
MALILI – Tiga kali gong itu dibunyikan, menjadi tanda dimulainya pertandingan. Sebagai ajang turnamen Domino yang dihadiri hingga 1536 pasang peserta dengan tak kurang dari 3.072 orang ikut hadir, suasana Lapangan Pendidikan, Puncak Indah, pada Sabtu (28/6/2026), terasa cukup sesak.
Wakil Ketua Persatuan Olahraga Domino Indonesia (Pordi) Sulawesi Selatan (Sulsel), Fadriaty AS, yang menabuh gong di siang itu, terlihat cukup antusias.
Ia bahkan mengatakan bila total hadiah sebesar Rp.400 juta dalam turnamen ini sudah memecahkan rekor di Sulsel. Dan, itu pula tampaknya, yang membuat ribuan peserta datang dari seantero negeri.
“Peserta-peserta yang hadir pada sore hari ini sebanyak 15 provinsi. Beginilah kondisinya Luwu Timur,” ucap Najamuddin, Ketua Panitia Open Turnamen Domino Bupati Cup I dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Lutim ke-23 tersebut.
Peserta dari Lombok Timur, Magelang, Palembang, hingga Papua Barat, turut memadati arena. Namun, dominasi jumlah peserta tetap dipegang Luwu Utara, dengan ratusan pasangan pemain yang hadir meramaikan.
“Pordi terbanyak Luwu Utara dengan total 302 slot. Artinya orang Luwu Utara hari ini datang di Luwu Timur lebih 700 orang. Kemudian, disusul Pordi Palopo 123 slot. Kemudian disusul Kolaka Utara. Berarti Kolaka Utara juga ini hampir semua pa’domino, 77 slot,” lapor Najamuddin.
Ketika pertandingan dimulai, arena perlahan berubah dari suasana ramai menjadi konsentrasi massal. Siang itu mereka harus beradu strategi di setidaknya delapan group berbeda.
Tenda-tenda yang telah dibagi ke dalam empat zona, terlihat disiapkan pihak penyelenggara dengan cukup unik. Ada Bulu Poloe, Uelanti, Matano, dan Ujung Suso, tampak seperti wilayah-wilayah kecil dengan masing-masing denyut kompetisinya sendiri.
Di bawah tenda itulah puluhan meja terisi penuh. Kartu-kartu dikocok cepat, membawa suara gesekan khas yang bersahutan dari berbagai arah. Sesaat ketika kartu telah di tangan, segera dahi para pemain mulai mengernyit.
Momen itu menjadi signal bagi para peserta untuk segera membaca jalannya permainan, memperkirakan yang telah keluar, menebak yang masih tersimpan, pula mencari celah untuk menutup ruang gerak kartu lawan.
Karena menggunakan sistem gugur, tekanan pertandingan sudah terasa sejak awal. Di beberapa meja, pertandingan selesai hanya dalam beberapa kali kocokan kartu.
Saat malam tiba, setengah dari pasangan peserta sudah harus puas melihat pemain lain berlaga, dari samping dan belakang kursi-kursi mereka.
Memperhatikan wajah-wajah yang masih terus mengernyitkan dahi, saling melirik kartu, menimbang cermat kartu-kartu yang masih tersisa di tangan, juga menghitung penuh telisik bilangannya yang terbuka di atas meja.
Wajah-wajah kecewa mulai terlihat. Ada pasangan yang sempat terdiam beberapa saat setelah kalah, lalu berdiri meninggalkan kursi dengan senyum tipis dan tepukan bahu dari rekannya.
Hingga sesi berakhir di malam itu, lebih dari setengah peserta telah dinyatakan kalah dan tak lagi bisa bermain dalam sesi selanjutnya.
“Sisa peserta dari keseluruhan 2 sesi ada 512 dari 1024 peserta yang ikut sistem gugur pertama tadi,” ujar seorang peserta menceritakan. Ia termasuk salah satu yang masih ikut-serta ke putaran berikutnya.
Pertandingan selanjutnya, pada Minggu (28/6/2026), akan dilanjutkan untuk 512 pasangan yang tersisa. Mereka akan kembali beradu dalam sistem gugur tahap kedua, di permulaan pagi demi peruntungan yang lumayan.