Napak Tilas di Tanah Leluhur, Mangrove Kembali Menyambung Ingatan Balantang

waktu baca 3 menit
Sabtu, 18 Jul 2026 16:40 0 1275 View Arsal Amiruddin
 

MALILI – Air laut sedang surut ketika puluhan warga mulai menapakkan kaki di hamparan lumpur pesisir Balantang Lama, Sabtu (18/7/2026). Satu per satu bibit mangrove mulai ditanam.

Di sela kegiatan, mereka berhenti sejenak di sebuah papan yang baru terpasang, bertuliskan, “Selamat Datang Kampung Tua (Gembae)”.

Penanda sederhana itu mengingatkan bahwa kawasan tersebut bukan sekadar pesisir, melainkan halaman pertama dari kisah mula-mula wilayah desa.

Penanaman mangrove menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Desa Balantang. Biar begitu, kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai upaya pelestarian lingkungan.

Lebih dari itu, penanaman mangrove menjadi napak tilas menuju titik berangkat, sebelum warga perlahan bermukim di sekitar Lapangan Terbang Gembae yang kini dikenal sebagai Lapangan Birawa.

Cerita yang diwariskan secara turun-temurun menyebutkan, kawasan Balantang Lama merupakan lokasi pertama para nelayan dari Pao, Malangke, berlabuh dan membangun permukiman.

Dari perkampungan sederhana di tepian Teluk Bone itulah kehidupan masyarakat perlahan berkembang hingga membentuk Desa Balantang seperti yang dikenal saat ini.

Perjalanan menuju kawasan tersebut seolah membawa warga dan pengunjung kembali ke masa lampau. Hutan mangrove yang masih tersisa mengapit jalur menuju pesisir.

Sementara, hamparan lumpur yang kini mendominasi kawasan menjadi saksi perubahan bentang alam selama puluhan tahun.

Bagi generasi yang lebih tua, Balantang Lama menyimpan kenangan yang sulit dilupakan. Pada dekade 1900-an, kawasan ini dikenal sebagai salah satu lokasi rekreasi masyarakat.

Selain Batu Menggoro di Lampia, Desa Harapan, pantai Balantang Lama menjadi tujuan warga menikmati suasana laut dan berkumpul bersama keluarga.

Seiring berjalannya waktu, wajah kawasan itu perlahan berubah. Sedimentasi, perubahan garis pantai, dan dinamika alam pesisir menggeser bentang alam yang dahulu akrab di mata masyarakat.

Pantai yang dulunya terbuka kini didominasi kawasan berlumpur. Vegetasi mangrove yang terus mengalami tekanan turut mengubah lanskap pesisir, hingga pesonanya sebagai lokasi wisata perlahan memudar.

Perubahan itulah yang justru menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi dan hempasan gelombang, tetapi juga menjadi habitat berbagai jenis ikan, kepiting, udang, hingga burung-burung pesisir.

Bagi masyarakat Balantang yang sejak lama menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan kelautan, keberadaan mangrove memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pepohonan di tepi pantai.

Penanaman mangrove kali itu, karenanya memiliki makna ganda. Menanam pohon berarti menjaga masa depan pesisir, sekaligus merawat jejak sejarah yang nyaris terlupa.

Kegiatan tersebut juga melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Pemerintah Desa Balantang, mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin (Unhas), aparat TNI-Polri, relawan, hingga warga yang bersama-sama turun ke pesisir menanam bibit mangrove.

Sebelum memulai penanaman, seluruh peserta berkumpul di sebuah rumah panggung yang menjadi titik persiapan. Bagi sebagian warga, tempat itu menghadirkan nostalgia tentang Bola’ Tang, sebutan yang diyakini menjadi asal-usul nama Balantang, yang dimaknai sebagai “rumah yang kandas.”

Dari sana rombongan bergerak menuju Kampung Tua Gembae, lalu menyusuri kawasan mangrove hingga tiba di lokasi penanaman.

Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan desa tidak hanya diukur dari infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga identitas dan ingatan kolektifnya.

Balantang kini terus bergerak maju. Di saat yang sama, desa ini mulai mengembangkan potensi wisata sejarah dan budaya melalui Desa Wisata Balantang Gembae yang mengangkat kekayaan sejarah, budaya, dan alam sebagai daya tarik.

Melalui napak tilas dan penanaman mangrove ini, masyarakat seakan ingin menyampaikan satu pesan sederhana, desa yang besar adalah desa yang tidak melupakan dari mana ia berasal.

Sebagaimana tema HUT ke-30 Desa Balantang tahun ini, “Menuju Desa Juara yang Peduli, Inklusif, dan Humanis,” langkah kecil menanam mangrove di tanah leluhur menjadi simbol bahwa menjaga alam dan merawat sejarah merupakan dua ikhtiar yang harus terus berjalan beriringan menuju masa depan desa.