Catatan untuk Kongres X IPMALUTIM: Jaga Marwah Organisasi, Tegaskan Arah Perjuangan!

waktu baca 2 menit
Kamis, 14 Mei 2026 22:33 0 1341 Tim Redaksi

Oleh: Asri Tadda (Alumni IPMALUTIM)

 

KONGRES X Ikatan Pelajar Mahasiswa Luwu Timur (IPMALUTIM) yang akan dibuka Jumat (15/5/2026) seharusnya tidak hanya jadi sekadar agenda pergantian kepemimpinan saja. Momentum ini sejatinya menjadi titik penting dalam menentukan masa depan organisasi yang telah lebih dua dekade ini.

Apakah IPMALUTIM tetap menjadi rumah perjuangan intelektual mahasiswa Luwu Timur, atau justru terjebak dalam pusaran kepentingan politik praktis yang merusak independensinya.

Sebagai organisasi mahasiswa berbasis kedaerahan, IPMALUTIM memiliki posisi strategis. Ia bukan hanya wadah berkumpulnya pelajar dan mahasiswa asal Luwu Timur, tetapi juga seharusnya menjadi kekuatan moral, sosial, dan intelektual yang mampu hadir sebagai mitra kritis pemerintah daerah.

Dalam posisi itu, IPMALUTIM dituntut mampu menjalankan dua peran utama mahasiswa, yaitu sebagai agent of change dan agent of social control.

Karena itu, Kongres X harus melahirkan pemimpin yang benar-benar memahami daerahnya, mengenali persoalan rakyatnya, dan memiliki keberanian untuk bersikap independen.

Ketua terpilih tidak boleh menjadi representasi kepentingan mantan kekuasaan maupun kekuasaan yang sedang berjalan. Organisasi akan kehilangan marwahnya ketika pemimpinnya terjebak sebagai underbouw elit politik tertentu—baik menjadi “orangnya” rezim sebelumnya maupun “orangnya” rezim hari ini.

Ketua IPMALUTIM ke depan harus berdiri di atas kepentingan organisasi, bukan kepentingan figur politik. Ia harus hadir sebagai pemimpin kader, bukan perpanjangan tangan kekuasaan. Sebab ketika organisasi mahasiswa kehilangan independensi, maka yang rusak bukan hanya struktur kepengurusan, tetapi juga kepercayaan kader dan masyarakat terhadap perjuangan mahasiswa itu sendiri.

Di tengah dinamika yang terjadi di Luwu Timur belakangan ini, maka IPMALUTIM membutuhkan pemimpin yang berintegritas, visioner, memahami persoalan daerah, berani bersikap kritis, serta tidak mudah dikendalikan oleh kepentingan eksternal.

Kongres ini harus menjadi ruang konsolidasi gagasan, bukan sekadar arena perebutan posisi. Yang dibutuhkan bukan siapa yang paling dekat dengan elit, tetapi siapa yang paling siap memperjuangkan kepentingan mahasiswa dan masyarakat Luwu Timur secara independen.

Marwah organisasi harus dijaga. Sebab sejarah menunjukkan, organisasi mahasiswa yang besar adalah organisasi yang mampu menjaga jarak dari kooptasi kekuasaan, tanpa kehilangan keberanian untuk mengoreksi pemerintah, jika kebijakannya tidak berpihak pada rakyat.

Kongres X IPMALUTIM adalah ujian kedewasaan kader. Apakah IPMALUTIM akan tetap menjadi organisasi perjuangan, atau berubah menjadi kendaraan politik kelompok tertentu? Jawabannya tentu akan ditentukan oleh pilihan kader hari ini.

Selamat ber-Kongres. Jaga independensi. Rawat idealisme. Dan pastikan IPMALUTIM tetap menjadi milik mahasiswa, bukan alat kekuasaan!

Makassar, 14 Mei 2026