Memperingati Kelahiran Nabi hingga Pekan Persatuan Islam

waktu baca 5 menit
Selasa, 25 Agu 2026 13:57 0 1276 Arsal Amiruddin
 

LUTIM – Tepat di Selasa (25/8/2026) hari ini, masyarakat Indonesia memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tanggal tersebut bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah dan ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional.

Sehari sebelum linimasa media sosial ramai dengan ucapan Maulid Nabi Muhammad SAW, Menteri Agama, Nasaruddin Umar, pula menyampaikan pesannya, di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Menurutnya, dakwah Rasulullah dimulai dengan membangun akhlak. Dari sana, keadilan, ilmu pengetahuan, amanah dan kasih sayang dapat tumbuh dalam kehidupan masyarakat.

Bagi banyak orang, 12 Rabiul Awal mungkin hanya dikenal sebagai tanggal Maulid. Akan tetapi, terdapat perjalanan sejarah cukup panjang atas penetapannya yang menarik disimak.

Dari Makna Kelahiran hingga Tradisi Maulid

Secara bahasa, maulid berarti kelahiran atau waktu kelahiran. Dalam perkembangannya, istilah ini digunakan untuk menyebut peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Gagasan tentang hari kelahiran seorang nabi sebagai sesuatu yang memiliki makna juga dikenal dalam Al-Qur’an.

Tentang Nabi Yahya, misalnya, disebut dalam surah Maryam ayat 15, “Dan kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan.”

Hal serupa, disebutkan pula tentang Nabi Isa, melalui surah Maryam ayat 33, “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan.”

Sementara dalam hadis riwayat Muslim, ketika ditanya mengenai puasa hari Senin, Nabi Muhammad SAW menjawab:

“Itu adalah hari ketika aku dilahirkan dan hari ketika aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku.” (HR. Muslim).

Meski tak secara langsung berbicara tentang perayaan Maulid seperti yang dikenal sekarang, tetapi menunjukkan bila Nabi mengingat hari kelahirannya dan mengaitkannya dengan ibadah.

Dalam perkembangannya, Maulid turut hadir dalam beragam bentuk, mulai dari pembacaan sirah, Al-Qur’an dan salawat, ceramah, syair, hingga jamuan dan kegiatan sosial. Salah satu ulama yang secara khusus membahasnya yakni Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

Dalam Husnul Maqshid fi Amalil Maulid, seperti dikutip dari laman Alkhoirot, ia menjelaskan bahwa berkumpul, membaca kisah Nabi, menyediakan makanan dan menunjukkan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah dapat dipandang sebagai bid’ah hasanah.

Sebagai perayaan tahunan, Maulid sendiri berkembang jauh setelah masa Nabi dan generasi awal Islam. Dari waktu ke waktu, tradisi itu tumbuh dan menemukan bentuknya masing-masing di berbagai masyarakat Muslim.

Sejumlah ahli sejarah, termasuk Al-Maqrizi dan disebut pula oleh Ibnu Katsir, mencatat titik awalnya ada di Mesir, pada masa Dinasti Fatimiyah yang bermazhab Syiah Ismailiyah.

Sebagian riwayat menyebut perayaan itu mulai digelar sekitar 517 H (1123 M), sementara sebagian lain mengaitkannya dengan Khalifah Al-Mu’izz li-Dinillah pada 363 H.

Perayaan Fatimiyah waktu itu belum spesifik hanya untuk Nabi, mereka menggelar rangkaian peringatan serupa untuk Ali, Fatimah, Hasan, Husain, hingga imam yang sedang berkuasa, sebagai bagian dari legitimasi politik-keagamaan dinasti.

Setelah Dinasti Fatimiyah runtuh, tradisi ini sempat nyaris hilang karena dianggap berbau Syiah. Tapi bentuk peringatannya tetap bertahan, dan lalu berpindah tangan ke penguasa Sunni.

Di sinilah nama Muzaffar al-Din Kokburi, penguasa Irbil (kini Irak) sekaligus kerabat dan panglima Salahuddin al-Ayyubi, muncul sebagai tokoh penting.

