Desa Harapan Belum Reda, Dukungan untuk PSN dan Demonstrasi PT. CLM Warnai Hari yang Sama

waktu baca 3 menit
Sabtu, 1 Agu 2026 17:01 0 1275 Arsal Amiruddin
 

MALILI – Desa Harapan masih menjadi perhatian publik paska pengosongan lahan di Dusun Laoli. Di tengah situasi yang belum sepenuhnya reda, dua kelompok masyarakat menyuarakan aspirasi berbeda dari kawasan lingkar industri nikel di Lutim, Sabtu (1/8/2026).

Sementara, di wilayah operasi PT. Citra Lampia Mandiri (CLM), Forum Pemuda Pongkeru (FPP) melanjutkan aksi demonstrasi yang telah memasuki hari ketiga dengan membawa sejumlah tuntutan kepada perusahaan.

Dua aksi tersebut berlangsung hanya beberapa hari setelah pengosongan lahan di Dusun Laoli memicu bentrokan antara warga dan aparat.

Peristiwa itu menjadi sorotan luas karena menyebabkan sejumlah bangunan dibongkar hingga warga maupun aparat mengalami luka-luka.

Sementara, sejak pagi Masyarakat Asli Lampia menggelar konferensi pers dan berorarasi di halaman Kantor Desa Harapan. Puluhan warga tampak berkumpul sambil membentangkan spanduk bertuliskan, “Masyarakat Asli Lampia Mendukung Percepatan PSN.”

Melalui penyampaiannya, kelompok tersebut menilai percepatan PSN akan membawa dampak positif bagi pembangunan daerah, membuka peluang kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Dukungan tersebut bukan kali pertama disampaikan. Pada Januari 2026, saat Pemda Lutim menggelar sosialisasi percepatan pembangunan kawasan industri di Lampia, kelompok masyarakat juga menyatakan sikap serupa dengan membentangkan spanduk dukungan.

Konferensi pers kali ini menjadi penegasan kembali atas sikap yang telah diutarakan sebelumnya, terutama setelah polemik pengosongan lahan di Dusun Laoli kembali memantik perdebatan di ruang publik.

Peristiwa itu memicu perhatian luas, termasuk dari organisasi masyarakat sipil dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), yang sebelumnya telah menerbitkan rekomendasi terkait penyelesaian persoalannya.

Di saat dukungan terhadap PSN kembali disuarakan di Desa Harapan, gelombang aspirasi berbeda muncul di wilayah operasi PT. CLM. Pihak FPP pula masih menggelar demonstrasi yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut.

Dalam aksi hari ketiga itu, massa kembali menyampaikan orasi secara bergantian sambil membentangkan spanduk di sekitar area perusahaan.

FPP meminta agar keberadaan perusahaan bisa memberikan manfaat yang lebih nyata bagi warga di sekitar wilayah tambang. Aspirasi tersebut menjadi bagian dari tuntutan yang terus disuarakan sejak aksi dimulai beberapa hari sebelumnya.

FPP juga menilai demonstrasi bukanlah hal baru. Kelompok ini sebelumnya juga beberapa kali menyampaikan aspirasi kepada PT. CLM terkait berbagai persoalan di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Sejumlah isu yang mereka angkat antara lain menyangkut keadilan kuota pekerjaan bagi perusahaan lokal, pelibatan tenaga kerja lokal, serta harapan agar komunikasi antara perusahaan dan masyarakat dapat berjalan lebih terbuka.

Dua aksi yang berlangsung pada hari yang sama itu memperlihatkan dinamika yang berkembang di kawasan industri nikel Lutim. Di satu sisi, terdapat kelompok masyarakat yang kembali menyatakan dukungan terhadap percepatan investasi melalui PSN.

Di sisi lain, masih ada kelompok masyarakat yang terus menyuarakan tuntutan agar aktivitas pertambangan dapat memberikan rasa keadilan bagi warga lokal.

Perbedaan aspirasi itu menjadi gambaran bahwa perkembangan industri nikel di Lutim tidak hanya menghadirkan harapan terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memunculkan beragam pandangan di tengah masyarakat.

Di tengah percepatan investasi, ruang dialog antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, tampaknya masih bakal terus bersoal hingga waktu-waktu mendatang, selama kunci untuk menjaga keseimbangannya belum lagi ditemukan.