
BURAU – Kondisi Jembatan Gantung di Dusun Mes, Desa Lauwo, Burau, disorot melalui sebuah video di media sosial. Jembatan yang disebut menjadi akses masyarakat, guru, dan anak sekolah itu dinilai mulai membahayakan pengguna.
Dalam video, seorang pria yang mengenakan identitas Media Zona Tipikor memperlihatkan kondisi jembatan. Ia mempertanyakan perhatian pemerintah daerah terhadap infrastruktur yang digunakan masyarakat sehari-hari.
“Mana ini pemerintahnya Luwu Timur? Gerbangnya dikasih cantik-cantik di perbatasan Luwu Utara-Luwu Timur, sedangkan jembatan gantung masyarakat di sini sudah turun,” katanya.
Ia lalu memperlihatkan bagian jembatan yang menurutnya sudah rusak dan menyebut bahwa jembatan itu berbahaya. “Tidak lama patah ini. Berbahaya sekali ini,” ujarnya.
Perhatian dalam video malah turut menyasar nama Wakil Bupati (Wabup) Lutim. Ia meminta Wabup kembali melihat kondisi jembatan tersebut.
“Terutama itu wakilnya, yang perempuan itu. Entah siapa lagi namanya itu, Ibu Puspa,” katanya.
Menurut dia, Puspawati pernah melewati jembatan itu ketika berkampanye di Dusun Mes, Desa Lauwo. Ia pun meminta Wakil Bupati datang kembali untuk melihat langsung kondisinya.
“Datangki, Bu. Tinjau-tinjau kembali ini Jembatan Gantungnya masyarakat Dusun Mes,” katanya.
Sorotan terutama diarahkan pada fungsi jembatan bagi aktivitas warga. Dalam videonya, ia menyebut jembatan itu digunakan masyarakat, guru, dan anak sekolah karena terdapat sekolah dasar di sisi seberang.
“Jembatan gantungnya masyarakat. Di sini dilalui oleh pembawa MDG, guru-guru, para anak sekolah di sini. Selalu melintas di sini,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kerusakan jembatan berisiko menimbulkan korban. “Karena ada sekolah di sebelah, SD. Parah sekali ini. Tidak lama ini ada korban,” lanjutnya.
Perbandingan dengan Gerbang Burau menjadi bagian utama kritik dalam video. Pembangunan gerbang di perbatasan Lutim–Luwu Utara memiliki nilai kontrak Rp5.247.798.420, bersumber dari APBD Lutim Tahun Anggaran 2025 dan dikerjakan PT. Pasele Karya Pratama.
Pekerjaan itu seharusnya selesai pada Desember 2025, tetapi mengalami keterlambatan hingga pembangunannya tidak dilanjutkan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lutim, sebelumnya menyebut Gerbang Burau sebagai bagian dari penataan estetika wilayah sekaligus penanda pintu masuk daerah.
Pada 23 Desember 2025, Bupati Lutim Irwan Bachri Syam, juga meninjau proyeknya dan berharap pengerjaannya dapat diselesaikan sesuai kontrak.
Saat gerbang Burau mulai bersoal, video terbaru ini mulai mempertanyakan prioritas pembangunan ketika infrastruktur yang langsung digunakan warga disebut masih dalam kondisi mengkhawatirkan.
“Bagaimana ceritanya? Nanti ada korban, baru kalian muncul,” katanya. Di akhir video, ia kembali meminta pemerintah memperhatikan jembatan yang disebut telah lama terbengkalai.
“Terlantar mi ku lihat. Semoga diperhatikan,” ujarnya.

