Statistika Negativa: Konsumsi Meledak Tetapi Basis Produksi Lokal Masih Rapuh

waktu baca 5 menit
Sabtu, 23 Mei 2026 10:11 0 1286 Tim Redaksi

Oleh: Arsal Amiruddin (Kepala Dinas Sosial Budaya, LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Luwu Timur)

 

PERTUMBUHAN ekonomi Luwu Timur dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya terlihat dari meningkatnya nilai investasi dan besarnya aktivitas industri tambang. Perubahan itu juga mulai tampak jelas dalam pola konsumsi masyarakat sehari-hari. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah dari sisi pengeluaran.

Pada Triwulan IV-2024, konsumsi rumah tangga di Lutim tumbuh sekitar 4,81 persen (y-on-y), sementara Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik tumbuh hingga 19,02 persen. Secara kumulatif hingga Triwulan III-2025, komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) telah tumbuh hingga 5,28 persen (BPS Luwu Timur, 2025).

Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi masyarakat dan ekspansi pembangunan memang sedang bergerak cukup agresif. Masyarakat mengeluarkan uang lebih banyak sehingga aktifitas perdagangan turut terpacu. Arah pertumbuhan positif ini membawa sektor konsumsi kita juga menjadi penopang utama ekonomi daerah. Pertanyaan yang segera terbersit, apakah ini berarti kesejahteraan benar-benar meningkat?

Lagi-lagi sifat pertumbuhan dari sektor ekonomi ekstraktif memberi banyak kesangsian. Patut diingat bahwa pertumbuhan Lutim hingga Triwulan III-2025 masih amat ditopang oleh sektor primer, khususnya pertambangan. Ini berarti sumber uang utama berasal dari komoditas dan bukan dari ekonomi lokal yang beragam, sehingga sifat konsumsinya juga amat bergantung pada siklus industri tambang.

Implikasinya, pelemahan sedikit saja dari sektor ini, seperti harga nikel turun, aktivitas tambang melemah, atau terjadi PHK, bisa segera memacu penurunan daya beli dan mempengaruhi semua sektor. Implikasi lain yang tak kalah pelik, adalah kenaikan harga barang dan jasa karena laju peredaran uang yang tinggi di sekitar wilayah industri.

Data dari BPS menunjukkan, tingkat inflasi di Lutim pada Januari 2025 mengalami kenaikan sebesar 0,87 persen, pada saat inflasi rata-rata Sulsel hanya berada di angka 0,10 persen. Pada Agustus 2025, angka ini bergerak signifikan mencapai 4,03 persen, dan pada Februari 2026 tingkat inflasi kita secara tahunan sudah berada di angka 5,86 persen, sebelum bergerak melandai pada bulan April 2026 ke angka 2,98 persen.

Dalam Januari 2026 rata-rata kelompok pengeluaran yang terlihat bergerak signifikan yakni; Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 12,16 persen, disusul kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 10,32 persen, kelompok kesehatan sebesar 5,80 persen, lalu kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau sebesar 4,85 persen. Sementara, bila dilihat secara tahunan, hingga tahun 2026 kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau, masih menempati urutan pertama dengan kenaikan sebesar 2,03 persen (BPS Lutim, 2026).

Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa konsumsi rumah tangga memang naik sekitar 5 persen, tetapi kenaikan pengeluaran masyarakat turut meningkat karena harga barang dan jasa juga ikut bergerak. Kenaikan harga kebutuhan membuat pengeluaran lebih besar, meskipun ukuran atau volume konsumsi yang dikeluarkan bisa saja tetap sama atau bahkan menurun.

Dalam banyak fenomena yang biasa berlangsung di daerah berbasis ekstraksi sumberdaya, peredaran uang yang tinggi karena meningkatnya mobilitas arus pekerja industri, secara cepat juga memacu terjadinya inflasi. Kenaikan harga pangan dapat berturut-turut segera diikuti dengan kenaikan barang kebutuhan lainnya seperti sandang dan papan.

Dampak dari laju inflasi bisa jadi tak begitu terasa bagi pekerja dalam sektor ini, tetapi tingkat kebutuhan konsumsi yang sama segera menekan daya beli masyarakat bawah dan mereka yang berada di luar sektor ekonomi ini secara drastis. Adanya perbedaan daya beli membuat sebagian kelompok tetap mengalami peningkatan konsumsi atas pangan, sandang, dan papan, meski sebagian kelompok masyarakat lainnya mungkin hanya mengalami kenaikan konsumsi atas pangan.

Walhasil, konsumsi rumah tangga bisa tampak tumbuh pesat, tetapi pertumbuhan kemungkinan terkonsentrasi pada kelompok masyarakat tertentu, seperti pekerja sektor tambang, kontraktor industri, juga mungkin ASN. Sementara itu, bagi sebagian kelompok masyarakat bisa serupa hantaman berlipat-lipat, karena sebagian besar pengeluarannya harus dihabiskan hanya untuk makanan, biaya hidup sehari-hari, dan sedikit tembakau.

Hingga ke titik ini tampaknya hal tersebut masih setengah persoalan. Pertanyaan lain yang patut diajukan, apakah pertumbuhan konsumsi tersebut benar-benar ditopang oleh basis produksi lokal yang kuat? Karena, dalam sirkulasi ekonomi produksi dan konsumsi, seharusnya pesatnya laju konsumsi turut disokong oleh mata rantai produksi yang ikut menanjak.

Amat disayangkan, bila melihat lagi struktur ekonomi kita yang ditopang sektor tambang, inflasi pangan yang tinggi, juga kontribusi sektor pertanian yang cenderung menurun dalam PDRB, dapat menjadi petunjuk masih amat terbatasnya laju sektor produksi ini untuk menunjang pesatnya pertumbuhan konsumsi kita. Dalam hal ini, tekanan inflasi mungkin dapat teratasi dengan penguatan pada sektor produksi, agar sirkulasi ekonomi bisa dilancarkan – baik dari struktur ekonomi yang terlalu homogen maupun dari terlalu besarnya kebocoran ekonomi regional.

Kenyataan hingga kini, sebagian besar kebutuhan konsumsi masyarakat kita memang masih dipasok dari luar daerah. Mulai dari bahan pangan, kebutuhan rumah tangga, material bangunan, hingga produk industri harian yang amat bergantung pada rantai distribusi eksternal dari Makassar, Palopo, Sulawesi Tengah, bahkan Pulau Jawa. Artinya, uang memang berputar cepat di Lutim, tetapi dalam waktu yang sama juga cepat keluar dan tidak tumpah di dalam.

Situasi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi belum tentu identik dengan kuatnya fondasi ekonomi masyarakat lokal. Ekonomi daerah memang membesar, tetapi kemampuan produksi masyarakat di tingkat akar rumput belum tentu ikut tumbuh dalam skala yang sama. Itulah sebabnya penguatan usaha masyarakat – terutama yang bergerak dalam sektor produksi – menjadi sangat penting bagi masa depan Lutim.

Tentu saja, bersamaan pula dengan penguatan lini koperasi, BUMDesa, industri pangan lokal, hingga sektor pertanian dan perikanan rakyat. Tanpa penguatan ekonomi akar rumput semacam itu, pertumbuhan hanya akan menjadi lalu lintas uang jangka pendek, bukan pembangunan fondasi ekonomi masyarakat biasa yang benar-benar mandiri dan tahan terhadap guncangan. (*)