Fasilitator Asal Wotu Dorong Kesiapan Guru SD Hadapi Wajib Bahasa Inggris

waktu baca 2 menit
Sabtu, 13 Jun 2026 14:43 0 1335 Arsal Amiruddin
 

WOTU – Rencana penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai Tahun Ajaran 2027/2028 mendorong penguatan kesiapan guru di berbagai daerah. Kebijakan ini menuntut adanya penyesuaian, terutama dalam hal kompetensi serta metode pengajaran di kelas dasar.

Fasilitator kementerian asal Wotu, Lutim, Mismar M., S.Pd., M.Pd., Gr., menilai perubahan status Bahasa Inggris dari mata pelajaran pilihan menjadi wajib bukan hanya persoalan kurikulum, tetapi juga menyangkut kesiapan guru sebagai ujung tombak pembelajaran di kelas.

“Di era sekarang, kemampuan Bahasa Inggris menjadi keterampilan dasar yang perlu dibangun sejak dini. Karena itu, kesiapan guru menjadi faktor yang sangat penting,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Sejalan dengan kebijakan tersebut, peningkatan kapasitas guru dilakukan melalui Program Pengembangan Kompetensi Guru SD Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD MBI) yang digelar Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Sulawesi Selatan.

Program ini menyasar guru-guru dari delapan kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, yakni Makassar, Gowa, Bone, Palopo, Takalar, Soppeng, Maros, dan Wajo. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap melalui skema On the Job Training (OJT) sepanjang bulan Juni 2026.

Sejauh ini OJT sudah terlaksana dalam dua sesi. Sesi pertama berlangsung pada 5–6 Juni 2026 yang melibatkan guru dari Palopo, Takalar, Wajo, dan Soppeng. Sementara sesi kedua dilaksanakan pada 12–13 Juni 2026 dengan peserta dari Makassar, Bone, Gowa, Soppeng, dan Maros.

Dalam skema ini, guru tidak hanya mengikuti pembekalan di ruang pelatihan, tetapi langsung menerapkan pembelajaran di kelas masing-masing atau kelas dampingan.

Kegiatan dimulai dari penyusunan perangkat ajar berbasis Bahasa Inggris, termasuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pemilihan materi, hingga strategi pengajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar.

Setelah perangkat disusun, guru kemudian melakukan praktik mengajar di kelas. Pada tahap ini, fasilitator dari kementerian turut melakukan pendampingan langsung di lapangan, termasuk Mismar yang memantau proses pembelajaran dari awal hingga akhir.

Pendampingan tersebut mencakup observasi proses mengajar, evaluasi penggunaan metode, hingga pemberian umpan balik terhadap efektivitas penyampaian materi di kelas. Menurut Mismar, pola OJT ini memberi pengalaman langsung kepada guru dalam menghadapi dinamika pembelajaran nyata.

“Guru tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik dan melihat apa yang perlu diperbaiki di kelas,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran Bahasa Inggris yang sederhana dan menyenangkan bagi siswa sekolah dasar, agar tidak menjadi beban baru dalam proses belajar.

Mismar menyebut semangat “Bahasa Inggris is EASY” sebagai pendekatan untuk membangun kepercayaan diri guru sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih ringan di kelas.