
MALILI – Warga Desa Atue, berencana membentuk forum warga untuk mengawal persoalan lingkungan di wilayah mereka, menyusul aktivitas pengeboran PT. Prima Utama Lestari (PUL).
Rencana itu muncul setelah warga menemukan area yang hendak dilakukan pengeboran telah memasuki wilayah Desa Atue, bahkan disebut berada di sekitar sumber air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.
Salah seorang warga Atue, Iksan, mengatakan sumber air di kawasan itu dimanfaatkan warga dari sedikitnya lima desa yang berdekatan dengan wilayah Atue.
“Sumber air di sana ada pipa air untuk warga Atue, ada juga punya PDAM,” sebut Iksan, saat dihubungi, Jumat malam (11/9/2026).
Menurut Iksan, keberadaan sumber air menjadi perhatian utama warga sebelum aktivitas pengeboran menggunakan alat berat kembali dilakukan.
Sebelumnya, keberatan warga telah disampaikan langsung di lokasi pengeboran. Mereka meminta aktivitas dihentikan sementara, sembari menunggu penjelasan dan sosialisasi dari pihak terkait.
“Perlu diketahui bahwa salah satu penghasil air bersih di Luwu Timur ada di wilayah ini. Kalau kegiatan dibiarkan tanpa sosialisasi, dampaknya bisa saja nantinya air bersih kita tercemar,” ujar Iksan.
Iksan mengatakan pembentukan forum warga diharapkan menjadi wadah untuk menjaga lingkungan sekaligus mengawal aktivitas yang dinilai berpotensi berdampak terhadap masyarakat.
PT. PUL Tarik Alat, Tunggu Jadwal Sosialisasi
Menyikapi teguran warga terhadap aktivitas pengeboran, PT. PUL disebut telah turun langsung ke lokasi dan rumah warga untuk melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat.
Dilansir dari laman Meeibis, Jumat malam (11/9/2026), External PT. PUL, Iwan, menyebut perusahaan telah menarik peralatan untuk menjaga kenyamanan bersama sambil menunggu jadwal sosialisasi dengan pemerintah setempat.
Iwan juga menjelaskan bahwa titik pengeboran berada di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT. PUL, yang sebelumnya telah dibebaskan dari masyarakat yang menguasai lahan.
“Meskipun belum ada hasil kesepakatan, kami melakukan penarikan alat dari lokasi kegiatan untuk menjaga kenyamanan bersama, sambil menunggu jadwal sosialisasi bersama pemerintah setempat,” pintanya.
Iwan bahkan menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Atue yang masih memberikan kesempatan kepada pihak perusahaan untuk melakukan sosialisasi ke depannya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat karena masih memberikan kami waktu untuk melakukan sosialisasi ke depannya bersama pemerhati setempat,” harap Iwan.
Sosialisasi bersama pemerintah setempat dan pemerhati masyarakat, diharapkan menjadi ruang untuk menjelaskan rencana kegiatan pengeboran, dampak sosial, serta aspek lingkungan yang mungkin terjadi.
Meski demikian, hingga berita diterbitkan, belum diketahui secara pasti informasi mengenai jadwal resmi sosialisasi maupun hasil kesepakatan antara PT. PUL dan masyarakat Desa Atue.