
SOROWAKO – The Sawerigading Institute (TSI) merilis hasil investigasi berjudul “Pentingnya Menghitung Neraca Air di Balik Ekonomi Baterai Sorowako 2.0”.
Laporan yang diterbitkan 25 September 2026 itu, membedah potensi ancaman krisis air di balik proyek pengolahan nikel terbaru PT. Vale Indonesia di Sorowako, Nuha.
PT. Vale Indonesia sedang membangun Indonesia Growth Project (IGP) Sorowako Limonite, disingkat Sorlim.
Proyek senilai sekitar US$.1,9 miliar akan mengolah limonite menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik lewat teknologi High Pressure Acid Leach atau HPAL, dengan target produksi 60.000 ton nikel dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun.
TSI mencatat penyelesaian proyek ditargetkan rampung akhir 2028. Kehadiran Sorlim membuat kebutuhan air Sorowako makin krusial untuk dihitung, sebab air di kawasan itu selama ini bukan sekadar bahan baku produksi.
Tiga pembangkit listrik tenaga air milik Vale – Larona, Balambano, dan Karebbe – memiliki kapasitas terpasang total sekitar 365 MW. Sebagian energi dipakai untuk operasi perusahaan, sebagian lagi dialirkan lewat PLN untuk kebutuhan masyarakat di Lutim.
TSI menulis, air di Sorowako “telah menjadi bagian dari infrastruktur energi yang membuat industri itu bisa berjalan dengan biaya relatif murah.”
Danau Matano, Mahalona, dan Towuti turut menopang perikanan, pertanian, transportasi, serta kebutuhan domestik warga sekitar, sehingga neraca air tidak bisa lagi dilihat sebelah mata ketika aktivitas industri terus berkembang.
Soal berapa besar kebutuhan air itu, Laporan Keberlanjutan 2025 PT. Vale mencatat pengambilan air di Sorowako mencapai 15.079.167 meter kubik sepanjang tahun, seluruhnya bersumber dari Danau Matano – setara sekitar 41 ribu meter kubik per hari.
Produksi nickel matte pada periode sama tercatat 72.027 ton, dengan intensitas pengambilan air 209,35 meter kubik per ton.
Vale melaporkan total air yang dilepaskan kembali ke lingkungan mencapai sekitar 89,7 juta meter kubik, dialirkan ke Danau Matano, Danau Mahalona, Salo Lamunto, dan Sungai Petea.
Pertanyaan mengenai air menjadi kian relevan begitu proyek HPAL masuk hitungan, sebab teknologi tersebut dikenal membutuhkan sumber daya air jauh lebih besar dibanding metode pengolahan nikel konvensional.
TSI mengutip data PT. Halmahera Persada Lygend, operator HPAL lain di Indonesia, yang melaporkan penggunaan air sekitar 126 meter kubik untuk setiap ton MHP yang dihasilkan.
Memakai angka pembanding tersebut sebagai skenario ilustratif, kebutuhan air kapasitas 60.000 ton MHP per tahun bisa mencapai 7,56 juta meter kubik per tahun, atau lebih dari 20 ribu meter kubik per hari.
Meski begitu, TSI tetap menegaskan bila angka itu bukan proyeksi resmi Vale, sebab kebutuhan air tahunan fasilitas HPAL Sorlim belum dipublikasikan secara spesifik.
Ancaman terhadap pasokan air ternyata tidak melulu datang dari sisi industri. BMKG mencatat kondisi El Niño sangat kuat pada September 2026, dengan sebagian wilayah Sulawesi berada dalam peringatan kekeringan.
Lutim sendiri masuk daftar wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah pada Oktober 2026, berkisar 0–100 milimeter per bulan.
Contoh dampak nyata datang dari Morowali, tempat Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengonfirmasi kekurangan air terkait El Niño pada September 2026, memaksa sejumlah smelter mengurangi produksi NPI sembari mencari sumber air alternatif.
Di tengah pembicaraan mengenai masa depan ekonomi baterai Sorowako, TSI juga menemukan kejanggalan pada dua halaman resmi Vale.
Halaman manajemen air dan efluen mencantumkan angka pengambilan air Sorowako sekitar 31,59 juta meter kubik, sedangkan Laporan Keberlanjutan 2025 mencatat 15,08 juta meter kubik.
Angka 31,589 juta ternyata juga muncul dalam laporan tahunan 2025 sebagai angka penggunaan energi Sorowako dalam satuan gigajoule, bukan meter kubik air.
TSI menilai perbedaan itu sebagai “perbedaan pengungkapan yang layak memperoleh penjelasan lebih rinci agar publik tidak membaca angka yang berbeda untuk objek yang sama.”

