
MALILI — Jajaran pengurus Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) Luwu Timur (Lutim) turut ambil bagian dalam kemeriahan Karnaval Budaya Hari Ulang Tahun (HUT) Lutim, pada Rabu (3/6/2026) pagi.
Bersama para Business Assistant (BA) dan jajaran Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM, dan Perindustrian (Disdagkop-UKMP) Lutim, mereka menyusuri jalanan utama Kota Malili dari Jalan Hasanuddin menuju arah Masjid Agung, dengan mengenakan beragam pakaian adat nusantara.
Kehadiran rombongan KDMP/KKMP dan Disdagkop-UKMP cukup mencuri perhatian. Selain tampil dengan nuansa budaya yang beragam, peserta pula membawa replika besar tabung gas LPG 3 kilogram (kg) yang menjadi ikon dalam iring-iringan mereka.
Namun, simbol tersebut bukanlah bentuk aksi protes ataupun demonstrasi. Kepala Disdagkop-UKMP Lutim, Senfry Oktavianus, menjelaskan bahwa replika tabung gas itu hanya menjadi bagian dari kreativitas peserta karnaval.
“Bukan demo, tapi bidang perdagangan tampilkan ikon tabung gas,” ujar Senfry sambil tersenyum di sela kegiatan.
Ikon tersebut memang berkaitan dengan upaya pemerintah pusat menjadikan gerai-gerai KDMP/KKMP, dalam menjaga stabilitas harga barang subsidi milik pemerintah, terutama gas dan barang kebutuhan pokok.
Apalagi, kondisi di Lutim pula sering mengalami kelangkaan LPG 3kg di sejumlah wilayah. Beberapa waktu silam hal tersebut masih berlangsung. Sejak jelang Hari Raya Idul Adha hingga beberapa hari setelahnya, kelangkaan LPG 3Kg membuat pihak Disdagkop-UKMP cukup sibuk melakukan pengawasan distribusi di lapangan.
Untuk menjaga stabilitas harga agar tetap sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), dinas bahkan membentuk tim khusus yang bertugas memantau para pengecer di berbagai wilayah. Tim tersebut berkeliling memastikan penjualan LPG subsidi tetap sesuai aturan dan tidak memberatkan masyarakat.
Sementara itu, pelaksanaan karnaval budaya sendiri berlangsung meriah dengan diikuti berbagai instansi pemerintah, desa, dan kecamatan se-Lutim. Masing-masing peserta menampilkan kekayaan budaya melalui pakaian adat dan ornamen khas daerah.
Keberagaman yang ditampilkan dalam karnaval tersebut sekaligus mempertegas julukan kabupaten ini sebagai “Mini Indonesia”, tempat beragam suku, budaya, dan tradisi hidup berdampingan dalam harmoni.