LUWU TIMUR — Kebocoran pipa minyak jenis High Sulphur Fuel Oil (HSFO) milik PT Vale Indonesia di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, menimbulkan keresahan mendalam bagi warga.
Insiden yang terjadi pada Sabtu (23/8/2025) itu membuat puluhan hektare lahan persawahan masyarakat terancam gagal panen akibat tercemar material limbah.
Warga setempat menuturkan, aliran minyak dari pipa bocor merembes ke area persawahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama mereka.
“Sawah kami sudah hitam terkena tumpahan minyak. Kalau begini, jangankan panen, padi yang ada bisa mati semua,” ungkap salah seorang petani di Desa Matompi dengan nada kecewa.
Padahal, PT Vale selama ini dikenal sebagai perusahaan tambang yang mengantongi sejumlah penghargaan di bidang lingkungan, termasuk sertifikasi ISO 14001 dan Proper Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Namun kenyataan di lapangan memunculkan paradoks: prestasi gemilang justru berbanding terbalik dengan fakta pencemaran yang dialami warga.
Kondisi ini juga memantik kritik publik terhadap tanggung jawab perusahaan dalam mengelola risiko lingkungan.
Aktivis lingkungan menilai, insiden seperti ini tak seharusnya terjadi, terlebih pada perusahaan berskala besar yang memiliki standar internasional.
“Masyarakat yang paling dirugikan, karena mereka langsung merasakan dampaknya di sawah, di dapur, bahkan di meja makan,” ujar salah satu pegiat lingkungan di Luwu Timur.
Sementara Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam (Ibas), mengungkapkan bahwa lahan yang terdampak tersebar di lima desa, yakni Desa Lioka, Asuli, Timampu, Patompi, dan Baruga.
“Kalau berdasarkan laporan dari tim yang sudah saya bentuk, itu kurang lebih 30 hektare area persawahan yang terdampak. Itu termasuk sawah, empang, dan sumber pendapatan warga lainnya,” kata Ibas, Senin (25/8/2025).
Menurutnya, luasan lahan terdampak masih berpotensi bertambah karena aliran air terus bergerak ke desa-desa lain. Ia memastikan sawah maupun tambak ikan yang terkena tumpahan minyak akan gagal panen.
“Kalau gagal panen, itu sudah pasti. Karena sudah tercemari minyak,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur telah membentuk tim bersama PT Vale, TNI, dan Polri untuk menangani kebocoran sekaligus mendata kerugian warga. Ibas menegaskan perusahaan siap bertanggung jawab memberikan ganti rugi.
“Vale sudah mengakui musibah ini sangat merugikan masyarakat. Jadi nanti akan dihitung berapa kerugiannya dan perusahaan siap mengganti,” jelasnya.
PT Vale melalui keterangan resminya menyatakan telah mengambil langkah cepat dengan menghentikan aliran pipa, melakukan pembersihan, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengurangi dampak yang terjadi.
Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menegaskan perusahaan menempatkan keselamatan warga dan pemulihan lingkungan sebagai prioritas utama. Ia meminta doa serta dukungan semua pihak agar penanganan darurat bisa segera tuntas.
“Fokus utama kami adalah menghentikan penyebaran aliran minyak, dan kami bekerja bersama pemerintah daerah serta seluruh pemangku kepentingan,” kata Bernardus dalam keterangan pers.
Ia menambahkan, seluruh proses pemulihan, mulai dari rehabilitasi ekosistem hingga penanganan dampak sosial, akan dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas publik.
“Semua proses pemulihan akan dijalankan dalam koordinasi erat dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan pihak terkait. PT Vale akan bertanggung jawab penuh,” tandas Bernardus.
Meski begitu, warga tetap berharap ada langkah lebih konkret untuk menjamin keamanan lahan pertanian mereka ke depan.
“Kami butuh kepastian, jangan hanya janji. Kalau padi kami mati, siapa yang ganti makan keluarga kami?” tutur seorang petani lainnya.
Kini, masyarakat menunggu tindak lanjut serius dari PT Vale dan pemerintah daerah agar insiden serupa tidak terulang. Sebab, bagi petani di Towuti, sawah bukan sekadar lahan, melainkan sumber hidup yang menentukan masa depan keluarga mereka. (*)