Kemiskinan Ekstrem Tinggi, Lutim Disebut Alami Kutukan Sumber Daya Alam

waktu baca 3 menit
Rabu, 1 Jul 2026 03:08 0 1337 Arsal Amiruddin
 

MAKASSAR – Tingginya angka kemiskinan ekstrem di Lutim di tengah besarnya kekayaan sumber daya alam dinilai mencerminkan fenomena paradox of plenty atau resource curse (kutukan sumber daya alam).

Pandangan tersebut mengemuka menyusul sorotan terhadap kondisi kemiskinan ekstrem di Lutim yang dinilai masih menjadi tantangan di tengah kapasitas ekonomi daerah yang ditopang sektor pertambangan.

Sejumlah data yang digunakan dalam kajian menunjukkan angka kemiskinan ekstrem di Lutim masih berada pada level yang relatif tinggi dibandingkan sejumlah daerah lainnya

Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Marsuki DEA, yang dimintai tanggapannya, Selasa (30/6/2026), menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum otomatis diikuti pemerataan kesejahteraan masyarakat.

“Dalam perspektif ilmu ekonomi, fenomena seperti ini dikenal sebagai paradox of plenty atau resource curse. Daerah memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, tetapi manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah karakter industri pertambangan yang bersifat padat modal, bukan padat karya. Industri ini membutuhkan investasi besar serta tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan pengalaman khusus sehingga manfaat ekonomi lebih banyak mengalir kepada pemilik modal dan pekerja berkeahlian tinggi.

Akibatnya pendapatan yang dihasilkan sektor pertambangan tidak sepenuhnya berputar di tengah masyarakat lokal, meski secara statistik tetap tercatat sebagai komponen pembentuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

“Pertumbuhan ekonominya tinggi karena ditopang sektor tambang, tetapi masyarakat lokal belum tentu menikmati hasilnya. Dalam bahasa sederhana, ini bisa disebut sebagai PDRB yang bersifat semu. Angkanya besar, tetapi kesejahteraan masyarakat tidak meningkat secara proporsional,” kata Marsuki.

Ia mengingatkan, apabila kondisi tersebut tidak segera direspons melalui kebijakan yang tepat, berbagai persoalan sosial berpotensi semakin melebar, mulai dari meningkatnya ketimpangan pendapatan, pengangguran, hingga kemiskinan.

Selain itu, sektor pertambangan juga dinilai belum mampu menciptakan multiplier effect yang kuat terhadap sektor-sektor ekonomi lain karena keterkaitan ke belakang (backward linkage) maupun ke depan (forward linkage) masih relatif lemah.

Di sisi lain, penggunaan anggaran pemerintah daerah juga perlu diarahkan agar lebih berpihak pada pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, belanja fiskal selama ini masih cenderung terserap untuk mendukung kebutuhan dasar investasi dan belanja administratif pemerintahan, sementara alokasi yang mendorong penguatan ekonomi rakyat masih perlu ditingkatkan.

Karena itu, pemerintah daerah didorong mengoptimalkan pemanfaatan APBD untuk memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), membangun kebijakan link and match antara program pembangunan dengan kebutuhan industri, serta memperkuat kemitraan dengan perusahaan dalam penyaluran bantuan sosial yang lebih terarah.

“Bantuan sosial dan program pemberdayaan harus menyasar kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan agar mereka mampu memenuhi kebutuhan dasar pangan, kesehatan, kebersihan, dan pendidikan. Dengan begitu, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan,” ujar Marsuki.

Ia menegaskan, keberhasilan pembangunan di daerah penghasil sumber daya alam tidak cukup diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi ataupun besarnya PDRB, tetapi dari sejauh mana manfaat pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

“Kalau pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi kemiskinan ekstrem masih bertahan, berarti ada mata rantai pembangunan yang belum tersambung. Inilah yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah ke depan,” pungkasnya. (*)