
LUTIM – Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tomoni, Rindy, menjelaskan pemadaman listrik bergilir di Lutim berkaitan dengan defisit daya akibat sejumlah pembangkit yang belum mampu beroperasi maksimal.
Fenomena El Nino, menurut dia, turut memengaruhi ketersediaan air bagi pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Penjelasan itu disampaikan dalam audiensi bersama LSM PENA Integritas pada Senin (26/10/2026).
Pertemuan membahas pemadaman bergilir yang masih berlangsung di sejumlah wilayah di Lutim. Rindy mengatakan, sejumlah pembangkit yang memasok sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) mengandalkan PLTA.
Berkurangnya ketersediaan air membuat pembangkit tidak mampu menghasilkan daya secara maksimal.
“Beberapa pembangkit terbesar kami itu memang sumbernya dari PLTA, jadi membutuhkan air. Sehingga beberapa pembangkit bisa beroperasi, tapi tidak maksimal, tidak seperti biasanya,” ujarnya.
Menurut Rindy, pemadaman bergilir menjadi salah satu langkah ketika daya yang tersedia tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan listrik.
Pengaturan beban diperlukan untuk menghindari risiko yang lebih luas apabila sistem dipaksakan memenuhi seluruh kebutuhan.
Perwakilan PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palopo yang turut hadir, memberi penjelasan perbedaan pemadaman akibat gangguan, pemeliharaan terencana, dan manajemen beban.
Pemadaman akibat gangguan terjadi ketika ada masalah pada jaringan atau sistem kelistrikan.
Pemadaman untuk pemeliharaan dilakukan guna mendukung pekerjaan teknis, sedangkan manajemen beban diterapkan ketika pasokan daya tidak mencukupi kebutuhan.
“Bahasanya yang keluar itu bukan pemadaman sebenarnya, tapi manajemen beban,” tuturnya.
Ia menjelaskan, manajemen beban bertujuan membagi dampak pemadaman agar satu wilayah tidak terus-menerus mengalami pemutusan pasokan listrik.
Menurut dia, setiap unit PLN mendapat kuota pelepasan beban sesuai kebutuhan sistem kelistrikan.
“Jadi memang setiap unit itu diminta kuota untuk melepaskan beban. Ada targetnya? Ada targetnya,” ujarnya.
Jadwal Pemadaman Bisa Berubah
Perwakilan PLN UP3 Palopo turut menjelaskan, jadwal pemadaman yang disusun sebelumnya dapat berubah mengikuti kebutuhan beban dan instruksi bagian pengatur beban.
Ia mencontohkan, rencana awal dapat menetapkan lima kecamatan sebagai wilayah pemadaman. Pelaksanaan di lapangan bisa berubah menjadi satu kecamatan ketika kebutuhan sistem memungkinkan.
Sebaliknya, peningkatan kebutuhan pelepasan beban dapat membuat wilayah lain ikut mengalami pemadaman.
Menurut dia, unit PLN setempat mengatur waktu pelaksanaan pemadaman, sedangkan kebutuhan pelepasan beban mengikuti kondisi sistem kelistrikan yang lebih luas.
PLN juga dapat mengusulkan wilayah tertentu sebagai lokasi prioritas. Pengusulan itu tidak menjamin wilayah bersangkutan bebas pemadaman karena pelaksanaannya tetap bergantung pada kebutuhan sistem.
Pihak PLN sempat mencontohkan permintaan agar jaringan yang memasok BTS induk tetap menyala selama kegiatan tertentu di Wotu. PLN juga memetakan lokasi sekolah yang melaksanakan ujian untuk menyesuaikan jadwal manajemen beban.
Permintaan prioritas, menurut dia, tetap harus mempertimbangkan ketersediaan daya. PLN tidak dapat menjamin seluruh lokasi yang masuk usulan prioritas terhindar dari pemadaman.
Audiensi bersama PENA Integritas menjadi bagian dari upaya meminta penjelasan PLN mengenai pemadaman bergilir yang berlangsung di Lutim, yang telah dilayangkan organisasi itu, pada 24 Oktober 2026.
Penjelasan PLN memberi gambaran mengenai defisit daya dan mekanisme pengaturan beban yang diterapkan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik.
Besaran defisit daya, kuota pelepasan beban setiap unit, serta perkiraan waktu berakhirnya pemadaman tak begitu terperinci. Sedianya, data itu diperlukan agar warga beroleh gambaran lebih jelas mengenai kondisi pasokan listrik dan rencana pemulihannya.