Amran Sulaiman: Insiden Pipa Minyak Vale di Luwu Timur Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan

waktu baca 2 menit
Minggu, 14 Sep 2025 17:44 0 1357 Tim Redaksi
 

MAKASSAR – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kebocoran pipa minyak milik PT Vale di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, tidak berdampak signifikan terhadap program ketahanan pangan nasional.

Amran menyebut, lahan persawahan warga yang tercemar hanya sekitar 82 hektare. Angka tersebut dinilai sangat kecil bila dibandingkan dengan total luas sawah produktif di Indonesia yang mencapai 7,3 juta hektare.

“Kalau dibandingkan skala nasional, itu hanya nol koma sekian persen. Jadi tidak mengganggu program swasembada pangan,” ujar Amran usai menghadiri Dies Natalis ke-69 Universitas Hasanuddin di Baruga AP Pettarani, Makassar, Sabtu (13/9/2025).

Lebih lanjut, Amran menyampaikan bahwa pemerintah justru sedang memperluas areal persawahan.

Tahun ini ditargetkan pembukaan 225 ribu hektare lahan baru, dan akan dilanjutkan hingga 500 ribu hektare pada tahun depan. Menurutnya, langkah tersebut merupakan transformasi besar menuju sistem pertanian yang sehat dan berkeadilan.

Sebelumnya, PT Vale Indonesia membenarkan adanya insiden kebocoran pipa minyak di Desa Lioka, Kecamatan Towuti, pada Sabtu (23/8) pagi.

Head of Corporate Communication PT Vale, Vanda Kusumaningrum, menyatakan pihaknya masih melakukan investigasi penyebab kerusakan, namun menegaskan langkah mitigasi terhadap dampak sosial, lingkungan, dan masyarakat terus dilakukan.

Sementara itu, Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam menegaskan pihaknya akan mengawal penuh penanganan lahan terdampak kebocoran.

Dalam rapat koordinasi bersama PT Vale, Irwan menyebut ada lima desa di Kecamatan Towuti yang terdampak, dengan total luas lahan mencapai 82 hektare, meliputi sawah, empang, kebun, hingga peternakan warga.

“Rapat dibagi dua sesi, membahas solusi teknis dari titik kebocoran hingga ke desa-desa terdampak, serta penanganan taktis bagi masyarakat,” jelas Irwan.

Dengan langkah penanganan yang terkoordinasi, pemerintah pusat dan daerah berharap dampak insiden ini dapat diminimalisir tanpa mengganggu produktivitas pangan secara nasional. (*)