Ruang Hidup ke Panggung Festival, Jejak Perubahan Lomba Perahu di Sungai Malili

waktu baca 10 menit
Selasa, 2 Jun 2026 11:06 0 1297 Arsal Amiruddin
 

MALILI – “Tidak seru lomba perahu kalo perahu naga, banyak sekali pendayungnya na tidak lari perahunya. Lebih seru itu kalo perahu tradisional, lebih cocok sama arus sungai Malili,” kelakar Sahar, pada Senin (1/5/2026) siang, sesaat usai meninggalkan area bantaran sungai dalam rangka menyaksikan lomba perahu naga yang telah dihelat sejak sehari sebelumnya.

Sebagai salah satu warga Malili yang telah melewati usia paruh baya, gelaran lomba perahu tentu telah disaksikannya berlangsung dari tahun ke tahun. Meski terkesan bercanda, tapi seolah ada serpihan ingatan yang tengah dikenang, dari banyak perubahan yang terus berlangsung di Sungai Malili, juga dalam model penyelenggaran lomba perahu itu.

Ia tentu tak sekadar ingin membandingkan jenis perahu, apalagi sekedar keseruan atau tingkat keramaian yang tentu relatif. Bila diterawang lebih jauh, ungkapan Sahar setidaknya bisa membawa kita melihat lomba perahu tak sekadar tontonan tahunan, tetapi pula penanda dari transformasi wajah sungai dan perlombaan di atasnya yang ikut bergerak.

Mungkin jejak-jejaknya masih dapat ditelusuri cukup jauh. Sebagian tersimpan dalam foto-foto kolonial lama, sebagian tetap hidup dalam ingatan kolektif warga, sebagian mungkin tercecer dalam arsip keluarga yang mulai jamuran, dokumentasi pemerintah, unggahan media sosial, hingga pemberitaan media daring yang ikut merekam wajah perlombaan di Sungai Malili, yang terus berubah dari waktu ke waktu.

1910-1920: Jejak Tertua di Masa Hindia Belanda

Sebuah foto hitam-putih dari masa kolonial Belanda, menjadi salah satu petunjuk paling tua tentang keberadaan lomba perahu di Sungai Malili. Dalam foto yang berada di rentang tahun antara 1911 dan 1913, menunjukkan deretan perahu panjang tradisional, dengan puluhan pendayung, penonton di tepian sungai, dan permukiman kayu khas Malili tempo dulu.

Meski tak dapat ditentukan tahun pasti pengambilan gambarnya, foto tersebut menjadi bukti visual penting bahwa tradisi lomba perahu di Malili kemungkinan telah berlangsung sejak awal abad ke-20 di masa Hindia Belanda atau bahkan lebih tua dari itu.

Bentuk perahu yang terlihat masih sepenuhnya menggunakan dayung, terlihat ramping dengan ujung depan dan belakang yang meruncing panjang, dan tentu saja tanpa mesin. Jejak visual tersebut memperlihatkan bahwa sungai ketika itu bukan hanya ruang transportasi, tetapi juga ruang sosial masyarakat.

Pada masa itu Sungai Malili diketahui menjadi jalur penting penghubung kawasan pedalaman dan pesisir, meski dalam status Onder-afdeling di bawah kendali penjajah Belanda. Aktivitas perdagangan hasil hutan, rotan, damar, ikan, hingga sagu banyak bergantung pada jalur sungai.

Seperti di banyak wilayah Nusantara, lomba perahu tradisional tampaknya pula tumbuh dari budaya kerja masyarakat sungai dan pesisirnya. Perahu yang digunakan sehari-hari untuk berdagang atau bepergian lalu diperlombakan dalam pesta rakyat, syukuran panen, maupun perayaan tertentu.

1920–1950: Sungai sebagai Nadi Kehidupan

Memasuki dekade 1920-an hingga menjelang kemerdekaan Indonesia, Sungai Malili masih memegang peranan penting sebagai jalur mobilitas utama masyarakat. Infrastruktur jalan darat pada masa itu masih sangat terbatas, sehingga hubungan antarkampung lebih banyak bergantung pada transportasi air.

