
MALILI – Bagi Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) Lutim, Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tak hanya diisi dengan perayaan dan peringatan kelahiran Nabi.
Momentum tersebut selayaknya juga dapat menjadi kesempatan untuk membicarakan berbagai persoalan umat, termasuk mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.
Hal itulah yang mengemuka dalam obrolan santai Malilipos bersama Sekretaris Jenderal FUIB Lutim, Abdul Rauf Dewang, di Coffee and Eatery Mixi, Hotel I Lagaligo, Desa Puncak Indah, Malili, Selasa (25/8/2026).
Pembicaraan mengalir dari persoalan bentuk perayaan Maulid Nabi, situasi umat Islam di tingkat global khususnya Palestina, kondisi umat secara nasional, hingga persoalan Islamic Center di Lutim.
Terkait Islamic Center, FUIB menilai bangunan yang berdiri di kawasan eks Terminal Malili itu cukup spesial. Tempat itu diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan umat Islam sekaligus salah satu kebanggaan masyarakat Lutim.
“Islamic Center ini adalah wadah umat Islam, tempat pusat ibadah, tempat pusat kegiatan khususnya umat Islam yang ada di Malili dan khususnya di Kabupaten Luwu Timur,” kata lelaki yang akrab disapa Habib itu.
Hanya saja, Habib menilai kondisi Islamic Center saat ini masih memprihatinkan. Ia mengaku sempat mendapat informasi dari jamaah mengenai persoalan listrik di bangunan tersebut.
“Hari ini kondisinya memprihatinkan. Bahkan kemarin saya mendapat informasi dari jamaah setempat bahwa listriknya hampir diblokir oleh PLN karena tidak terbayar,” ungkapnya.
Pembicaraan lalu sedikit menyinggung perjalanan pembangunan Islamic Center yang sudah cukup panjang.
Abdul Rauf mengingat kembali lokasi pembangunan Islamic Center, yang sempat beberapa kali berpindah sebelum akhirnya dibangun di kawasan eks Terminal Malili.
Di tengah perjalanannya, ia berharap pembangunan Islamic Center tetap dilanjutkan. Menurutnya, jika ada persoalan hukum terkait pembangunan sebelumnya, persoalan itu dapat diproses secara terpisah.
“Ketika ada permasalahan hukum, ayo pisahkan. Silakan kasuskan itu. Tetapi pembangunan Islamic Center ini harus tetap dilanjutkan,” ujarnya.
Bagi FUIB, yang terpenting Islamic Center dapat segera diselesaikan dan benar-benar dimanfaatkan sebagai ruang bersama umat Islam.
Bahkan, selama obrolan, Habib menyampaikan bahwa FUIB siap mengajak umat Islam bergotong royong apabila suatu saat pemerintah tidak mampu melanjutkan pembangunan.
“Insya Allah umat Islam siap bersatu, siap berdonasi. Ayo, kita bangun Islamic Center ini,” katanya.
Menariknya, kelanjutan pembangunan Islamic Center ternyata memang tercatat dalam proses pengadaan tahun anggaran 2026.
Berdasarkan penelusuran pada portal Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) Lutim, terdapat paket “Lanjutan Pembangunan Islamic Center” dengan kode tender 10155258000.
Paket itu tercatat dalam pelelangan kedua pada 20 Juli 2026 oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Lutim. Anggarannya menggunakan APBD 2026, dengan pagu Rp.15 miliar dan nilai HPS Rp.14.915.105.000.
Dalam data pengadaan yang terlihat, tercatat ada 23 peserta tender. Artinya, dari sisi proses pengadaan, rencana melanjutkan pembangunan Islamic Center tampaknya bakal berjalan tahun ini, meski proses tender tak berarti pekerjaan fisiknya telah dimulai.
Harapan FUIB terhadap Islamic Center sendiri, agar bangunan ini tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga benar-benar bisa dihidupkan sebagai pusat kegiatan umat.
Dengan proses pengadaan yang kini berjalan, perhatian berikutnya tinggal menunggu kelanjutan dan pekerjaan fisiknya dimulai. Tak lain agar bangunannya dapat berfungsi secara maksimal, bagi umat Islam di Malili dan Lutim.

