
MALILI – Hari itu seporsi kapurung menemani santap siang tujuh atau delapan orang yang hadir. Gelas-gelas kopi berdatangan dari seorang lelaki yang akrab disapa Okeng.
Bersama dua pramusaji lainnya, ia hilir-mudik membawa pesanan. Sesekali berhenti menyapa pengunjung, lalu kembali menghilang ke dapur.
Di salah satu sudut ruangan, beberapa orang menikmati makan siang sambil memandang Sungai Malili. Seorang lainnya tengah melempar kail dari bibir sungai, tak jauh dari meja tempat ia menyantap hidangan.
Di luar bangunan, Sungai Malili mengalir tenang menuju Teluk Bone. Tepat di seberangnya, kawasan pekuburan tua Lakaloi membentang. Siang itu nyaris tak ada yang tergesa-gesa.
Eatery Baruga Collaboration Center (BCC) berdiri di antara suasana itu. Beberapa tahun lalu, tempat ini sempat vakum. Persaingan usaha pasar jajanan yang makin marak membuat jumlah pengunjung terus menyusut.
Setelah ditata ulang sebagai rumah makan dan kedai minum, aktivitasnya perlahan kembali hidup. Kapurung, bandeng, kopi, hingga jus kini mulai tersaji di atas meja.
Hanya saja, tempat itu hanya satu bagian dari cerita yang lebih panjang. Rumah makan ini merupakan salah satu unit usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) SL2 Sentosa, Desa Baruga.
Sang Ketua, Andi Aswan, SE., masih mengingat hari-hari ketika ia baru saja memulai langkahnya di dalam lembaga tersebut. Saat menerima estafet kepengurusan, pilihan yang tersedia belum banyak.
“Waktu saya masuk, cuma ada es kristal dan BRILink,” ia berkisah, Kamis (16/7/2026). Dua unit usaha itu menjadi titik berangkat.
Pengurus kemudian mengalihkan sisa dana dari kepengurusan sebelumnya. Hibah dari Kementerian Perhubungan membuka jalan bagi usaha penyewaan kendaraan. Pemerintah desa menyusul dengan penyertaan modal untuk memperkuat pengembangannya.
Perlahan, usaha-usaha itu mulai bergerak. BUMDesa pun untuk pertama kalinya menyumbang pendapatan bagi desa.
“Masuk ke desa itu sebelas juta sekian dalam setahun,” kenangnya. Di tengah perjalanan itu, Aswan justru tidak banyak berbicara tentang keuntungan.
Ia lebih sering mengulang satu hal yang menurutnya tidak boleh dilupakan. “Sebenarnya ikhtiarnya memang usaha itu, apalagi berbasis pemerintah, tetap ada kerja sosial di dalamnya,” ia berkata.
Sebagai seseorang yang pernah berjumpa dengannya di beberapa tahun silam, ketika sebagian besar usaha yang kini diceritakannya masih berupa embrio. Siang itu, keyakinan yang diucapkannya terdengar tidak banyak berubah.
Ia mengaku sempat lebih dari setahun menjalankan BUMDesa tanpa menerima gaji. “Saya jadi pengurus BUMDes itu satu tahun lebih saya tidak digaji. Nanti kita bisa digaji kalau pendapatan sudah ada,” tandasnya.
Kini keadaannya mulai berbeda, “alhamdulillah sekarang kami sudah digaji. Pegawai-pegawai yang di unit lain itu sudah kami gaji,” ia berujar.
Perjalanan berikutnya tidak ditempuh dengan membuka sebanyak mungkin usaha. BUMDesa lebih dahulu membangun peternakan ayam petelur melalui pola kemitraan bersama warga.
Masyarakat menyediakan kandang. BUMDesa menyiapkan bibit ayam, pakan, dan kebutuhan pemeliharaan. Aswan menyebutnya, “mencoba belajar sambil membangun UMKM masyarakat.”
Jika usaha mitra mulai berkembang, kerja sama itu tidak lagi dilanjutkan. “Setelah mereka berhasil, kami tinggalkan,” katanya.
Belakangan, Dana Ketahanan Pangan digunakan untuk membangun kandang milik BUMDesa. Kapasitasnya sekitar 1.500 ekor, meski saat ini baru terisi sekitar 1.200 ekor.
Ternak yang terus berkembang mulai menghadirkan kebutuhan baru terkait pakan. BUMDesa lalu mulai menanam jagung. “Jadi uang itu tidak ke mana-mana. Berputar di situ,” ia berujar.
Kalimat itu singkat, tetapi menggambarkan cara Aswan memandang usaha. Peternakan membutuhkan jagung. Jagung menopang peternakan. Satu unit usaha menghidupi unit usaha lainnya.
Pola serupa kini mulai dirajut pada sektor perikanan. Melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Pemerintah Daerah (Pemda) Lutim, BUMDesa tengah merampungkan bangunan beserta peralatan pengolahan bandeng.
Selama ini pengolahan masih berlangsung dalam skala rumah tangga. “Kalau kita mau jual ke luar, harus ada izin BPOM,” katanya. Karena itu, bangunan tersebut dipersiapkan agar memenuhi standar yang dibutuhkan sebelum produksi dilakukan dalam skala lebih besar.
Mereka berharap bandeng yang selama ini hanya dijual sebagai hasil budidaya, dapat diolah lebih lanjut dan memiliki nilai tambah bagi desa, pula untuk sedikit penjualan produk jadinya melalui Eatery BCC.
Hilirisasi itu memang belum dimulai. Bangunan dan peralatan masih dalam tahap perampungan. Akan tetapi, mata rantainya sudah mulai disusun, dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran.
Sementara itu, sekitar dua puluh warga telah bekerja di berbagai unit usaha BUMDesa. “Konsepnya dari Desa Baruga kembali ke Desa Baruga,” sebut Aswan.
Pada 2025, BUMDesa SL2 Sentosa menyumbang sekitar Rp.64 juta sebagai bagi hasil kepada pemerintah desa.
Meski begitu, Aswan merasa perjalanan itu belum sampai di tujuan. Ia ingin BUMDesa tidak sekadar memiliki banyak unit usaha, melainkan menjadi salah satu penopang utama pendapatan desa.
Siang itu perbincangan harus berakhir ketika matahari mulai bergeser. Di luar, Sungai Malili tetap mengalir ke arah Teluk Bone. Seperti aliran itu, perjalanan BUMDesa SL2 Sentosa tampaknya belum mencapai muara.
Masih ada mata rantai yang sedang disambung, masih ada rencana yang menunggu diwujudkan, dan masih ada keyakinan bahwa ketekunan dalam kerja sosial, memang dapat benar bertumbuh ke arah kemandirian desa.