Dalam periode ini budaya mendayung (mawwise) telah jadi bagian lekat dalam kehidupan warga. Perahu tak lagi sekadar alat transportasi, melainkan simbol keterampilan, kekuatan fisik, sekaligus pengetahuan membaca arus dan karakter sungai.

Pada masa ini pula masyarakat Luwu mulai melihat pertama kalinya teknologi mesin pada transportasi air, seiring meningkatnya aktivitas pelayaran dan perdagangan kolonial di wilayah pesisir Sulawesi (Youtube Invoice Indonesia). Biar begitu, tak ditemukan sumber spesifik penggunaan mesin pada perahu-perahu kecil warga untuk kebutuhan harian ataupula even perlombaan hingga sekitar tahun 1950-1970.

Minimnya dokumentasi perlombaan perahu pada rentang waktu ini membuat jejak sejarahnya lebih banyak bertumpu pada arsip visual kolonial dan ingatan kolektif. Namun, sejumlah foto-foto karya penjelajah dan fotografer E. Grubauer pada kisaran 1911 – 1913 (lobo.apps01.yorku.ca), setidaknya menunjukkan aktivitas warga di tepian Sungai Malili tampaknya belum mengalami banyak perubahan hingga paska kemerdekaan.

1950–1970: Lomba Kampung dan Pesta Sungai

Selepas kemerdekaan Indonesia, tradisi lomba rakyat berkembang di banyak daerah sebagai bagian dari perayaan kampung dan Hari Kemerdekaan. Di Malili, lomba perahu dapat diyakini tetap berlangsung secara sederhana. Belum ada tribun penonton, pengeras suara, ataupun dekorasi festival. Warga hanya berkumpul di tepian sungai menyaksikan perahu-perahu kayu saling beradu cepat.

Jejak periode ini pula minim dokumentasi resmi, namun ingatan warga tua Malili seperti Sahar, telah memberi petunjuk bagaimana Sungai Malili pada masa itu dipenuhi perahu tradisional yang menjadi alat utama mobilitas masyarakat dan perkembangannya.

 

Tahun-tahun ini pula menandai perubahan besar-besaran dalam wajah Sungai Malili. Perahu-perahu cadik bermesin disebut katinting, mulai merapati aliran sungai dan digunakan untuk ragam kebutuhan.

Mode transportasi warga juga beralih pelan menggunakan model perahu ini, meski tak terdapat dokumen yang menunjukkan penggunaannya untuk perlombaan atau even budaya.

Biar begitu, model perahu tradisional – kadang pula dirangkai dengan cadik atau tambahan layar kecil – masih tetap hadir dan digunakan warga mengarungi Sungai Malili hingga memasuki tahun 1990-an.

Penulis sendiri masih sempat menemui beberapa di antaranya dalam rentang tahun itu, ketika sebagian besar aktifitas warga untuk mandi, minum, hingga buang air, masih dilakukan di jernih arus Sungai Malili.

1980–2003: Mesin Engkol dan Perubahan Wajah Sungai 

Memasuki dekade 1980-an, ekspansi mesin engkol telah memuncaki kehidupan masyarakat sungai. Perahu bercadik dan perahu bermotor mulai menggantikan perahu dayung tradisional. Bersamaan dengan itu, jumlah pembuat perahu kayu tradisional juga mulai berkurang.

Sungai tetap ramai, tetapi hubungan masyarakat dengan dayung perlahan berubah.  Perlombaan perahu masih berlangsung, namun bentuk lambung perahunya mulai lebih gemuk dan berubah mengikuti perkembangan teknologi transportasi sungai.

Gelaran lomba perahu tradisional ketika itu, lebih tampak serupa nostalgia dari mulai memudarnya peran-perannya dalam keseharian. Semacam upaya bertahan dari kehadiran perahu bermesin, yang mulai muncul berdampingan tetapi perlahan menggantikan fungsi perahu dayung tradisional.

Sementara itu, seiring kian pesatnya dekade pembangunanisme oleh pemerintah pusat, pula menandai bergesernya fungsi sungai, dari ruang hidup utama masyarakat, menjadi ruang yang perlahan berbagi peran dengan jalan raya dan kendaraan darat.

