rencana, mulai dari aspek jadwal, penggunaan anggaran, hingga pencapaian target pembangunan.
Ia menyebut persoalan lahan masih menjadi salah satu tantangan yang kerap dihadapi dalam pembangunan proyek.
“Kalau ditanya salah satu kendala terbesar, memang persoalan lahan. Itu tidak bisa dipungkiri. Tetapi yang pasti kami tidak akan melanggar regulasi. Semua proses, termasuk jika berkaitan dengan pengadaan lahan, akan mengikuti ketentuan yang berlaku,” ujarnya. (*)

