Refleksi -2,31%, Antara Harapan Diversifikasi dan Bayang-Bayang Ketergantungan

waktu baca 6 menit
Kamis, 18 Jun 2026 11:36 0 1331 Arsal Amiruddin
 

LUTIM – Angka-angka ekonomi Lutim anjlok. Saat rata-rata Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan nilai positif sebesar 6,88% dan rata-rata nasional di angka 5,01%, Lutim malah bergerak sebaliknya ke arah negatif.

Rilis Badan Pusat Statistik dalam kuartal 1 2026, bahkan menyebut pertumbuhan ekonomi kita menyentuh -2,31%. Angka yang bagi sebagian netizen di media sosial, disebut paling miris se-Sulsel.

Tapi tentu bukan kali pertama, deret-deret itu bergerak jauh dari harapan. Telah seringkali angka-angka statistik Lutim memberi warning, saat mereka memilih “lari kiri ketimbang menengok ke kanan”.

Saat berlangsungnya Pandemi Covid-19 di beberapa tahun silam, warning itu juga pernah terlihat. Pada tahun 2021, ekonomi Lutim juga tumbuh -1,39% pada saat rata-rata kabupaten lain tengah bergerak positif dan tengah beranjak keluar dari masa lockdown panjangnya.

Faktor utama yang selalu menjadi pemicu, nyaris tak pernah berubah. Terlalu bertumpunya ekonomi daerah pada sektor Pertambangan dan Penggalian.

Sebuah sektor yang selama bertahun-tahun menjadi lokomotif utama pertumbuhan ekonomi Lutim, sekaligus menjadi titik paling rentan ketika gangguan terjadi.

Dalam Triwulan I 2026 ini, gejala serupa kembali terlihat. Pelemahan pada sektor pertambangan kembali menyeret pertumbuhan ekonomi daerah ke zona negatif.

Narasi yang berkembang di tingkat nasional sempat mengaitkannya dengan kebijakan pembatasan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), yang membuat sejumlah perusahaan tambang tidak leluasa meningkatkan produksi meski harga nikel dunia sedang menunjukkan tren yang lebih baik.

Logikanya sederhana. Ketika harga naik tetapi volume produksi dibatasi, peluang memperoleh nilai tambah yang lebih besar ikut menyempit. Dalam situasi seperti itu, perlambatan ekonomi daerah penghasil tambang menjadi sesuatu yang mudah dipahami.

Hanya saja bila ditelisik lebih jauh, gambaran di Lutim ternyata tidak sepenuhnya sama. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa pemangkasan RKAB, terutama yang dialami PT. Vale Indonesia, lebih banyak terjadi pada proyek Bahodopi di Morowali dan Pomalaa di Kolaka.

Sementara untuk Sorowako, yang menjadi pusat operasi perusahaan di Lutim, persetujuan produksi justru diberikan secara penuh. Artinya, penyebab perlambatan ekonomi daerah ini bukan terutama karena pembatasan kuota produksi sebagaimana yang banyak dibicarakan.

Penyebab utamanya, lebih disebabkan oleh produksi nikel matte Sorowako pada 2026 ditargetkan turun sekitar enam persen dibanding realisasi tahun sebelumnya akibat agenda pemeliharaan rutin tungku peleburan. Sebuah kegiatan teknis yang lazim dalam industri pertambangan dan pengolahan mineral.

Tetapi justru di situlah persoalannya. Hanya karena satu fasilitas peleburan tengah menjalani pemeliharaan rutin, pertumbuhan ekonomi Lutim langsung terjun ke angka -2,31%.

Tidak ada krisis global. Tidak ada kejatuhan harga komoditas secara drastis. Tidak ada penghentian operasi tambang secara besar-besaran. Dollar terhadap rupiah malah sedang berada di angka signifikan untuk mengerek harga nikel.

Akan tetapi, hanya pemeliharaan rutin, dan itu sudah cukup untuk membuat Lutim menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi terendah di Sulsel.

Dari sini terlihat bahwa persoalan sesungguhnya bukan semata-mata penurunan produksi tambang. Persoalan yang lebih mendasar adalah struktur ekonomi yang masih terlalu bergantung pada sektor tersebut.

Ketergantungan itu terlihat jelas ketika angka pertumbuhan ekonomi non-tambang mulai dibuka. Di tengah kontraksi ekonomi daerah, Kepala BPS Lutim, Abdullah Pannu, di salah satu media, justru mengungkap fakta yang menarik.

Menurutnya, apabila sektor pertambangan dikeluarkan dari perhitungan, ekonomi non-tambang Lutim telah tumbuh sebesar 13,87% secara tahunan. Bahkan, capaian tersebut disebut sebagai pertumbuhan non-tambang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Angka itu menghadirkan sebuah paradoks. Di satu sisi, ekonomi Lutim sedang terkontraksi, tapi di sisi lain, sebagian besar sektor di luar pertambangan justru sedang bergerak maju.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi mencapai 24,35%. Di belakangnya terdapat sektor konstruksi sebesar 14,85%, administrasi pemerintahan sebesar 3,98%, perdagangan sebesar 3,95%, serta industri pengolahan sebesar 3,91%.

