Air Menyusut, Lahan Terbakar: Seberapa Lama Kekeringan Melanda Lutim?

waktu baca 3 menit
Jumat, 2 Okt 2026 11:22 0 1304 Arsal Amiruddin
 

LUTIM – Kondisi kekeringan di Lutim kian menanjak dan memasuki fase puncak. Sumber air baku menyusut, distribusi air bersih harus dibantu mobil tangki, sementara kebakaran lahan terus muncul di tengah kondisi cuaca yang kering.

Kondisi itu merupakan bagian dari gejolak El Niño yang sudah diperingatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejak pertengahan tahun.

Pada Juni 2026, BMKG memprakirakan El Niño berada pada intensitas moderat hingga kuat di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Puncak musim kemarau secara nasional diprediksi berlangsung pada Juli–September, dengan sebagian besar wilayah mencapai puncak pada Agustus.

Memasuki September, kondisi El Niño justru menguat. Analisis BMKG pada 23 September mencatat indeks ENSO periode Juli–September sebesar +2,63, yang masuk kategori El Niño sangat kuat.

Pada periode yang sama, Sulsel juga masuk wilayah yang mendapat peringatan dini kekeringan meteorologis kategori Siaga.

BMKG menjelaskan bahwa El Niño berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD).

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, sempat mengatakan kombinasi kedua fenomena ini, “memperparah dan memperpanjang periode kekeringan” di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dampaknya mulai terlihat pada layanan air bersih di Lutim. Perumdam Waemami mengerahkan mobil tangki hingga malam untuk memenuhi kebutuhan warga di sejumlah wilayah pelayanan, termasuk Mangkutana dan Angkona.

“Kami berupaya semaksimal mungkin agar tidak ada warga yang terlewat,” kata Direktur Perumdam Waemami Andi Maryam, dikutip Tekape pada 11 September 2026.

Petugas, menurutnya, tetap bekerja hingga malam untuk memastikan penampungan warga terisi. Tekanan pada sumber air juga terlihat di Sungai Tarabbi.

Laporan Satudata pada 21 September, menyebut muka air sungai menyusut hingga hanya menyentuh sekitar setengah bagian pipa pengisap pada intake IPA Tarabbi.

Di sektor pertanian, Dinas Pertanian Lutim menyebut sekitar 400–500 hektare sawah tidak memperoleh pasokan air. Laporan dari Bilik Fakta, menyebut beberapa wilayah antara lain, Mahalona Raya, Towuti, Wasuponda, Manurung, Pongkeru dan sebagian Laskap.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Bidang Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Lutim, Rahmatullah, dikutip laporan yang sama, menyebut kondisi itu diperkirakan berdampak terhadap produksi gabah sekitar 2.500 ton.

Risiko lain turut muncul dari kebakaran lahan. BNPB mencatat kebakaran lahan seluas sekitar dua hektare terjadi di Desa Puncak Indah, Malili, pada 17 September 2026, juga di banyak area lainnya di Lutim.

Lalu, sampai kapan kondisi ini berlangsung?

BMKG pada 22 September menyatakan El Niño sangat kuat diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027. Musim hujan 2026/2027 juga diprediksi datang lebih lambat.

Sebanyak 61,08 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kemunduran awal musim hujan dari rata-rata klimatologisnya. Sebagian besar wilayah baru memasuki musim hujan pada November atau Desember.

Untuk Sulsel, BBMKG Wilayah IV Makassar juga memprediksi awal musim hujan mengalami kemunduran. Sejumlah wilayah diperkirakan baru memasuki musim hujan pada November, Desember, bahkan hingga Maret 2027.

Waktu datangnya hujan tetap berbeda menurut wilayah dan zona musim. Kondisi itu tidak berarti Lutim akan tanpa hujan sampai awal 2027. Hujan lokal tetap dapat terjadi sebelum musim hujan dimulai.

Persoalannya adalah pemulihan sumber air kemungkinan tidak berlangsung seketika, sehingga kebutuhan air bersih, pertanian dan pencegahan kebakaran tetap perlu dijaga selama periode kering.

Warga dapat mulai mengurangi penggunaan air yang tidak mendesak, menyimpan cadangan air secukupnya, serta tidak melakukan pembakaran lahan terbuka.

Pemerintah desa dan kecamatan juga perlu cepat melaporkan wilayah yang mulai kesulitan air agar distribusi bantuan tidak menunggu kondisi berkembang menjadi krisis.

Bulan Oktober, tampaknya, bakal menjadi periode penting untuk melihat apakah hujan mulai kembali merata atau tekanan kekeringan justru berlanjut berdasar data BMKG.