Pada awal abad ke-7 Hijriah, sekitar 1207 M, ia menggelar perayaan Maulid dalam skala besar dan tersusun rapi, meliputi ceramah, pembacaan riwayat hidup Nabi, syair, hingga jamuan untuk masyarakat luas.

Banyak sejarawan klasik seperti Ibnu Khallikan, As-Suyuthi, dan As-Sakhawi lalu mencatatnya sebagai perayaan Maulid Sunni pertama yang benar-benar massif.

Ada pula versi menarik lainnya, sebagian riwayat menyebut Salahuddin al-Ayyubi sendiri yang menganjurkan umat merayakan Maulid secara terbuka, lengkap dengan sayembara penulisan syair pujian untuk Nabi.

Kebiasaan gelaran sayembaranya turut berkembang paska Salahuddin, hingga dalam masa setelahnya, lahirlah karya Syekh Ja’far al-Barzanji, yang kitab syairnya “Barzanji” masih dibaca umat Islam Nusantara hingga sekarang.

Dari Irbil dan Mesir, tradisi ini terus menyebar. Di Nusantara, ia berbaur dengan budaya lokal, pembacaan Barzanji dan Diba’, salawatan, pengajian, hingga makan bersama, membentuk wajah Maulid yang kita kenal hari ini.

Mengapa 12 Rabiul Awal?

Tanggal 12 Rabiul Awal menjadi sangat populer karena terdapat riwayat yang menyebut Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah.

Pendapat ini dinisbatkan kepada Muhammad bin Ishaq, penulis sirah pada abad ke-2 Hijriah, yang terus dikutip oleh ulama setelahnya.

Hari Senin sendiri memiliki dasar hadis yang kuat. Ketika ditanya tentang puasa Senin, Nabi menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari kelahirannya dan hari ketika beliau menerima wahyu.

Sementara tanggalnya tidak memiliki kesepakatan mutlak. Sejumlah riwayat menyebut 8, 9, 10, 12, 17 hingga 22 Rabiul Awal.

Dar al-Ifta Mesir menyebut, Rabiul Awal sebagai bulan kelahiran Nabi, sementara tanggal tepatnya memiliki sejumlah pendapat. Dari berbagai pendapat itu, 12 Rabiul Awal menjadi salah satu yang paling masyhur.

17 Rabiul Awal dan Pekan Persatuan

Dalam tradisi Syiah Dua Belas Imam, tanggal yang populer untuk memperingati kelahiran Nabi adalah 17 Rabiul Awal. Tanggal yang sama juga diperingati sebagai kelahiran Imam Ja’far al-Shadiq, imam keenam dalam tradisi ahlul bait.

Menariknya, perbedaan 12 dan 17 Rabiul Awal di beberapa tempat seperti Iran dan Irak, malah dikenal sebagai Pekan Persatuan Islam (Haftah-ye Vahdat).

Gagasan ini berkembang setelah Revolusi Islam Iran dan dikaitkan dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan Sunni dan Syiah.

Dalam pidatonya pada 29 Desember 1981, Khomeini mengatakan, “We cry for unity and have declared the Unity Week, because we have one religion, one Qur’an and one prophet.”

Rentang lima hari itu lalu diposisikan sebagai ruang untuk menekankan kesamaan umat Islam, dan memperingatinya sebagai hari-hari suka-cita seluruh kaum muslim.

Satu Nama, Banyak Cara Mengenang

Dari Mesir dan Irbil, tradisi Maulid berkembang ke berbagai penjuru dunia Islam. Di Nusantara, ia menemukan bentuk yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Hari ini, 25 Agustus 2026, hingga hari-hari setelahnya, berbagai tradisi mulai digelar untuk mengenang satu sosok yang sama, Muhammad SAW.

Pesan Menteri Agama Nasaruddin Umar sehari sebelumnya turut mengembalikan momentum Maulid kepada sesuatu yang lebih mendasar.

“Akhlak adalah fondasi dari setiap peradaban,” katanya. Mungkin itulah yang membuat Maulid tetap bertahan setelah lebih dari empat belas abad.

Tak sekadar dari rentang tanggal spesial dalam kalender di bulan ini, tetapi karena ingatan terhadap Nabi Muhammad SAW terus menemukan cara untuk hidup di tengah masyarakat.