Malam Konsolidasi di Loeha Raya, Petani Lada Tegaskan “Siap Perang” Lawan Tambang

waktu baca 3 menit
Minggu, 30 Agu 2026 15:14 0 1276 Arsal Amiruddin
 

LOEHA RAYA – Sebaran undangan itu sejak siang, Sabtu (29/8/2026), memecah kesunyian grup. Satu pesan singkat berbentuk poster hijau-hitam bergambar barisan petani beredar dengan tajuk “Undangan Rapat Petani”.

Di bagian bawah poster tertera keterangan yang tak membutuhkan penjelasan panjang. Rapat dijadwalkan berlangsung Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 19.00 WITA hingga selesai, bertempat di Posko Induk, Puncak, Desa Ranteangin.

“Semua Petani Diundang,” sebut isi poster yang ditandatangani atas nama Asosiasi Petani Lada (APL) Loeha Raya, organisasi yang selama ini membersamai sikap warga dalam menghadapi isu tambang di wilayah mereka.

Beberapa jam sebelum matahari benar-benar tenggelam, sebuah video pendek ikut beredar. Rekaman berdurasi kurang dari satu menit itu memperlihatkan sekelompok orang memasang spanduk raksasa pada rangka besi, tepat di depan sebuah bangunan yang masih dalam tahap konstruksi.

“Kami Petani Lada Loeha Raya Menolak Kehadiran Tambang di Loeha Raya. Kami Siap Perang Untuk Mempertahankan Sumber Kehidupan Kami,” tampak tertera dalam spanduk.

Di area itulah para petani lada bersiap untuk sebuah perjumpaan malam. Selepas magrib, satu demi satu warga mulai berdatangan ke posko dan berkumpul di bawah spanduk yang beberapa jam sebelumnya baru saja terpasang.

Rapat berlangsung cukup intens. Suasana sempat diwarnai ketegangan ketika sejumlah peserta mengusulkan agar mekanisme organisasi tetap mengagendakan perombakan struktur hingga penyegaran kepengurusan.

Meski begitu, dari pertemuan satu keputusan penting akhirnya lahir. Ali Kamri Nawir kembali dipercaya memimpin APL Loeha Raya untuk periode berikutnya, setelah terpilih secara aklamasi oleh peserta yang hadir.

“Pimpinan lama kembali terpilih secara aklamasi dengan dukungan mayoritas peserta yang hadir,” tulis Ali Kamri Nawir, saat dihubungi terkait gelaran pertemuannya, di Minggu siang (30/8/2026).

Suasana syukur atas hasil rapat semalaman masih terasa siang itu di antara anggota. Hamrullah Sidampang, salah satu anggota APL Loeha Raya, menyampaikan harapannya agar kepemimpinan yang baru saja diteguhkan itu tetap berpihak pada kepentingan petani.

“Masih menanamkan kepercayaan penuh pada kakak luar biasa kalau berdiri untuk masyarakat banyak, insyaallah,” tulisnya.

Bagi Hamrullah, perjuangan yang tengah dijalani petani Loeha Raya bukan sekadar urusan lokal. Ia menyebutnya sebagai contoh yang mestinya turut menginspirasi perlawanan serupa di daerah lain.

“Berjuang kak, hanya kitalah yg betul murni berjuang di Loeha Raya. Kami dukung terus perjuanganta, karna petani Loeha Raya dan pejuang Loeha Raya yg harus jadi contoh perlawanan di seluruh Indonesia,” ia mengatakan.

Harapan itu datang di tengah rangkaian persoalan yang sebenarnya sudah lama membayangi petani lada Loeha Raya. Persoalan tersebut tak hanya berkaitan dengan rencana tambang, tetapi juga menyentuh aspek hukum dan penguasaan wilayah.

Wilayah ini sebelumnya disorot lewat kasus penangkapan petani lada oleh Gakkum Kehutanan di Loeha Raya, Towuti.

Langkah penegakan hukum itu oleh sejumlah pihak dinilai kontras dengan perlakuan yang diterima korporasi tambang atas wilayah konsesi mereka.

Nama Blok Tanamalia milik PT. Vale juga sempat mengemuka dalam pembicaraan warga soal ancaman terhadap lahan mereka. Di titik itulah spanduk penolakan tambang tampak saling berkelindan.

Seluruhnya menjadi bagian dari dinamika terbaru perjuangan petani lada Loeha Raya, menghadapi rencana pertambangan di wilayah mereka.

Kepemimpinan yang baru diteguhkan, harus dihadapkan pada pekerjaan rumah yang tidak ringan. Salah satunya menjaga sumber kehidupan petani lada di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah.

Mulai dari rencana tambang, persoalan konsesi, hingga proses hukum yang menyasar warga mereka sendiri, APL Loeha Raya masih akan berhadapan dengan rangkaian persoalan yang belum selesai.