
NUHA – PT Vale Indonesia Tbk mengungkapkan program transplantasi terumbu karang yang dijalankan di pesisir Lutim sempat menghadapi masalah.
Sekitar 150 unit spider atau rangka transplantasi yang menopang ribuan fragmen karang dilaporkan pernah mengalami kerusakan di tengah proses rehabilitasi ekosistem laut.
Head of External Relations Sorowako & Outer Area PT Vale Indonesia, Yusri Yunus, mengatakan peristiwa tersebut sempat membuat tim yang terlibat dalam program konservasi merasa terpukul.
Program itu merupakan hasil kolaborasi PT. Vale bersama berbagai pihak untuk memulihkan ekosistem bawah laut di wilayah pesisir.
“Teman-teman itu sempat sedih kemarin,” kata Yusri saat sesi diskusi dalam kegiatan Upskilling & Site Visit Media, yang berlangsung di Hotel Mireya, Sorowako, Senin (26/7/2026).
Menurutnya, kerusakan terjadi pada struktur transplantasi yang telah dipasang di dasar laut.
“Dari sekitar 150 spider yang kita tempatkan, dengan sekitar 3.000 fragmen karang di dalamnya itu sempat hancur,” ujarnya.
Yusri mengaku hingga kini belum dapat memastikan penyebab pasti kerusakan tersebut. Namun, ia menyebut struktur transplantasi itu diduga terseret sehingga mengakibatkan sejumlah fragmen karang ikut rusak.
“Saya tidak tahu bagaimana caranya, itu keseret,” katanya. Meski demikian, ia menegaskan program konservasi tersebut tidak dihentikan. PT. Vale bersama para mitra tetap melanjutkan upaya pemulihan ekosistem terumbu karang yang menjadi bagian dari program pemberdayaan dan pelestarian lingkungan perusahaan.
Menurut Yusri, tantangan semacam itu merupakan bagian dari proses panjang dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat maupun konservasi lingkungan.
Ia mencontohkan, pengembangan kawasan budidaya nanas yang kini mulai berkembang juga melalui proses yang tidak mudah.
“Itu juga tidak mudah, tidak langsung jadi seperti sekarang ini. Jatuh bangun, jatuh bangun,” ujarnya.
Karena berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan lingkungan, kata dia, setiap program memerlukan waktu, konsistensi, serta dukungan banyak pihak agar dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.
“Namanya tadi jatuh bangun. Karena berangkat dari masalah, pasti tantangannya tidak sedikit. Butuh konsistensi, butuh bantuan teman-teman,” katanya.
Ia menambahkan, pengawasan terhadap kawasan konservasi di laut tidak mungkin sepenuhnya dilakukan oleh perusahaan. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan program.
“Yang terumbu karang itu siapa yang bisa mengawasi di laut setiap saat? Tidak ada, kan?” tutur Yusri.
Melalui kegiatan tersebut, PT. Vale juga mengajak insan media ikut berperan menyebarluaskan pentingnya menjaga kawasan konservasi agar berbagai upaya rehabilitasi lingkungan tidak dirusak oleh tindakan yang tidak bertanggung jawab.
“Supaya upaya-upaya itu bisa sustain, berkelanjutan. Tidak dimanfaatkan oleh orang-orang yang sepihak yang mau menentukan diri sendiri,” pungkasnya.
Sebelumnya, dalam pemaparan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), Senior Coordinator PTPM Planning and Environment PT. Vale Indonesia, Sainab Husain Paragay, menjelaskan konservasi pesisir menjadi salah satu program prioritas perusahaan dalam pilar penguatan resiliensi sosial dan ekologi.
Program tersebut antara lain mencakup penanaman mangrove, transplantasi terumbu karang di Desa Harapan, serta berbagai kegiatan konservasi lingkungan yang melibatkan masyarakat di wilayah pemberdayaan. (*)

