
LUTIM – Dua program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), menghadapi penilaian kurang menggembirakan dari publik.
Kepuasan terhadap pelaksanaan MBG merosot, sementara keyakinan warga bahwa KDMP akan berkembang dan maju tinggal 15,6%.
Temuan itu tertuang dalam paparan survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk Kinerja Dua Tahun Presiden Prabowo, yang diperbarui berdasarkan survei 1–10 Oktober 2026.
Survei ini sekaligus mengevaluasi penilaian publik terhadap kinerja Prabowo setelah dua tahun menjabat sejak dilantik pada Oktober 2024.
SMRC mewawancarai 1.213 responden, terdiri atas 1.013 responden pengguna telepon seluler yang diwawancarai melalui telepon dan 200 responden tanpa telepon seluler yang diwawancarai secara tatap muka.
Margin of error diperkirakan ±2,9% pada tingkat kepercayaan 95%, dengan asumsi simple random sampling.
MBG Dikenal Luas, tetapi Kepuasan Merosot
Program MBG, yang menyediakan makanan gratis terutama bagi anak sekolah, telah dikenal hampir seluruh warga. SMRC mencatat 95,2% responden mengetahui atau pernah mendengar program tersebut.
Angka ini relatif stabil sepanjang setahun terakhir, yakni berkisar 95%. Hanya saja, tingginya pengenalan tidak berbanding lurus dengan kepuasan terhadap pelaksanaannya.
Dari warga yang mengetahui MBG, hanya 33,8% menyatakan sangat atau cukup puas. Sebaliknya, 61,4% mengaku kurang puas atau tidak puas sama sekali, sedangkan 4,9% tidak memberikan jawaban.
Pada November 2025, tingkat kepuasan terhadap MBG masih mencapai 62,5%. Angka itu turun menjadi 44,6% pada survei Februari–Maret 2026, lalu 33,8% pada Juli dan bertahan pada tingkat yang sama dalam survei Oktober.
Dengan demikian, kepuasan publik terhadap pelaksanaan MBG turun 28,7 poin persentase dalam kurun kurang dari setahun. Temuan ini muncul di tengah persoalan lain yang dinilai mendesak oleh masyarakat.
Melalui survei yang sama, harga kebutuhan pokok yang mahal menjadi masalah paling banyak disebut, yakni 30%, disusul pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sebesar 26,8%, serta pengurangan kemiskinan sebesar 14,7%.
Sementara itu, kekurangan gizi pada anak atau stunting hanya disebut 0,9% responden sebagai masalah paling mendesak yang harus segera diselesaikan pemerintah.
KDMP Makin Dikenal, tetapi Keyakinan Menyusut
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menunjukkan pola serupa dalam hal penilaian publik, meski tingkat pengenalannya meningkat cukup tajam.
SMRC mencatat proporsi warga yang mengetahui atau pernah mendengar KDMP naik dari 51,5% pada November 2025 menjadi 79,9% pada Oktober 2026. Artinya, program ini semakin dikenal masyarakat dalam setahun terakhir.
Akan tetapi, pengenalannya belum diikuti keyakinan bahwa koperasi di desa atau kelurahan masing-masing akan berkembang dan maju. Dari warga yang mengetahui KDMP, hanya 15,6% menyatakan sangat atau cukup yakin terhadap prospek program tersebut.
Sebanyak 71% justru kurang yakin atau tidak yakin sama sekali. Rinciannya, 38,4% kurang yakin dan 32,6% tidak yakin sama sekali. Adapun 13,4% tidak memberikan pendapat.
Pada November 2025, proporsi warga yang yakin KDMP akan berkembang atau maju masih mencapai 43,3%, sedangkan yang kurang atau tidak yakin sebesar 43,5%.
Dalam survei Oktober 2026, tingkat keyakinan itu menyusut 27,7 poin persentase, sementara ketidakyakinan meningkat menjadi 71%.
Berkaitan dengan Kepuasan terhadap Presiden
Penilaian terhadap kedua program muncul bersamaan dengan merosotnya kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo.
Dalam survei Oktober 2026, sebanyak 44,5% responden menyatakan sangat atau cukup puas terhadap kinerja presiden.
Sebaliknya, 53,4% mengaku kurang puas atau tidak puas sama sekali, sementara 2,1% tidak memberikan jawaban.
SMRC menyebut tingkat kepuasan itu sebagai yang terendah sepanjang masa jabatan Prabowo dalam rangkaian survei yang dipaparkan.
Pada November 2025, kepuasan publik masih mencapai 81,2%. Artinya, terjadi penurunan 36,7 poin persentase dalam setahun terakhir.
SMRC juga menguji hubungan antara kepuasan terhadap presiden dan penilaian publik atas MBG serta KDMP menggunakan analisis chi-square, yakni metode statistik untuk menguji keterkaitan antara dua variabel kategoris.
Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara kepuasan terhadap kinerja presiden dan sikap responden terhadap kedua program.
Pada MBG, sebanyak 79% warga yang sangat puas dengan pelaksanaan program itu juga menyatakan puas terhadap kinerja presiden.
Sebaliknya, pada kelompok yang tidak puas sama sekali terhadap MBG, hanya 15% yang puas terhadap kinerja Prabowo.
Pola serupa terlihat pada KDMP. Sebanyak 68% warga yang cukup yakin koperasi di desa atau kelurahan mereka akan berkembang menyatakan puas terhadap kinerja presiden.
Di kelompok yang tidak yakin sama sekali terhadap prospek KDMP, proporsi warga yang puas terhadap presiden hanya 17%.
Meski demikian, keterkaitan ini tidak serta-merta membuktikan hubungan sebab-akibat.
Data ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap kinerja presiden dan kedua program berkaitan, tetapi tidak menjelaskan secara langsung apakah ketidakpuasan terhadap program menyebabkan turunnya kepuasan terhadap presiden atau sebaliknya.
Kesimpulan yang diambil SMRC, menyatakan rendahnya kepuasan publik terhadap Prabowo konsisten dengan penilaian negatif masyarakat atas kerja pemerintah menangani persoalan mendesak.
Terutama, terkait masalah keterjangkauan harga kebutuhan pokok, pemberantasan korupsi, dan pengurangan kemiskinan. Penilaian terhadap program unggulan pemerintah, MBG dan KDMP, juga dinilai kurang menggembirakan.
Meski begitu, survei ini masih menggambarkan persepsi warga secara nasional. Temuannya belum dapat dijadikan gambaran langsung mengenai penilaian masyarakat di setiap daerah, termasuk di Lutim, tanpa data atau survei khusus di tingkat lokal.

