PT.PUL dan Warga Balantang Lanjutkan Dialog Informal, Persiapan Kesepakatan 14 Juli Mulai Dimatangkan

waktu baca 3 menit
Selasa, 7 Jul 2026 22:27 0 1375 Tim Redaksi
 

MALILI – Komunikasi antara warga Desa Balantang dan PT. Prima Utama Lestari (PUL) terus berlanjut setelah pertemuan resmi yang sebelumnya difasilitasi Pemerintah Kecamatan Malili, terkait polemik pelibatan wilayah pesisir dalam adendum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

Kali ini, kedua belah pihak memilih duduk bersama dalam suasana yang lebih santai di Warung Kopi Andara, yang berlokasi di kawasan Puncak Indah, Malili, pada Senin (6/7/2026) kemarin.

Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi lanjutan, menjelang penyampaian hasil pembahasan kepada masyarakat Balantang, yang sedianya dijadwalkan berlangsung pada 14 Juli mendatang.

Jika pada pertemuan sebelumnya pembahasan banyak berkutat pada status Balantang dalam dokumen perusahaan, kali ini percakapan lebih banyak mengarah pada bagaimana masyarakat bisa benar-benar merasakan manfaat dari kehadiran perusahaan.

Tim Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT.PUL pun ikut hadir dalam diskusi tersebut.

Hanif, yang membidangi PPM perusahaan, menjelaskan bahwa program pemberdayaan tidak disusun secara sembarangan.

“Pemetaan PPM kami terbagi dalam delapan kluster, itu yang jadi pedoman dalam penyusunan kemarin,” ia mengatakan.

Penjelasan itu langsung disambut sejumlah tanggapan dari warga. Sekretaris Desa Balantang, Muhammad Anjar, menilai masyarakat akan lebih mudah memahami arah pemberdayaan apabila perusahaan memiliki daftar program yang dapat diketahui bersama.

Sejauh ini, ia menilai, warga sama sekali belum mengetahui arah besar dari program pemberdayaan PT.PUL, termasuk apa saja yang akan dijalankan oleh pihak perusahaan dalam tahun 2026 ini.

“Seharusnya CSR PT.PUL itu ada daftar programnya, jadi bisa disesuaikan nanti dengan kebutuhan desa-desa terdampak, apa saja yang jadi prioritas untuk masing-masing desanya,” ujarnya.

Anjar pula mengingatkan, bila komunikasi pihak perusahaan dan warga cukup urgen dilakukan, sedapat-mungkin malah jauh lebih penting daripada sekadar bertemu sesekali.

“Kami masih menunggu ini PT.PUL bisa datang ke desa kami juga buat bersosialisasi dengan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, perwakilan External PT.PUL, Jonathan, mengatakan perusahaan pada dasarnya terbuka untuk memperlihatkan rencana pemberdayaan yang telah disusun.

“Kalau dalam RI PPM itu ada, nanti bisa kami tunjukkan juga apa saja program pemberdayaan yang akan dilakukan oleh PT.PUL,” ujarnya.

Obrolan kemudian bergeser pada bentuk program yang dinilai paling bermanfaat bagi masyarakat. Ketua Program Kampung Iklim (Proklim) Desa Balantang, Asmar Alam, berharap kegiatan perusahaan tidak lagi berfokus pada bantuan yang hanya dinikmati segelintir orang.

“Sebaiknya kegiatan CSR untuk Balantang diarahkan saja untuk kegiatan yang bisa dinikmati banyak orang, seperti pendidikan, masjid, atau kesehatan, karena kalau diberikan bantuan satu-satu tahun depan minta lagi,” ia berkata.

Pendapat itu diamini Andi Hilal. Dengan nada bercanda yang mengundang tawa peserta lain, ia menyampaikan pandangannya mengenai bantuan langsung.

“Kenyang mi saya kalau bantuan langsung itu, tidak ada beres. Lebih baik kasi itu untuk peningkatan usaha atau fasilitas umum,” sebut pria yang kini menjabat selaku Camat LIRA Malili itu.

Meski belum menghasilkan keputusan baru, pertemuan tersebut memperlihatkan adanya perubahan pendekatan komunikasi antara kedua pihak.

Bila sebelumnya dialog berlangsung dalam suasana mediasi yang difasilitasi pemerintah, kali ini pembahasan dilakukan secara lebih terbuka dan bisa lebih cair.

Momen tersebut bagi masing-masing pihak dapat memiliki kesempatan lebih luas untuk saling menjelaskan posisi dan seluruh harapannya.

Hasil pembicaraannya, tentu pula diharapkan tetap menjadi bagian dari bahan pembahasan menjelang penyampaian hasil kesepakatan kepada masyarakat Balantang melalui Pemerintah Kecamatan Malili dan Pemerintah Desa, sesuai jadwal yang telah disepakati di pekan depan.