
LUTIM – Bangunan megah tiga lantai itu berdiri kokoh dengan dinding kaca besar yang memantulkan lanskap hijau di sekitar.
Isi dalamnya, lantai keramik mengkilap memanjakan mata, bersanding rapat dengan deretan meja baca, Pojok Baca Digital (POCADI), galeri edukasi, hingga mini cinema.
Suasana Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Lutim, pada Selasa (18/8/2026), memancarkan kesan bahwa perpustakaan daerah telah berdandan menjadi ruang publik yang modern.
Di salah satu ruangan, Vale Corner atau Nickel Corner turut hadir, hasil kolaborasi strategis dengan PT. Vale Indonesia, Tbk, yang dilengkapi pajangan literatur hingga etalase sampel nikel.
Hanya saja, kemegahan fasilitas visual dan narasi besar mengenai ruang inklusif masih menyisakan sedikit ironi saat melangkah menyusuri lorong-lorong DPK Lutim siang itu.
Keheningan yang menyambut bukan disebabkan oleh para pemustaka yang sedang khusyuk membaca, melainkan karena tidak ada satu pun pengunjung yang terlihat memanfaatkan fasilitasnya.
Ruang Vale Corner yang digadang-gadang sebagai pusat edukasi interaktif bahkan terasa pengap dan hangat, dengan pendingin udara yang baru dinyalakan saat kami menginjakkan kaki di dalamnya.
Fenomena ini menunjukkan adanya celah antara kemegahan infrastruktur dan kesiapan pengelolaan harian dalam melayani, masih kontras dengan animo pengunjung yang tampaknya perlu dipantik lebih kuat.
Staf Fungsional Pustakawan Bidang Perpustakaan DPK Lutim, Aristu Fristian, mengatakan sedianya saat pengusulan, bangunan itu awalnya memang tak dikondisikan langsung untuk kerja kedinasan.
“Dari perpustakaan nasional memang memberikan masukan agar menjadi gedung perpustakaan. Tapi karena keterbatasan daerah, maka ruang dinasnya juga digunakan di sini,” sebutnya.
Penggunaan sebagian ruang untuk kebutuhan kedinasan ini menjadi potret realitas pengelolaan fasilitas publik yang tidak selalu sederhana. Di satu sisi, bangunan harus mampu menunjang kebutuhan pemerintahan.
Di sisi lain, saat fungsi utamanya adalah pelayanan perpustakaan, ruang publik itu tetap memerlukan atmosfer yang murni diperuntukkan bagi kenyamanan masyarakat.
Biar begitu, kesunyian yang terlihat bukanlah potret permanen. Terdapat waktu-waktu tertentu, sebut Aristu, ketika fasilitasnya tetap riuh oleh antusiasme pelajar maupun kelompok masyarakat saat kegiatan berlangsung.
Tantangannya kini adalah bagaimana mentransformasi kunjungan insidental menjadi aktivitas rutin yang menjadikan perpustakaan sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian warga.
Aristu, dengan nada optimis, menegaskan bahwa fasilitas yang dibangun menggunakan uang rakyat ini harus dikembalikan manfaatnya secara maksimal kepada masyarakat.
“Ini dibangun oleh uang rakyat, harusnya bisa dinikmati oleh rakyat,” ujarnya saat berbincang santai di area Vale Corner.
Sejauh ini, pihak DPK telah menggagas pendekatan teknologi yang responsif terhadap karakter masyarakat, terutama generasi muda dan anak.
Suasananya mulai dikemas interaktif, tak hanya bacaan, pula melalui film, animasi dan musik, sehingga lebih mudah diserap dibandingkan model perpustakaan konvensional.
“Jadi kan memang proses edukasi kita yang harus merespons, artinya beradaptasi dengan adanya teknologi,” ia menjelaskan.
Menurutnya, mengajarkan konsep rumit seperti nama-nama planet atau pengetahuan alam kepada anak, misalnya, akan jauh lebih efektif jika dikemas melalui media visual interaktif ketimbang sekadar hafalan teks.
“Kalau kita pakai dalam bentuk film animasi, mereka ikut bernyanyi, lebih cepat mereka mengingat,” tambahnya.
Visi edukasi modern ini tentu menuntut tata kelola harian yang lebih dinamis. Tanpa operasional yang responsif – seperti jadwal pemutaran film yang terjaga hingga pemeliharaan suhu ruangan yang konsisten – fasilitas teknologi yang megah berisiko tetap menjadi ornamen visual yang minim fungsi.
Terlebih di era disrupsi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), peran perpustakaan fisik harus bergeser menjadi pusat kurasi informasi yang sahih sekaligus “ruang ketiga” bagi interaksi sosial.
Masyarakat kini lebih membutuhkan pendampingan untuk memilah kebenaran di tengah banjir informasi, baik secara tekstual maupun visual.
Langkah awal melalui ruang tematik seperti Vale Corner, pula sudah sangat tepat sebagai respons terhadap tantangan zaman. Akan tetapi, transformasi perpustakaan tidak boleh berhenti pada pencapaian fisik semata.
Sebelum melangkah lebih jauh, bahkan menuju benteng literasi AI, DPK tampaknya perlu terlebih dahulu menghidupkan “ruh” perpustakaan itu sendiri.
Upaya tersebut dimulai dengan memastikan pintu yang selalu terbuka hangat, fasilitas yang siap digunakan dengan nyaman setiap saat, serta program-program aktif yang membuat masyarakat merasa butuh untuk datang.
Karena, keberhasilan perpustakaan modern tak hanya diukur dari kemegahan dan fasilitas gedungnya, melainkan seberapa besar pengunjung dapat merasakan manfaat saat melangkah keluar dari pintunya.

