Api Berulang di Towuti, Kemarau Panjang Menguji Kesiapan Menjaga Hutan dan Kebun

waktu baca 3 menit
Jumat, 23 Okt 2026 10:49 0 1280 Arsal Amiruddin
 

TOWUTI – Langit di atas perbukitan Wawondula, Towuti, memerah pada Kamis malam (22/10/2026). Api menyala di beberapa titik lereng dan asap menggantung di atasnya.

Seorang pekerja di salah satu grup Luwu Timur menulis singkat, “Wawondula daerah bendungan JD lautan api”

Sehari sebelumnya, Rabu (21/10/2026), kabar serupa beredar dari lahan semak dekat pertigaan Enggano Camp. Warga menyebut tim FES berupaya memadamkan api, tetapi besarnya kobaran membuat mereka kewalahan.

Belum ada informasi pasti terkait luas lahan, penyebab, maupun status api. Berdasar banyak video udara yang sempat beredar di media sosial, berhektar-hektar lahan yang beririsan dengan kawasan pertambangan, dilahap si jago merah.

Wawondula bukan kejadian tunggal. Sejak awal Oktober, api muncul berulang kali di Towuti. Pada Sabtu malam (3/10/2026), sekitar tiga hektare lahan terbakar di Desa Asuli.

BACA JUGA:  Malam Harmoni Merdeka, Musisi Tomoni Rayakan HUT RI Lewat Nada

Lima personel Damkar dari Posko Towuti memadamkan api selama sekitar tiga jam. Dua hari kemudian, Senin (5/10/2026), api muncul di Loeha Raya, seberang Danau Towuti, dengan titik terbesar di Desa Bantilang.

Laman HNM Indonesia melaporkan api mengancam permukiman, mendekati sekolah dan pondok pesantren, lalu merambat ke kebun merica warga.

Asap kemudian menyelimuti Lutim. Pada 15 Oktober, beberapa laporan menuliskan kualitas udara memburuk dan menduga sebagian asap berasal dari kebakaran di Towuti.

Kemarau yang Belum Selesai

BMKG sudah memberi peringatan. Dilansir dari laman iNews, edisi 11 September 2026, El Niño diprediksi bertahan hingga awal 2027.

BACA JUGA:  Sering Sulit Tidur? Bisa Jadi Bukan Cuma Karena Begadang

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, telah menyebut September sebagai “fase kritis yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama”.

Meski telah memasuki fase menurun sejak September, kobarannya tetap berpotensi hingga setahun mendatang.

Dalam daftar tujuh wilayah paling rawan, BMKG menyebut Sumatera dan Kalimantan, bukan Sulawesi. Towuti menunjukkan bahwa kewaspadaan tidak boleh menunggu nama daerah masuk daftar.

Kemarau yang berlanjut hingga awal tahun berarti musim api belum berakhir. Rangkaian kejadian di Lutim sendiri menunjukkan pola.

Api muncul di lereng berbukit, jauh dari air, dekat kebun dan permukiman, juga dekat kawasan gersang area pertambangan.

Satu regu pemadam hanya beranggotakan empat sampai lima orang, sementara lahan yang terbakar mencapai puluhan hingga ratusan hektare.

BACA JUGA:  Kebakaran Lahan Matompi Berlanjut, Damkar Kembali Turun Padamkan Api

Pemadam bisa tiba dalam tujuh menit, tetapi medan menentukan berapa lama api padam.

Penyebab kebakaran cukup beragam, dan tidak ada pihak yang pantas dituding sebelum penelusuran selesai. Pertanyaan yang lebih mendesak menyangkut hal yang masih bisa warga dan pemerintah siapkan sebelum api datang lagi.

Titik rawan perlu dipetakan, sumber air cadangan perlu tersedia di dekat kebun, dan laporan warga perlu sampai ke petugas sebelum api membesar. Imbauan Damkar agar warga tidak membuka lahan dengan cara membakar tetap berlaku selama kemarau.

Untuk lokasi lahan berdekatan kebun lada, ingatlah bila merica butuh bertahun-tahun untuk menghasilkan, sedangkan api cukup beberapa jam untuk menghabiskannya.