2003–2010: Luwu Timur Berdiri dan Tradisi Mulai Diarsipkan

 

Ketika Lutim resmi berdiri sebagai daerah otonom pada 2003, kawasan Sungai Malili mulai ditata sebagai wajah ibu kota daerah. Pada fase ini, lomba perahu mulai lebih rutin digelar dalam rangka HUT RI, pesta rakyat, maupun dalam momen-momen budaya seperti pesta laut atau Maccera Tasi‘.

Suasana perlombaan ketika itu masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Penonton memadati bantaran sungai secara spontan tanpa tribun permanen maupun tata panggung besar. Meski perlahan, lomba terus berubah dari tradisi spontan masyarakat menjadi kegiatan yang lebih terorganisasi.

Pemerintah daerah mulai melihat Sungai Malili bukan hanya sebagai ruang aktivitas warga, tetapi juga sebagai aset wisata dan identitas daerah. Perahu yang digunakan ketika itu, umumnya lebih kecil, dengan lengkung pada bagian bawah perahu yang lebih gemuk dan menonjol, serta haluan dan buritan yang lebih pendek.

2011–2012: Era Perahu Bala-Bala dan Perahu Hias

Awal 2010-an menjadi fase penting perubahan budaya sungai di Malili. Pada periode ini, Perahu Bala-Bala mulai populer digunakan masyarakat. Perahu kecil bermesin tanpa cadik itu dianggap lebih cepat, ringan, dan praktis dibanding perahu tradisional lama.

Berbeda dari garis lengkung bongsor pada perahu tradisional, Bala-bala umumnya memiliki bentuk lambung tak terlalu melengkung, menyerupai katinting tapi tanpa cadik. Banyak di antaranya juga dibuat memiliki alas bagian lambung yang hampir rata agar tak mudah oleng.

Tradisi lomba Perahu Bala-Bala kemudian berkembang menjadi hiburan rakyat yang cukup populer di Sungai Malili. Jejak perubahan ini masih dapat ditemukan melalui video amatir warga dan dokumentasi media sosial lama.

Pada periode yang hampir bersamaan, parade perahu hias mulai muncul dalam berbagai agenda pesta rakyat dan perayaan daerah. Kehadiran perahu hias menunjukkan bahwa sungai perlahan tidak lagi dipandang semata sebagai jalur transportasi, tetapi mulai diposisikan sebagai ruang pertunjukan budaya dan atraksi visual.

Tradisi Perahu Bala-Bala sendiri kemudian diketahui sempat vakum selama 13 tahun sebelum kembali digelar pada 2025. (Jaeja.id), namun bersamaan pula dengan itu, perahu dayung tradisional telah semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

2018–2019: Festival Sungai Malili dan Era Festivalisasi

 

Perubahan paling besar mulai terlihat ketika Festival Sungai Malili berkembang menjadi agenda budaya tahunan daerah. Sejak keberhasilan Festival Danau Matano yang dihelat di sekitar tahun 2015, Pemerintah daerah juga mulai serius menjadikan Sungai Malili sebagai ruang wisata, pusat festival budaya dan ikon daerah.

Dokumentasi sejak tahun 2018 memperlihatkan perubahan suasana yang sangat mencolok. Tribun penonton mulai dipadati warga, dekorasi festival telah memenuhi bantaran sungai, dokumentasi menggunakan drone juga mulai muncul, dan lomba perahu mulai menjadi bagian dari promosi wisata daerah.

Dalam Festival Sungai Malili 2018, pemerintah daerah menyebut Sungai Malili sebagai, “saksi peradaban di Kota Malili dahulu” (kumparan.id). Pada periode inilah perahu naga mulai tampil dominan. Perlombaan menjadi lebih besar, lebih meriah, dan lebih kompetitif.

Setahun setelahnya, pada 2019, pihak Pemda Lutim menggelar lomba dayung perahu naga yang diikuti 28 tim dari berbagai kecamatan dan organisasi masyarakat. Start perlombaan dilakukan dari Pelabuhan Syahbandar Malili menuju Jembatan Sungai Malili. (Antara News Makassar).

