Satu Dekade PM-WTC, Merawat Hutan Adat Cerekang Hingga Raihan Kalpataru 2026

waktu baca 4 menit
Minggu, 23 Agu 2026 17:53 0 1307 Arsal Amiruddin
 

MALILI – Suasana di Sekretariat Pejuang Muda Wija To Cerekang (PM-WTC) belum terlalu ramai saat kami tiba. Sebelumnya, panggilan telepon dari seorang penasehat muda PM-WTC telah membahana, Minggu (23/8/2026) pagi.

Perjalanan dari arah pusat Kota Malili menuju rumah panggung yang menjadi ruang sekretariat organisasi lingkungan itu di Jalan Poros Desa Manurung, tak berada cukup jauh. Sebuah tenda kecil dan beberapa deret kursi telah disusun rapi.

Tak berselang lama setelah kami tiba, suasana sekretariat PM-WTC mulai riuh oleh wajah-wajah yang sejauh ini memiliki keterkaitan dengan perjuangan menjaga lingkungan dan kehidupan adat di Desa Manurung.

Pengurus PM-WTC berkumpul bersama Pemerintah Desa (Pemdes) Manurung, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lutim, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), tokoh adat, para penasihat organisasi, serta sejumlah warga dan komunitas di sekitar Wija To Cerekang.

“Hajatan hari ini cuma syukuran,” pinta Penasehat Muda PM-WTC, Bakratang, sebelumnya, saat menemani kami berkendara menuju gelaran syukuran.

Akan tetapi, syukuran itu memiliki cerita cukup panjang untuk sekadar dirayakan dalam satu siang. Pada 11 Juni 2026 di Jakarta, PM-WTC menerima Kalpataru Adya 2026 kategori Penyelamat Lingkungan.

Penghargaan itu diberikan atas upaya perlindungan Hutan Adat Cerekang. Jadinya, hajatannya tak sekadar menjadi syukuran atas raihan penghargaan. Ada kisah panjang yang hendak dikenang, sebuah perjalanan yang akhirnya membawa nama PM-WTC ke tingkat nasional.

Bagi Ketua PM-WTC, Adnan, penghargaan itu telah menjadi salah satu pencapaian terbesar organisasi yang telah dinahkodainya selama perjalanan hampir satu dekade sejak dibentuk pada 2016.

Ia mengenang perjalanan itu bermula dari sebuah kegelisahan. Adnan mengingat, ketika PM-WTC dibentuk, ada kekhawatiran terhadap apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Jadi PM-WTC itu terbentuk di tahun 2016. PM-WTC terbentuk itu mulanya ada kekhawatiran untuk apa yang telah diwariskan ke kita untuk generasi berikutnya. Banyaknya perambahan atau illegal logging,” kata Adnan.

Kekhawatiran itu mendorong mereka membentuk organisasi yang memiliki legalitas. Dalam inisiatif bersama pelindung dan penasihat, sejumlah pemuda dan pemudi Desa Manurung menyatakan membentuk organisasi pegiat lingkungan.

“Maka di tahun 2016 lagi, bulan-bulan itu, kita melegalkan satu organisasi yang bernama Pejuang Muda Wija To Cerekang,” ujarnya.

Sejak itulah PM-WTC menjalani perjalanan panjang dalam menjaga kawasan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Wija To Cerekang. Tetapi, para pejuang muda ini sesungguhnya sedang meneruskan kerja yang akarnya telah jauh lebih sepuh daripada usia organisasi mereka.

Data resmi Kementerian Lingkungan Hidup menyebut upaya perlindungan Hutan Adat Cerekang telah dilakukan sejak 1999. Dalam perkembangannya, kerja ini mencakup pemetaan di 10 titik hutan adat, patroli pengamanan rutin, rehabilitasi area penyangga, serta edukasi lingkungan lintas generasi.

Rangkaian kerja itu pula yang menjadi bagian penting dalam proses PM-WTC memperoleh penghargaan Kalpataru.

Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Lutim, Fikri, mengatakan pihaknya telah mendampingi PM-WTC dalam berbagai kegiatan lingkungan sejak sekitar 2018.

Menurutnya, proses pengusulan PM-WTC untuk memperoleh Kalpataru telah dilakukan beberapa kali sebelum akhirnya berhasil pada 2026.

Selama proses itu, DLH turut membersamai berbagai aktivitas keorganisasian yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan.

“PM-WTC telah berjuang untuk pelestarian lingkungan dan kami akan tetap mendukung apa pun kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan untuk pelestarian lingkungan,” kata Fikri.

Bagi Pemdes Manurung, penghargaan itu juga menjadi kebanggaan. Sebab, kerja yang dilakukan organisasi berkaitan dengan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pelestarian kawasan.

Kepala Desa Manurung, Irwan Djafar, yang juga merupakan pelindung PM-WTC, mengatakan kawasan yang selama ini dijaga dalam sejumlah titik, merupakan bagian dari warisan yang harus dipertahankan.

“Karena ini adalah warisan leluhur. Ini adalah titipan dari orang tua, warisan orang tua kita untuk terus dijaga,” kata Irwan.

Bagi PM-WTC, menjaga kawasan hutan tak semata menjaga bentang alam. Di dalamnya terdapat sejarah, kehidupan, dan warisan masyarakat Wija To Cerekang yang terus mereka rawat.

Penghargaan Kalpataru telah menjadi semacam pengakuan terhadap perjalanan panjang mereka. Penghargaannya diserahkan di Jakarta pada 11 Juni 2026, berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Nomor 2306 Tahun 2026.

Di atas rumah panggung pada Minggu siang, perjalanan itu dikenang dalam suasana yang sederhana. Di area depan, tenda kecil menjadi tempat orang-orang berkumpul, dan kursi-kursi terisi perlahan.

Percakapan mengenai perjalanan organisasi mengalir di antara mereka yang pernah ikut membersamai kerja-kerja lingkungan di Cerekang. Tidak ada kemewahan dalam hajatan, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk dirayakan.

Sebuah kerja yang tumbuh dari kegelisahan anak-anak muda terhadap lingkungan, bertahan menjadi gerakan, mendapat pendampingan berbagai pihak, sebelum akhirnya dapat beroleh pengakuan yang selayaknya.

Bagi PM-WTC, satu dekade bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah catatan tentang sekelompok anak muda yang berusaha menjaga sesuatu yang mereka yakini bukan hanya milik generasi hari ini, melainkan warisan yang harus tetap ada untuk generasi berikutnya.