Dua Tokoh Asal Lutim Jadi Pembicara Seminar Nasional, Bahas Hilirisasi Nikel di Unhas

waktu baca 3 menit
Senin, 13 Jul 2026 22:05 0 1302 Arsal Amiruddin
 

LUTIM – Dua tokoh asal Lutim dijadwalkan menjadi pembicara dalam Seminar Nasional bertema “Hilirisasi Nikel dan Ilusi Kesejahteraan di Indonesia Timur” yang digelar di Aula Prof. Amiruddin, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Selasa (14/7/2026) esok.

Keduanya adalah Hasmah Kaso, yang dikenal sebagai Perempuan Pejuang Loeha Raya, dan Pdt. M.Ag. Podengge, Mohola atau Kepala Suku To Karunsi’e.

Kehadiran mereka menjadi representasi suara masyarakat adat dan wilayah pesisir Lutim, dalam forum yang membahas dampak hilirisasi nikel terhadap kehidupan masyarakat di kawasan timur Indonesia.

Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian Eastern Indonesia International Conference (EIIC) 2026, yang mengangkat tema besar “For a Just Energy Transition and Critical Mineral“.

Keikutsertaan Hasmah Kaso dinilai memiliki keterkaitan erat dengan dinamika yang berkembang di Loeha Raya. Dalam beberapa waktu terakhir, ia bersama masyarakat setempat aktif menyuarakan penolakan terhadap rencana pengembangan tambang nikel di Blok Tanamalia.

Sebelumnya, Asosiasi Petani Lada Loeha Raya bersama elemen masyarakat mengirimkan surat kepada PT. Vale Indonesia Tbk, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lutim, dan Pemerintah Daerah (Pemda) Lutim.

Surat tersebut meminta evaluasi terhadap Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) serta penghentian rencana pengembangan tambang di wilayah Desa Loeha dan Desa Rante Angin.

Masyarakat menilai kawasan tersebut merupakan ruang hidup yang menopang aktivitas pertanian, terutama kebun lada yang telah dikelola secara turun-temurun.

Kehadirannya dalam forum nasional tersebut, dipandang menjadi kesempatan untuk menyampaikan langsung pandangan masyarakat kepada kalangan akademisi, organisasi sipil, hingga para pengambil kebijakan.

Sementara itu, Pdt. M.Ag. Podengge, pula turut hadir mewakili komunitas adat To Karunsi’e yang bermukim di Kampung Dongi, Desa Ledu-Ledu, Kecamatan Wasuponda.

Komunitas adat ini selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan nikel di Lutim.

Kehadiran Mohola To Karunsi’e dalam seminar itu diharapkan membawa perspektif masyarakat adat mengenai perubahan ruang hidup, relasi dengan industri ekstraktif, serta tantangan yang dihadapi komunitas lokal di tengah berkembangnya hilirisasi nikel.

Selain dua tokoh dari Lutim itu, seminar nasional ini juga menghadirkan Herenemus Takuling dari Masyarakat Adat Lalilef Sawai, Komang Jordi Segara dari Federasi Serikat Pekerja Industri Merdeka, serta Abdullah Ambar, nelayan asal Weda, Maluku Utara.

Diskusi dipandu oleh Jefferson Tasik selaku Executive Director Fala Lamo. Judul seminarnya sendiri, yang mengangkat frasa “Ilusi Kesejahteraan”, menunjukkan bahwa forum tersebut akan mengulas secara kritis dampak dari hilirisasi nikel.

Sejauhmana aktifitas itu benar-benar menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat di sekitar kawasan tambang, atau justru menyisakan persoalan sosial, lingkungan, dan ruang hidup.

Masih dalam rangkaian EIIC 2026, pada hari yang sama juga akan digelar Seminar Internasional bertajuk “Percepatan Transisi Energi dan Mineral Kritis yang Berkeadilan di Indonesia”, mulai pukul 08.30 hingga 12.00 WITA di lokasi yang sama.

Seminar internasional tersebut menghadirkan pembicara dari Kementerian PPN/Bappenas, Global Witness, Universitas Hasanuddin, Universitas Muslim Indonesia, Universitas Tadulako, hingga WALHI Sulawesi Selatan.