“Teori Bubur Panas”, Cara Tempo Mengajarkan Jurnalis Menggali Fakta

waktu baca 3 menit
Senin, 27 Jul 2026 23:07 0 1281 Tim Redaksi
 

NUHA – Jangan buru-buru mengajukan pertanyaan paling sensitif kepada narasumber. Dalam jurnalisme investigasi, langkah itu justru dinilai dapat menutup ruang bagi lahirnya informasi penting.

Sebaliknya, Tempo Institute memperkenalkan pendekatan “teori bubur panas”, yakni memulai percakapan dari topik yang lebih ringan untuk membangun kenyamanan narasumber, sebelum perlahan mengarah pada inti persoalan.

Konsep tersebut menjadi salah satu materi yang dibawakan jurnalis Tempo, Sapto Yunus, dalam pelatihan hari kedua Up-Skilling & Site Visit Media 2026 di Sorowako, Minggu (27/7/2026).

Melalui sesi Wawancara Investigatif dan Roleplay, peserta dibekali teknik menggali fakta melalui proses wawancara yang terukur dan berbasis data. Wawancara investigatif, di sana, ditegaskan bukan sebagai tujuan akhir sebuah liputan.

Wawancara merupakan alat untuk menemukan orang yang mengetahui informasi, menguji data yang telah diperoleh, sekaligus mengonfirmasi temuan sebelum dipublikasikan.

Karenanya, yang dicari bukan sekadar opini narasumber, melainkan fakta yang dapat diverifikasi. Sapto menjelaskan, pendekatan “teori bubur panas” diterapkan terutama pada wawancara mendalam.

Layaknya menikmati semangkuk bubur yang masih panas, wartawan dianjurkan tidak langsung menyentuh bagian tengah, melainkan memulai dari sisi yang lebih aman sebelum perlahan masuk ke pokok persoalan.

Cara ini dinilai lebih efektif membangun kepercayaan narasumber sekaligus membuka ruang bagi informasi yang lebih mendalam. Peserta juga diperkenalkan tiga tahapan wawancara investigatif, yakni eksplorasi, konfrontasi, dan konfirmasi.

Tahap eksplorasi dilakukan untuk membangun komunikasi dan menggali informasi awal. Setelah wartawan memiliki data pembanding, wawancara memasuki tahap konfrontasi untuk menguji konsistensi informasi.

Adapun konfirmasi menjadi tahap akhir guna memastikan seluruh temuan telah diverifikasi sebelum dipublikasikan. Selain itu, peserta diingatkan agar tidak mengawali wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan klise maupun pertanyaan paling sensitif.

Sebaliknya, pewawancara didorong menciptakan suasana yang nyaman terlebih dahulu agar percakapan berkembang secara alami dan menghasilkan informasi yang lebih kaya.

Setelah membahas cara memperoleh fakta melalui wawancara, pelatihan berlanjut pada materi Menyusun Narasi Investigatif yang disampaikan pemateri Tempo Institute lainnya, Yudono Yanuar.

Pada sesi ini, peserta diajak memahami bagaimana fakta-fakta yang telah dikumpulkan diolah menjadi sebuah laporan investigasi yang utuh.

Yudono menekankan bahwa laporan investigasi tidak seharusnya berputar-putar sebelum masuk ke pokok persoalan.

Kalimat pembuka harus segera mengungkap inti masalah, menunjukkan adanya dugaan pelanggaran atau skandal, sekaligus membangkitkan rasa ingin tahu pembaca.

Peserta juga dibekali teknik mengorganisasi data sebelum menulis. Informasi yang telah dihimpun dapat dipetakan berdasarkan kronologi peristiwa, aliran dana pada kasus dugaan korupsi, maupun hubungan antaraktor, sehingga persoalan lebih mudah dipahami dan memiliki alur yang jelas.

Materi tersebut turut menekankan pentingnya menemukan narasi yang menjadi benang merah dari seluruh data dan informasi yang berhasil dikumpulkan.

“Temukan narasi kuat yang dapat menjadi benang merah dari semua data dan informasi yang ada,” demikian salah satu poin yang disampaikan dalam pelatihan.

Sebagai contoh, peserta diperlihatkan pembuka laporan investigasi yang langsung membawa pembaca pada inti persoalan tanpa didahului uraian panjang.

Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif menarik perhatian pembaca sekaligus memperlihatkan sejak awal mengapa sebuah investigasi layak untuk diikuti.

Kedua sesi tersebut merupakan bagian dari rangkaian hari kedua Up-Skilling & Site Visit Media 2026, program kolaborasi PT. Vale Indonesia dan Tempo Institute yang telah memasuki tahun ketiga penyelenggaraan.

Pelatihan ini diikuti sekitar 40 jurnalis dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara, sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-58 PT. Vale Indonesia.

Selain dua materi tersebut, peserta juga mengikuti sesi Panduan Praktis Jurnalisme Data, Etika dan Keamanan Jurnalis, serta simulasi penyusunan Terms of Reference (TOR) liputan investigasi.

Satu-persatu peserta yang telah dikelompokkan ke dalam beberapa tim, mendiskusikan sebuah isu dan menyusun TOR liputannya sebelum coba dikritisi oleh kelompok lainnya.

Seluruh pembekalan itu menjadi bekal sebelum peserta dijadwalkan melakukan site visit ke area operasional PT. Vale pada hari berikutnya. (*)