
MALILI – Telah cukup lama sistem monokultur membuat lahan-lahan kita jadi amat rentan. Sistem tanam yang hanya berisi satu jenis tanaman, ternyata bukan ideal alami yang membuatnya dapat tumbuh terbiasa dalam ekosistem yang baik.
Biar begitu, terlalu sedikit tanaman sejenis juga bukanlah perkebunan melainkan hutan. Saat domestikasi tanaman ingin berdamai dalam produktifitas hasil dan ekosistem pertumbuhan alaminya, multiklonal adalah sedikit jawaban.
Istilah itu dijelaskan sigap oleh Firzal, seorang personel Sahabat Kakao, yang tampak berjaga di stand PT. Mars, pada Selasa (2/6/2026) malam.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Lutim, stand milik PT.Mars itu, adalah satu dari puluhan lainnya dalam keramaian Pameran UMKM Lutim, yang sedianya dihelat dari tanggal 30 Mei – 8 Juni 2026, di kawasan Andi Nyiwi Park, Malili.
Ada cukup banyak deret produk UMKM, panggung hiburan, dan lalu-lalang pengunjung pameran, tapi stand kakao itu tampak mencolok dengan pajangan bibit tanaman, susunan buah kakao beragam bentuk, miniatur tata letak kebun, hingga beberapa produk binaan PT.Mars di bawah naungan kelompok VSLA (Village Savings and Loan Association), yang kini memiliki 93 kelompok aktif dengan 1.570 anggota.
Saat mendapati brosur yang dibagikannya, gagasan tentang multiklonal itu jadi memancing cukup banyak ketertarikan. Bagaimana kebun kakao dapat lebih produktif tanpa sepenuhnya melepaskan prinsip keseimbangan alam?
Berbeda dari pola tumpang-sari yang sering kali membuat lahan dipenuhi terlalu banyak jenis tanaman tanpa pola yang jelas, konsep multiklonal menggabungkan beberapa klon kakao dalam satu kebun secara terorganisir.
Beberapa klon ditanam sekaligus di satu lahan dengan komposisi tertentu, agar penyerbukan silang antar tanaman bisa berlangsung optimal.
Sejumlah pohon pelindung lalu dibuat sebagai tanaman sela, tak saja untuk menjaga kelembapan, pula mengatur intensitas cahaya dan memberi nilai ekonomi tambahan melalui variasi hasil.
“Sistem multiklonal ini dirancang agar penyerbukan silang antar klon berjalan optimal, meningkatkan produktivitas buah kakao, sekaligus memberikan naungan dari pohon pelindung agar tanaman kakao tumbuh optimal,” seperti disebut dalam brosur.
Salah satu contoh tata letak yang dipamerkan memperlihatkan komposisi kebun berisi sekitar 980 pohon kakao, dengan komposisi dan jarak tanam sekaligus untuk tiga klon kakao secara proporsional. Pada beberapa bagian kebun, naungan berupa pepohonan buah dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani.
Brosurnya bahkan menyebut, sistem ini bisa meningkatkan hasil panen hingga lebih dari 50 persen dibanding pola kebun biasa. Pendekatannya dianggap mampu meningkatkan keberhasilan penyerbukan silang antar pohon kakao, hingga berdampak tak hanya pada peningkatan produksi buah, tetapi juga ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
Tak berhenti di situ, Firzal pula sempat memberitahu bila pengembangan klon kakao hingga kini masih terus dilakukan oleh PT. Mars. “Ada beberapa klon yang terus dikembangkan, seperti Klon Super ISC (Indonesia Sort Compatible) dan SCC (Sulawesi Cocoa Clon), tapi masih belum dibagikan ke petani,” sebutnya.
Ia juga menjelaskan posisi organisasi usahanya dalam rantai pengembangan perkebunan tersebut. Sebagai mitra PT.Mars, katanya, Sahabat Kakao tetap berjalan sebagai “bisnis mandiri untuk layanan jasa.”
Tawarannya terlihat cukup beragam, mulai dari pemangkasan, penyemprotan, sambung samping atau pucuk, penyerbukan manual, pemupukan, pembibitan, hingga pembelian biji kakao dan akses pembiayaan bagi petani.
Sementara, sejumlah bibit kakao yang dipajang malam itu, ternyata juga dipasarkan langsung kepada pengunjung. Beberapa klon yang tersedia antara lain BB1, MCC 02, Sulawesi 2, dan ICCRI 09 dengan harga sekitar Rp6.000 per batang.
Di tengah hiruk-pikuk suasana pameran malam itu, pula lantunan musik dari arah panggung yang mulai diputar, tawaran dari stand kakao PT. Mars tampak kian menarik.
Bukan hanya soal harga bibit atau produknya, tapi juga pertunjukannya dalam pengelolaan dunia pertanian kita, agar tetap produktif tanpa sepenuhnya meninggalkan cara alam bekerja. (*)