Antara Hujan, Pesta, dan Lagu Patah Hati Repvblik Band

waktu baca 3 menit
Sabtu, 13 Jun 2026 10:03 0 1333 Arsal Amiruddin
 

MALILI – Memang cukup sulit membuat lagu-lagu bernuansa kesedihan, cinta, dan penyesalan, berhenti sendu lalu memasuki nyanyian massal. Tapi di Lapangan Pendidikan, Puncak Indah, pada Jumat malam (12/6/2026), Repvblik Band benar-benar melakukannya.

Sejak awal penampilan, Ruri dan kawan-kawan langsung mengajak penonton menyusuri katalog lagu-lagu yang telah membesarkan nama mereka.

Hampir dua dekade setelah “Hanya Ingin Kau Tahu”, pertama kali menjadi soundtrack patah hati bagi banyak orang, lagu-lagu band asal Bogor itu rupanya masih memiliki tempat tersendiri di hati penggemarnya.

“Tiada Guna Lagi”, “Sakit Aku Sakit”, hingga “Aku Tetap Cinta”, malam itu dibawakan dengan aransemen yang sedikit berbeda. Irama dibuat lebih meriah, sementara saksofon menjadi warna yang cukup dominan.

Lagu-lagu yang selama ini identik dengan kesedihan berubah menjadi nyanyian yang gembira. Penonton mengangkat tangan, bertepuk tangan, dan mengikuti setiap reff yang telah mereka hafal selama bertahun-tahun.

Meski begitu, saat lirik tentang kehilangan dan penyesalan terdengar berpacu dengan tempo yang lebih riang, ada kalanya terasa ganjil. Barangkali hanya musik dangdut yang mudah berdamai dengan paradoks semacam itu.

Dan, malam itu Repvblik tampaknya memilih berdamai dengannya. Mereka tak datang untuk membawa suasana muram. Di bawah cahaya panggung dan pesta, lirik-lirik sedih itu tidak dihadirkan sebagai ratapan, melainkan sebagai kenangan yang ingin dirayakan.

Untuk menjaga suasana tetap hangat, Ruri dan kawan-kawan mengajak penonton bernostalgia melalui lagu lawas “Ini Rindu” yang dipopulerkan Farid Hardja.

Lagu yang populer pada era 1980-an itu langsung dikenali ketika bagian “Oh burung nyanyikanlah, katakan padanya aku rindu” menggema dari atas panggung. Tak sedikit penonton yang ikut berdendang mengikuti setiap baitnya.

Usai lagu tersebut, tempo mulai diturunkan. Di tengah konser mereka memberi ruang kepada para personel untuk tampil. Permainan bass, gitar, saksofon, hingga keyboard mendapat sorotan tersendiri.

Keyboardis Tiar yang berasal dari Ambon bahkan sempat membawakan lagu bernuansa timur Indonesia, sementara sesi solo drum menjadi penampilan instrumental terpanjang malam itu.

Dentuman drum yang sesekali memainkan pola ritme yang akrab di telinga masyarakat Sulawesi Selatan langsung mendapat sambutan meriah dari penonton.

Pada saat yang sama, para personel berjalan hingga ke lidah panggung dalam irama musik “Ta’ Bola-Bale”, lagu yang beberapa hari terakhir cukup populer di Lutim.

Mereka mendekatkan diri dengan kerumunan penonton yang memenuhi lapangan. Biar begitu, boleh dikata Repvblik yang sesungguhnya baru terasa ketika tempo mulai melambat.

Dentingan piano perlahan mengambil alih panggung. Saksofon yang sejak awal konser hadir sebagai pemanis aransemen kini terdengar lebih leluasa mengisi ruang di antara vokal dan instrumen lainnya.

Saat mereka membawakan “Cinta Sempurna”, suasana yang sebelumnya riuh perlahan berubah menjadi lebih tenang.

Puncaknya datang ketika Ruri meminta penonton menyalakan lampu telepon genggam mereka. Satu per satu cahaya muncul menjadi lautan lampu kecil yang memenuhi area konser.

Di bawah cahaya itu, dentingan piano membuka jalan bagi “Hanya Ingin Kau Tahu”, lagu yang mungkin paling melekat dalam perjalanan panjang Repvblik.

Sejak bait pertama terdengar, penonton langsung ikut bernyanyi. Tak ada lagi jarak antara panggung dan lapangan. Ribuan suara menyatu dalam lagu yang telah amat akrab di telinga para penggemarnya.

Lalu, suasana kembali berubah ketika Ruri menawarkan dua pilihan kepada penonton saat akan membawakan “Aku Takut”. “Mau versi original atau dangdut?” tanyanya.

Lagu itu diawali dengan permainan piano yang pelan dan emosional, sebelum meledak dalam irama dangdut koplo yang membuat penonton kembali bergoyang dan bernyanyi bersama.

Menjelang akhir penampilan, Repvblik membawakan “Selimut Tetangga”. Lagu yang dibawakannya dengan mengundang tuan rumah, Bupati Lutim, Irwan Bachri Syam, untuk pula ikut bernyanyi.

Malam itu, hujan dan angin yang sejak sore menyelimuti Malili tak benar-benar pergi. Namun di tengah udara malam yang lembap, Repvblik cukup berhasil melakukan sesuatu yang tak mudah, mengubah lagu-lagu patah hati menjadi sebuah perayaan yang dinyanyikan riang oleh ribuan orang.