
MALILI – Kecelakaan kerja kembali terjadi di kawasan operasional PT.Citra Lampia Mandiri (CLM), pada Sabtu (30/5/2026). Sebuah dump truck (DT) yang mengangkut ore dilaporkan mengalami kecelakaan tunggal hingga terbalik, mengakibatkan sopir berinisial Ab meninggal dunia di lokasi kejadian.
Berdasarkan informasi yang sempat beredar, menyebut korban adalah karyawan PT Kalla, perusahaan subkontraktor PT.CLM yang menangani pengangkutan material dari site menuju stockpile. Korban diduga mengalami cedera fatal di bagian kepala setelah terjepit saat kendaraan terguling.
Meski nyawanya sudah tak tertolong, rekan-rekan korban segera membawanya ke layanan kesehatan terdekat guna pemeriksaan.
Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih menunggu hasil investigasi resmi dari pihak perusahaan maupun instansi terkait. Belum ada penjelasan rinci mengenai faktor yang menyebabkan dump truck tersebut kehilangan kendali hingga terbalik.
Insiden ini kembali memunculkan sorotan terhadap penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan pertambangan, khususnya terkait kelayakan armada dan pengawasan operasional di lapangan.
Sejumlah pekerja dan masyarakat berharap investigasi dilakukan secara terbuka agar kecelakaan serupa tidak terus berulang. Mengingat pada beberapa bulan silam, kecelakaan yang menewaskan seorang pekerja pula telah terjadi.
Pemerhati sosial dan lingkungan Desa Harapan, Luwu Timur, Taslim Sente, menilai kecelakaan tersebut seharusnya menjadi alarm serius bagi manajemen PT.CLM dalam memperketat pengawasan terhadap perusahaan kontraktor.
“Perlu penegasan pada armada yang layak dan tidak layak, mestix tetapkan tahun kendaraanx kemudian faktor kedua kemungkinan harga sehingga buru target,” ujar Taslim dalam percakapan salah satu grup WhatsApp komunitas pekerja di Lutim.
Ia juga menyoroti aspek keselamatan kerja yang dinilai masih kurang mendapat perhatian, termasuk perlunya pemeriksaan terhadap seluruh pekerja dan kontraktor yang beroperasi di area tambang.
“Keempat tes urine setiap kontraktorx sama clmx,” pinta pria yang akrab disapa Echol tersebut.
Peristiwa ini menambah daftar kecelakaan kerja di sektor pertambangan. Sehingga memicu desakan agar pengawasan terhadap standar keselamatan dapat dilakukan lebih ketat, baik oleh perusahaan utama maupun mitra kontraktornya, agar kecelakaan kerja seperti ini tak lagi berulang.*