
MALILI – Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu, dan sejurus kemudian kamu mulai mengeluarkan camilan dengan sejumlah rasa dan daftar harga. Kamu berkata pelan, “ada yang rasa balado kak, sama ada juga Tiramisu.”
Begitulah, Agnes Doinga, perempuan lajang asal Wasuponda itu terus menjajal brand produknya dari even ke pameran, dari Wasuponda ke Tomoni, dari Maros hingga Jakarta.
Saat kami akhirnya bertemu, pada Minggu (6/6/2026) malam, di keramaian Pameran UMKM dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Lutim ke-23, tetap saja tak berakhir kencan tapi cerita panjang tentang “Camilan Kita”.
Nama itu adalah brand produk yang telah digagasnya sejak Januari 2025, dengan semangat tinggi demi menapak pasar yang lebih besar. Seperti banyak usaha rintisan lainnya, brand itu pula lahir dari dapur rumahan.
Produk utamanya adalah Creamy Pangsit, camilan renyah dengan beragam rasa yang disebutnya andalan. Selain itu, ia juga memproduksi kue hingga Pisang Nugget untuk kebutuhan harian dan skala lokal.
Senyatanya, bila melihat di beberapa stan tempatnya memajang produk, Camilan Kita memang terlihat cukup dominan. Hanya saja, saat cerita kami mulai lebih dalam dan akrab, etalase pameran malam itu hanya sedikit kisah dari perjalanan produknya yang tak selalu mulus.
Agnes mengungkapkan, sejauh ini produknya masih relatif terbatas untuk memenuhi kuota pameran dan pesanan kecil. Terlebih sebagian besar proses produksinya masih dilakukan secara manual, mulai dari penggorengan hingga pengemasan.
“Masih manual semua. Mesinnya masih manual, sealernya masih manual. Sebenarnya adaji alat otomatis, tapi tidak bisaki langsung melangkah tiba-tiba,” sergapnya.
Di tengah keterbatasan itulah, ia terus membangun jaringan pemasarannya selama setahun terakhir. Mulai dari mengunjungi setiap pameran, memasang stan di lokasi even, hingga pernah pula berkendara berkeliling membawa pesanan produk yang dijual via media sosial.
Sejauh ini pesanan terbesarnya masih datang dari korporasi. “Biasa na ambil Vale untuk Bodybag, Hampers, kalau ada kegiatannya, ada tamunya buat na pajang juga. Kan binaan PT.Vale,” ia berujar.
Selain itu, ruang-ruang pameran kerap dikejarnya agar bisa beroleh etalase yang cukup. Dalam beberapa bulan terakhir saja, tak hanya gelaran pameran di malam itu yang membuatnya antusias, tapi telah banyak sekali pameran di lebih banyak tempat.
“Kalau sebelumnya Jakarta, itu kegiatan BPA Fair. Kalau sebelumnya lagi Maros kegiatan MTQ,” ujar Agnes. Di waktu belakangan, produknya pula menyasar pedagang mitra. Kebanyakan melalui sistem titip jual di berbagai toko.
Ia mengisahkan setahun silam sempat memiliki hingga 13 mitra penjualan, meski kini hanya tersisa lima mitra aktif, di Sorowako, Wawondula, pula Tomoni. “Masuk juga di PiMart ini, di Malakuki toko oleh-oleh juga,” katanya.
Saat ditanya tantangan terbesarnya kini di Camilan Kita, menurutnya justru datang dari hal yang tampak sepele, yakni kemasan (packaging). Menurut Agnes, stok packaging sering kali menjadi penghambat ketika pesanan mendadak datang.
Sementara, bahan kemasan harus dipesan dari luar daerah dengan waktu tunggu yang bisa mencapai dua minggu. Ketika stok kemasan habis, pesanan dalam jumlah besar kerap tidak bisa dipenuhi.
“Kalau ada yang minta 30, 50 sampai 100 pouch tiba-tiba, kadang tidak bisaki penuhi karena kemasannya tidak ada,” ia mengeluh.
Kondisi tersebut kerap membuatnya kehilangan pesanan. Apalagi, jika dulu produksi hanya dilakukan saat ada pameran atau pesanan tertentu, kini ia berupaya memproduksi rutin seiring permintaan yang bertambah.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, Agnes bahkan mulai merekrut tenaga tambahan. Keputusan yang menurutnya cukup penting, sebab mengerjakan seluruh proses produksi seorang diri bukan perkara mudah.
“Menangis-menangis ki kalau bikin sendiri,” katanya sambil tertawa.
Kini langkahnya perlahan menapak ke arah lebih jauh. Berbekal pelatihan dan jejaring yang dibangun dari satu pameran ke pameran lain, salah satu mimpi yang dikejarnya adalah masuk ke jaringan ritel modern.
Berkas demi berkas mulai dilengkapi. Sejumlah persyaratan administrasi, masa edar produk, hingga ketentuan distribusi, menjadi tantangan yang mesti dihadapi.
Ia bahkan harus menghitung secara cermat biaya pengiriman, terutama yang bisa memangkas keuntungan, bila produk mulai harus dikirim ke luar Lutim.
Beruntung Creamy Pangsit yang diproduksinya memiliki daya tahan cukup lama karena menggunakan bumbu bubuk, sehingga tidak mudah berubah kualitas selama penyimpanan.
“Makanya ini yang saya ajukan masuk ke Indomaret,” katanya penuh harap.
Barangkali perjalanan kesana masih panjang, tetapi baginya sedikit ruang pameran itu adalah kesempatan besar untuk memperkenalkan produk kepada lebih banyak orang.
Bagi sebagian orang mungkin tawarannya hanya sebungkus camilan dengan rasa balado atau tiramisu. Tapi ada satu hal yang tak boleh diabaikan.
Bahwa, dari setiap pouch yang terjual itu, ada jejak perjalanan seorang perempuan yang terus berusaha membuktikan bila produk dari kampung kecil di Lutim juga layak menembus pasar yang luas.