Sekilas, data tersebut tampak seperti kabar baik tentang lahirnya mesin-mesin pertumbuhan baru di luar sektor ekstraktif. Dan memang begitu adanya. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah, mesin seperti apa yang sebenarnya sedang tumbuh itu?

Bila dicermati lebih dalam, sebagian sektor yang mengalami pertumbuhan tinggi justru masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan aktivitas pertambangan dan investasi besar yang menyertainya.

Konstruksi, misalnya, tumbuh karena pembangunan fasilitas perusahaan, kawasan industri, dan perumahan. Sektor real estate ikut bergerak karena kebutuhan hunian yang meningkat seiring ekspansi investasi.

Transportasi tumbuh karena meningkatnya mobilitas barang dan pekerja. Aktivitas akomodasi serta penyediaan makan-minum berkembang, selain sedikit pengaruh MBG, pula karena bertambahnya arus manusia yang datang bersama proyek-proyek pembangunan.

Secara statistik, sektor-sektor tersebut memang tercatat sebagai sektor non-tambang. Namun secara ekonomi, sebagian besar energinya masih berasal dari ekosistem yang sama. Mereka tumbuh di luar sektor pertambangan, tetapi belum sepenuhnya tumbuh di luar pengaruh pertambangan.

Dengan kata lain, yang sedang terjadi mungkin belum sepenuhnya diversifikasi sumber ekonomi. Yang terlihat lebih jelas justru diversifikasi aktivitas ekonomi yang masih berputar di sekitar pusat gravitasi yang sama.

Karena itu pertumbuhan non-tambang sebesar 13,87 persen memang angka yang signifikan. Namun, angka tersebut belum cukup untuk menjadi bukti bahwa ketergantungan struktural telah berhasil dipatahkan.

Justru di sinilah kita menemukan ironi berikutnya. Di antara seluruh sektor yang bertumbuh itu, sektor yang paling besar kontribusinya bukanlah konstruksi, bukan pula real estate atau jasa-jasa yang memperoleh manfaat langsung dari investasi.

Sektor itu adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan. Abdullah Pannu bahkan menyebut sektor ini sebagai fondasi ekonomi yang paling kokoh karena mampu menjaga denyut perekonomian masyarakat hingga ke tingkat desa.

Pernyataan itu setidaknya mengandung pelajaran yang penting. Ketika produksi tambang menurun, petani tetap menanam. Ketika tungku peleburan menjalani pemeliharaan, nelayan tetap melaut. Ketika angka pertumbuhan ekonomi daerah bergerak ke zona negatif, aktivitas ekonomi masyarakat di desa-desa tetap berjalan.

Sektor inilah yang terbukti paling tahan terhadap guncangan. Ironisnya, sektor yang paling tahan terhadap krisis sering kali menjadi sektor yang paling sedikit memperoleh perhatian strategis dalam pembangunan.

Selama bertahun-tahun, pertanian lebih sering diposisikan sebagai sektor penyangga sosial ketimbang sektor ekonomi yang harus dibangun secara serius.

Akibatnya, banyak persoalan lama yang terus berulang. Produktivitas yang belum optimal, hilirisasi yang terbatas, lemahnya industri pengolahan hasil pertanian, hingga minimnya nilai tambah yang bisa dinikmati petani dan nelayan.

Padahal bila Lutim sungguh ingin keluar dari siklus yang berulang ini, maka perhatian tidak cukup hanya diarahkan pada bagaimana mempertahankan pertumbuhan sektor tambang, tetapi jauh lebih penting adalah menggunakan kekuatan sektor tambang hari ini untuk membangun fondasi ekonomi pascatambang di masa depan.

Pertanian tidak cukup hanya menghasilkan panen. Ia perlu terhubung dengan industri pengolahan. Perikanan tidak cukup hanya menghasilkan tangkapan, tapi perlu didukung rantai dingin, pengemasan, dan akses pasar yang lebih luas.

Industri pengolahan lokal harus tumbuh bukan hanya untuk nikel, tetapi juga untuk komoditas pertanian, perkebunan, dan perikanan yang dihasilkan masyarakat.

Begitu pula UMKM dan perdagangan lokal, yang perlu diperkuat agar tidak sekadar menjadi penonton dari perputaran investasi berskala besar.

Mungkin pelajaran terbesar dari angka -2,31% itu bukanlah bahwa Lutim sedang mengalami kemunduran ekonomi. Pelajaran yang lebih penting adalah bahwa setiap kali pertambangan kehilangan tenaga, ekonomi daerah masih terlalu mudah ikut tersandung.

Dan, selama satu jadwal pemeliharaan rutin di satu fasilitas peleburan masih mampu menyeret pertumbuhan ekonomi daerah ke zona negatif, pekerjaan rumah terbesar kita sesungguhnya belum berubah.

Membangun lebih banyak sektor yang tidak hanya diharapkan tumbuh, tetapi juga mampu berdiri di atas kakinya sendiri, sebuah filosofi lama dari para eyang kakung, tentang “Wanua Mappatuo Na Ewai Alena“.