
MALILI – Menjaga Hutan Adat Cerekang tak sekadar mempertahankan kawasan dari kerusakan. Di tengah masyarakat Wija To Cerekang, upaya itu juga berlangsung melalui pendidikan lingkungan, pewarisan pengetahuan adat, dan pemberdayaan masyarakat.
Hal ini turut mengemuka selama berlangsungnya sesi kegiatan syukuran atas perolehan Kalpataru Adya 2026 yang digelar di Sekretariat Pejuang Muda Wija To Cerekang (PM-WTC), Desa Manurung, Malili, Minggu (23/8/2026).
Kepala Desa Manurung, Irwan Djafar, mengatakan keberlanjutan perjuangan menjaga lingkungan sangat bergantung pada kemampuan generasi hari ini menyiapkan generasi berikutnya.
“Paling penting adalah bagaimana menjaga generasi untuk melanjutkan kestabilan proses perjuangan,” kata Irwan.
Menurutnya, proses ini perlu dimulai sejak anak-anak masih berada pada usia sekolah. Mereka tidak hanya perlu dikenalkan dengan lingkungan, tetapi juga dengan kehidupan adat yang ada di wilayah Wija To Cerekang.
Di lingkungan itu, terdapat komunitas kelas yang beranggotakan anak-anak usia sekolah. Mereka mulai menjalani proses untuk mengenal lebih dekat keberadaan lingkungan dan bagaimana menjaganya.
“Minimal proses-proses itu harus dilakukan, proses edukasi bagaimana mengenalkan cara menjaga dan menjaga kehidupan adat yang ada di wilayah WTC. Itu menjadi penting,” ia berkata.
Bagi Irwan, pendidikan semacam itu penting agar pengetahuan tentang lingkungan dan kehidupan adat tidak berhenti pada orang-orang yang selama ini menjalankan kerja-kerja perlindungan.
Bagaimanapun, sebutnya, kawasan yang dijaga hari ini, pada akhirnya, akan diwariskan kepada generasi yang masih tumbuh.
Penasehat Tua PM-WTC, dr. April, juga mengingatkan bahwa hubungan masyarakat Cerekang dengan lingkungan sebenarnya telah dibangun sejak lama.
Selama pertemuan, ia turut menceritakan ingatannya ketika masih muda tentang bagaimana masyarakat memperlakukan sungai dan lingkungan di sekitar.
“Ya, saya ingat itu, Wija To Cerekang ini kita tidak boleh buang air besar di sungai. Itu sudah kearifan orang tua kita dulu,” katanya.
Ia juga mengingat kondisi sungai pada masa lalu ketika masyarakat masih berani memanfaatkan airnya. “Dulu kita berani minum air sungainya. Karena pencemaran biologisnya tidak ada,” ujar dr. April.
Ingatan itu setidaknya, menunjukkan bila hubungan dengan alam bagi masyarakat Cerekang, setidaknya pernah, tak semata-mata persoalan menjaga kawasan setelah munculnya berbagai gerakan lingkungan.
Ada kearifan yang telah hidup dalam keseharian masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Karenanya, ia menyebut, menjaga lingkungan juga berarti menjaga ingatan tentang bagaimana masyarakat terdahulu memperlakukan alam.
Di sisi lain, upaya pelestarian di sekitar komunitas Wija To Cerekang juga berjalan melalui kelompok perempuan.
Irwan mengatakan kelompok ibu-ibu yang berada dalam pemberdayaan kelompok WTC aktif mengolah tanaman herbal yang tersedia di sekitar komunitas menjadi berbagai produk, termasuk kosmetik.
“Mereka aktif-aktif mengolah tanaman-tanaman herbal yang ada di sekitar komunitas WTC untuk dijadikan semacam, apa namanya, kosmetik,” kata Irwan.
Kegiatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan pengetahuan mengenai tanaman di sekitar lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi.
“Alhamdulillah kegiatan ini minimal menambah pendapatan di tingkat rumah tangga rekan-rekan,” ujarnya. Menurut Irwan, produk yang dihasilkan kelompok ini telah memiliki merek dan bahkan pernah dipamerkan pada tingkat nasional.
Kegiatan itu menjadi salah satu contoh bagaimana upaya menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.
Pengetahuan mengenai tanaman yang tumbuh di sekitar komunitas tidak berhenti sebagai pengetahuan lokal, tetapi turut dikembangkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi bagi warga.
Pada saat yang sama, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Lutim, Hamra, menempatkan kehidupan adat sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Cerekang.
“Di mana kemudian adat ini menjadi identitas masyarakat Cerekang,” katanya. Identitas tersebut, menurutnya, perlu dipertahankan bersama dengan wilayah adat yang menjadi ruang hidup masyarakat.
Bagi PM-WTC, proses itu membutuhkan keterlibatan berbagai generasi. Anak-anak perlu mengenal lingkungannya, generasi dewasa terus menjalankan kerja-kerja perlindungan, sementara pengetahuan dan pengalaman orang-orang tua tetap menjadi bagian dari pembelajaran.
Dengan cara itu, menjaga Cerekang tidak hanya berarti mempertahankan hutan yang masih tersisa, tetapi juga memastikan pengetahuan tentang hutan, sungai, adat, dan kehidupan masyarakat tetap hidup.
Melalui upaya ini, jelas diharapkan dapat membuat sebuah kawasan tak hanya dapat diwariskan dalam bentuk batas dan peta. Akan tetapi, terdapat alasan lebih jauh untuk membangun basis pengetahuan dan nilai yang menyertainya untuk turut diwariskan.
Di tengah masyarakat Wija To Cerekang, proses itu kini berjalan melalui anak-anak yang mulai belajar mengenal lingkungannya dan kelompok masyarakat yang terus mengembangkan pengetahuan lokal menjadi kegiatan produktif.
Agar seterusnya, keberlanjutan Hutan Adat Cerekang bukan hanya bergantung pada siapa yang menjaganya hari ini, tetapi juga pada siapa yang kelak memahami nilai yang terkandung dan bersedia meneruskan penjagaannya.