84 Siswa Kursus UCMAS Lutim, Bakal Beradu di Olimpiade Aritmatika Nasional

waktu baca 3 menit
Senin, 22 Jun 2026 11:40 0 1333 Arsal Amiruddin
 

LUTIM – Sejak gerakan literasi pernah digemakan cukup jauh hingga menyasar komunitas warga sampai ke desa-desa, masih sedikit pegiat literasi daerah yang mampu membawanya lebih jauh, melampaui sekadar kecakapan dasar baca-tulis.

Jenjang kecakapan matematis kerap menjadi persoalan tersendiri. Selain pembiasaannya yang jarang dilakukan sedari dini, saat era kalkulator mulai merambah kehidupan sehari-hari pada dekade 1980-an, kebiasaan berhitung manual perlahan tergerus dan jarang dianggap penting untuk diasah.

Padahal, teknik-teknik berhitung cepat punya cara lain yang tak kalah mumpuni. Kini mesin memang dapat melakukan model-model perhitungan kompleks di luar nalar manusia, tapi tanpa kecakapan dasar yang memadai, jenjang-jenjang itu sulit dibawa lebih jauh ke tingkat kompleksitas berikutnya.

Salah satu upaya menjawab kesenjangan itu datang dari arah yang mungkin tak banyak diketahui warga Lutim. Program pendidikan non-formal berbasis sempoa bernama UCMAS (Universal Concept of Mental Arithmetic System), yang belakangan mulai merintis kehadirannya di sejumlah kecamatan.

Pada Senin (22/6/2026) pagi, di halaman Kantor Bupati Lutim, 84 siswa-siswi UCMAS itu, dilepas secara resmi oleh Bupati Lutim, Irwan Bachri Syam, untuk mengikuti Olimpiade Aritmatika Nasional UCMAS 2026.

Ajang itu dijadwalkan berlangsung pada Minggu (28/6/2026) di Four Points by Sheraton, Makassar. Dalam unggahan di media sosial menyambut momentum tersebut, pemilik dan direktur UCMAS Lutim, Linus Bua, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah daerah.

“Terima-kasih kepada pemerintah Kab. Luwu Timur yang menyambut baik kehadiran UCMAS untuk membantu pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan UCMAS fokus untuk menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan anak-anak sehingga anak lebih mudah fokus, memori kuat dan kreatif yang semakin berkembang,” tulis Linus.

Dihubungi usai acara pelepasan itu, Linus menjelaskan lebih jauh soal skala dan metode UCMAS, yang menurutnya kini telah berkembang luas secara global.

“UCMAS sekarang berada di 92 negara. Sempoa terbesar, sempoa yang dua tangan enam jari. Lalu program kursus itu, anak-anak yang datang kesana. Yang memilih program sekolah, belajar di sekolah. Kalau ekstra mereka ikut ekstra, kalau intra, sejauh ini belum ada di Lutim tapi mudah-mudahan ke depan ada,” ujarnya.

Ia menyebut pusat UCMAS berada di Malaysia, dan telah berkembang ke banyak negara termasuk Indonesia. Soal jejaring usahanya di Lutim, Linus mengonfirmasi sejauh ini tengah menggarap di beberapa tempat.

“Saat ini baru hadir di Nuha, Towuti, Wasuponda, dan Malili. Semoga ke depan bisa hadir di semua kecamatan,” ujar Linus, yang saat dihubungi katanya kini sudah berkendara menuju Toraja.

Berdasarkan penelusuran, secara umum UCMAS mengandalkan metode mental aritmatika menggunakan sempoa sebagai alat bantu, dengan klaim manfaat berupa peningkatan kemampuan berhitung cepat, daya ingat, konsentrasi, dan kreativitas anak.

Selain program inti mental aritmatika, lembaga ini juga menawarkan sejumlah program turunan untuk jenjang usia berbeda, mulai dari matematika kreatif untuk anak usia dini, hingga program pemetaan pikiran dan memori untuk jenjang sekolah dasar.

Bagi Lutim, kehadiran UCMAS — meski masih terbatas di empat kecamatan — setidaknya membuka satu jalur tambahan untuk menjawab persoalan kecakapan berhitung dalam jenjang kecakapan literasi kedua setelah baca-tulis.

Sejauh program ini bisa menjangkau lebih banyak kecamatan, ruang bagi anak-anak Lutim dalam mengasah kecakapan dasar itu pun akan ikut meluas.

Setidaknya memastikan, bahwa di tengah ketergantungan kita pada ragam teknologi dan kalkulasi digital, ternyata ada banyak cara mudah untuk membawa otak kita minimal setara kalkulator.