Modernisasi festival membuat perlombaan semakin semarak dan menarik wisatawan. Biar begitu, bagi sebagian warga perubahan itu juga menghadirkan nostalgia. Sungai Malili dianggap lebih menyatu dengan perahu-perahu ramping tradisional yang lincah melawan arus dibanding perahu naga modern yang besar dan lebih bongsor.

Di titik inilah muncul semacam dilema budaya, antara kebutuhan menjadikan sungai sebagai ruang wisata modern, dan kerinduan terhadap tradisi lama yang perlahan menjauh.

2020–2021: Pandemi dan Sungai yang Mendadak Sunyi

Pandemi COVID-19 membuat sebagian besar festival dan keramaian berhenti sementara. Aktivitas budaya di Sungai Malili ikut melambat seiring pembatasan kegiatan masyarakat.

Tidak banyak pemberitaan mengenai perlombaan perahu pada periode ini. Situasi tersebut menunjukkan bahwa banyak agenda festival memang mengalami penundaan atau penghentian sementara akibat pandemi yang berlangsung hampir di seluruh Indonesia.

Dokumentasi media sosial warga pada masa itu memperlihatkan bantaran Sungai Malili yang jauh lebih lengang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada riuh pengeras suara, tidak ada kerumunan penonton, dan tidak ada gegap-gempita festival.

Namun dalam masa sunyi itu, sebagian warga justru kembali mengingat hubungan lama mereka dengan sungai. Ketika aktivitas wisata berhenti, Sungai Malili seakan kembali menjadi ruang keseharian masyarakat; tempat memancing, melintas, atau sekadar menikmati arus yang selama ini tertutup hiruk-pikuk festival.

2022–Sekarang: Tradisi Lama dalam Wajah Baru

Setelah pandemi mereda, Festival Sungai Malili kembali digelar dengan skala lebih besar. Lomba perahu naga, parade kapal hias, hingga Perahu Bala-Bala kembali meramaikan Sungai Malili.

Tahun-tahun paska-pandemi menjadi momen kebangkitan suasana pesta rakyat. Lomba perahu tidak lagi sekadar perlombaan warga, tetapi telah menjadi atraksi budaya, agenda wisata, ruang ekonomi masyarakat, sekaligus identitas daerah.

Pada 2025, lomba perahu naga dan Perahu Bala-Bala bahkan kembali hadir hampir bersamaan. Momen itu seolah ingin menghadirkan bentuk tradisi yang belum sepenuhnya tergerus di tengah dominasi festival modern.

Perahu Bala-Bala yang sempat vakum panjang, kembali dihidupkan sebagai bagian dari nostalgia budaya sungai. Sementara itu, pada peringatan HUT ke-23 Lutim tahun 2026 ini, lomba perahu naga kembali digelar meriah di Sungai Malili.

Sejumlah peserta dikabarkan datang dari luar daerah. Bupati Lutim Irwan Bachri Syam, bahkan menyebut kegiatan tersebut, tak sekadar ajang hiburan dan pelestarian olahraga tradisional, tetapi juga “sarana menjaring bibit-bibit atlet potensial yang dapat mengharumkan nama daerah” (luwutimurkab.go.id).

Meski perubahan terus berlangsung, dan nostalgia lintas generasi perlahan berhadapan dengan modernitas, termasuk hadirnya hiburan-hiburan baru seperti gim daring dan budaya digital, tradisi lomba perahu tampaknya masih menyimpan sesuatu yang lebih dalam bagi masyarakat Malili.

Ungkapan Sahar tentang keseruan perahu tradisional yang gesit (wajib dayung tanpa mesin) adalah semacam siluet dari ingatan masa silam yang hadir seiring perubahan-perubahan yang terus berlangsung dalam lomba perahu tradisional itu.

Ia setidaknya menjadi ruang untuk menjaga ingatan tentang sungai dan kehidupan yang pernah tumbuh di atasnya. Bahwa, di Sungai Malili, suara dayung dahulu bukan sekadar bunyi kayu membelah air. Ia telah tumbuh dalam denyut kehidupan warga yang terus berusaha dipertahankan, meski bentuknya selalu berubah mengikuti arus zamannya.