Malam Panjang Puluhan Warga Terdampak Rencana PSN di Tenda Pengungsian

waktu baca 3 menit
Minggu, 2 Agu 2026 07:04 0 1284 Arsal Amiruddin
 

MALILI – Berselang sehari setelah penggusuran berlangsung di Dusun Laoli, Desa Harapan, suasana di lokasi tak lagi dipenuhi ketegangan. Saat rekan media menyambangi kawasan itu pada Sabtu (1/8/2026) malam, hujan baru saja reda.

Mendekati sebuah rumah warga, tak jauh dari lokasi saat kali pertama mereka tergusur, genangan air masih memenuhi jalan berbatu. Perkakas rumah tangga tampak berserakan, sementara papan dan balok kayu bekas bongkaran menumpuk di sisi rumah.

Tak jauh dari sana, sebuah tenda darurat berdiri di atas bangunan berfondasi tanpa dinding. Di tempat itulah 27 kepala keluarga (KK) yang terdampak penggusuran kini bertahan.

Lokasi itu tidak jauh dari kawasan yang diklaim oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Lutim, sebagai aset daerah berdasarkan Sertifikat Hak Pengelolaan (HPL) terbitan 2024 untuk penggunaannya menjemput rencana Proyek Strategis Nasional (PSN).

“Baru tadi sore selesai dibikin tendanya ini,” ujar seorang warga. Di bawah terpal biru, warga mulai menata kehidupan seadanya. Tikar digelar sebagai alas duduk, sementara barang-barang yang berhasil diselamatkan diletakkan di sudut-sudut bangunan.

Tak hanya warga, malam itu sejumlah pendamping dari berbagai organisasi masyarakat sipil, baru saja tiba tak terlalu lama.

Mereka datang dari berbagai daerah untuk menyatakan solidaritas, sekaligus mendengar langsung kondisi warga paska penggusuran.

Setelah terpal yang sempat basah oleh hujan dilap hingga kering, warga, para pendamping, dan rekan media duduk melingkar. Suasana berlangsung hangat. Diawali dengan saling memperkenalkan diri, pertemuan lalu berlanjut menjadi forum diskusi.

Hadir di antaranya perwakilan LBH Makassar, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Aliansi Masyarakat Adat, Jaringan Koalisi Masyarakat Lingkar Tambang Indonesia (JKM LTI), Aliansi Jurnalis Independent, serta sejumlah organisasi dan jaringan solidaritas lainnya.

Selama forum itu, warga bergantian menceritakan perjalanan hidup mereka di Laoli hingga akhirnya kehilangan rumah akibat penggusuran.

Bukan hanya peristiwa beberapa hari terakhir yang mereka kenang, tetapi juga awal mula mereka membuka lahan, membangun rumah, hingga membesarkan keluarga di kawasan tersebut.

“Barangkali di antara warga di sini, saya dan Pak Imam itu yang paling lama, sudah dari tahun 1998,” tutur seorang ibu, yang di waktu silam, pula sempat berkutbah di Musholla, di hadapan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), aparat TNI dan Kepolisian.

Ia lalu mengisahkan bagaimana dirinya datang ketika masih lajang, membuka lahan secara bertahap, membangun rumah, hingga akhirnya berkeluarga dan menetap di Laoli selama puluhan tahun.

Usai mendengarkan cerita warga, para pendamping turut berbagi pengalaman mengenai penanganan konflik agraria di berbagai daerah.

Mereka juga memberikan masukan terkait langkah-langkah pendampingan hukum yang dapat ditempuh warga dalam memperjuangkan hak-haknya.

Diskusi berlangsung hingga larut malam. Di bawah cahaya lampu yang menggantung di rangka tenda sederhana, malam itu telah menjadi saksi percakapan panjang di tengah pengungsian.

Pertemuan itu setidaknya menjadi sedikit ruang bagi warga untuk menguatkan satu sama lain, pula mulai menyusun langkah setelah penggusuran yang telah mengubah hidup mereka.