Gandeng Unhas dan Relawan, PT. Vale Pulihkan Ekosistem Pesisir Mangkasa Point

waktu baca 4 menit
Sabtu, 29 Agu 2026 21:02 0 1276 Arsal Amiruddin
 

LUTIM – Upaya memulihkan ekosistem pesisir dilakukan PT. Vale Indonesia,Tbk., bersama Universitas Hasanuddin (Unhas), Sorowako Diving Club, aktivis lingkungan, serta sejumlah relawan.

Aksi itu dilakukan melalui penanaman mangrove, transplantasi lamun, hingga aksi bersih pantai di kawasan Mangkasa Point, Desa Harapan, Malili, Sabtu (29/8/2026).

Kegiatannya digelar dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional dengan melibatkan sekitar 50 peserta. Mereka terbagi dalam tiga kelompok kegiatan, yakni penanaman mangrove, transplantasi lamun, pula pembersihan kawasan pantai.

Selama kegiatan, sebanyak 50 bibit mangrove jenis Avicennia atau api-api ditanam di sepanjang kawasan pesisir Mangkasa Point.

Jenis itu dipilih karena dinilai memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap kondisi pesisir serta sistem perakaran yang dapat membantu menahan abrasi.

Selain mangrove, peserta juga melakukan transplantasi 200 lamun jenis Enhalus acoroides di area perairan yang menjadi habitat berbagai organisme laut.

Lamun memiliki fungsi ekologis penting, antara lain sebagai tempat mencari makan, berlindung, dan berkembang biak bagi berbagai jenis ikan dan biota pesisir. Ekosistem ini juga berperan dalam menyerap dan menyimpan karbon biru atau blue carbon.

Penanaman mangrove dan transplantasi lamun dilakukan berdasarkan kajian teknis bersama tim Unhas untuk memastikan kesesuaian lokasi dan meningkatkan peluang keberhasilan rehabilitasi dalam jangka panjang.

Head of External Relations PT. Vale Indonesia Growth Project Sorowako Limonite (IGP Sorlim), Yusri Yunus, mengatakan pelestarian lingkungan merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan praktik pertambangan berkelanjutan.

Menurutnya, menjaga keseimbangan ekosistem, baik darat maupun pesisir, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Melalui kegiatan tersebut, ia menegaskan bila upaya pelestarian lingkungan adalah kerja bersama.

Dibutuhkan kolaborasi dan komitmen lintas stakeholder, agar langkah yang dilakukan, sebutnya, merupakan nilai yang dipegang oleh perusahaan demi memberikan dampak nyata bagi masa depan.

“Keberlanjutan bukan hanya nilai yang kami pegang, tetapi juga menjadi wajah PT. Vale dalam menjalankan operasional perusahaan,” ujar Yusri.

Ia mengatakan penanaman mangrove dan transplantasi lamun, menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung konservasi keanekaragaman hayati dan meningkatkan ketahanan lingkungan pesisir.

“Hari ini kita sudah menanam harapan untuk masa depan. Mari bersama-sama menjaga dan menyebarluaskan semangat konservasi ini agar apa yang kita lakukan tidak berhenti di sini, melainkan terus diwariskan kepada anak cucu kita,” tambahnya.

Sementara itu, Head of Sorowako Limonite Project, Suharpiyu Wijaya, mengatakan aspek keberlanjutan menjadi salah satu fondasi dalam pengembangan proyek PT. Vale, termasuk proyek IGP Sorowako Limonite atau IGP Sorlim.

Menurut Suharpiyu, keterlibatan IGP Sorlim dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.

“Mungkin langkah yang kita lakukan hari ini terlihat sederhana, tetapi inilah awal dari legacy yang ingin kita tinggalkan untuk masa depan. Kami ingin menghadirkan program keberlanjutan yang memberikan manfaat nyata dan dapat terus berkembang melalui dukungan seluruh pihak,” ungkapnya.

Ia juga berharap berbagai inisiatif konservasi yang dilakukan PT. Vale dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran dan praktik pengelolaan lingkungan yang dapat menjadi rujukan di tingkat nasional maupun internasional.

Lamun yang Masih Kurang Dikenal

Dari tiga rangkaian kegiatan, transplantasi lamun menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian, karena ekosistem tersebut masih relatif kurang dikenal dibandingkan ekosistem pesisir lainnya.

St. Firjatih Widhah dari tim Pusat Penelitian Sumberdaya Alam LPPM Unhas, yang terlibat dalam program, mengatakan lamun memiliki peran penting bagi lingkungan meski perhatian terhadap konservasinya masih relatif rendah.

“Secara global, perhatian terhadap konservasi lamun masih relatif rendah. Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa lamun memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang sangat besar dan berkontribusi signifikan dalam mitigasi perubahan iklim. Melalui transplantasi ini, kita tidak hanya menambah luasan lamun, tetapi juga memperkuat fungsi ekologis kawasan pesisir,” jelasnya.

Menurut dia, restorasi lamun bukan pekerjaan yang mudah. Oleh karenanya, kegiatan transplantasi di Mangkasa Point sebelumnya dilakukan dengan pengukuran sejumlah parameter lingkungan untuk menentukan kesesuaian lokasi.

“Kami mengapresiasi PT. Vale yang bersedia mengambil peran dalam restorasi lamun. Upaya ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Setelah melalui pengukuran parameter lingkungan, kami berharap transplantasi lamun di perairan Mangkasa Point ini dapat tumbuh dan berkembang sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi ekosistem pesisir,” katanya.

Keterlibatan para relawan juga menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya mengikuti penanaman mangrove dan transplantasi lamun, tetapi turut membersihkan kawasan pantai.

PT. Vale menyebut keterlibatan berbagai pihak itu sebagai bagian dari upaya memperluas ruang partisipasi masyarakat dan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan program konservasi.

Kegiatan di Mangkasa Point juga disebut melengkapi sejumlah program lingkungan yang telah dijalankan PT. Vale bersama para pemangku kepentingan di Desa Pasi-Pasi dan wilayah sekitarnya.

Melalui rehabilitasi mangrove dan lamun, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat fungsi ekologis kawasan pesisir. Pemantauan dan kolaborasi lintas pihak juga diperlukan agar ekosistem yang telah direhabilitasi dapat tumbuh dan menjalankan fungsinya dalam jangka panjang.