
MALILI – Jumat (26/6/2026) mulai sedikit terik melewati pertengahan siang. Namun, beberapa orang tua siswa masih tampak berdiri di depan ruang panitia Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMAN 1 Lutim, di Jalan Montolalu, Malili.
Sebagian dari mereka sibuk bercerita satu sama lain, saat sebagian yang lain tengah duduk dalam antrean pendaftaran untuk penerimaan jalur prestasi hari terakhir.
Dua titik penerimaan tampak dibuka oleh pihak panitia. Sebagian berada di koridor kelas, dan satu lagi terletak di sebuah ruangan yang tak jauh. Di dalam ruang panitia, beberapa petugas masih terlihat menerima berkas dari calon siswa yang datang silih berganti.
Map demi map diperiksa, sembari panitia sibuk melihat layar komputer mereka cukup serius. Mencocokkan seluruh isi map dengan data sistem hingga koordinat tempat tinggal siswa.
Sesekali terdengar suara panitia memanggil nama peserta untuk membawa berkas-berkas mereka. Hingga pertengahan siang penerimaan berjalan, antrean itu belum benar-benar berkurang.
“Sampai saat ini masih berjalan. Kita buka sampai pukul 3 sore, tapi kami berharap bisa melakukan penerimaan hingga malam,” kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Lutim, Syamsinar, yang juga menjadi sekretaris panitia penerimaan.
Setelah mengikuti aktivitas penerimaan beberapa saat, pihak MaliliPos ikut diundang masuk ke ruangan Kepala SMAN 1 Lutim. Ketua Panitia SPMB, Suardi, ikut mendampingi selama perbincangan itu.
Suasananya berlangsung santai. Sesekali terdengar tawa kecil di sela penjelasan mengenai berbagai aturan penerimaan tahun ini. Di atas meja, beberapa lembar data penerimaan siswa dibuka satu per satu.
Kepala sekolah bersama ketua panitia menjelaskan berbagai mekanisme dengan cukup hati-hati, seolah mengurai benang yang selama beberapa hari terakhir dianggap cukup rumit oleh banyak warga.
Mereka bahkan menawarkan seluruh data penerimaan per siswa, katanya jika memang dibutuhkan penelusuran lebih rinci.
Kepala SMAN 1 Lutim, Muhammad Anwar, mengatakan pelaksanaan penerimaan sejauh ini berjalan cukup lancar, meski terdapat beberapa penyesuaian dibanding tahun sebelumnya.
“Memang baru tahun ini penerimaannya jadi agak berat, karena adanya pembedaan zona 1 dan zona 2 ini,” ujarnya.
Melalui lembar-lembar data yang dibuka di atas meja itu, satu per satu angka mulai dijelaskan. Tahun ini, SMAN 1 Lutim memiliki daya tampung sebanyak 360 siswa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 35 persen atau 126 kursi dialokasikan untuk jalur domisili.
Kuota itu lalu dibagi lagi menjadi dua wilayah. “126 untuk jalur domisili. Zona 1 itu sejumlah 54 orang, zona 2 ada 72,” kata Anwar.
Persaingan pada jalur tertentu tampak cukup ketat. Pada zona 2 misalnya, jumlah pendaftar disebut mencapai 275 orang.
Sementara, di jalur prestasi jumlah pendaftar juga masih bertambah di hari terakhir pendaftaran. Hingga siang itu, sudah tercatat sekitar 203 calon siswa yang telah mendaftar.
Hanya saja, ternyata penerimaan untuk jalur prestasi ini, sedikit berbanding terbalik dari beberapa kuota penerimaan lainnya. Pada jalur afirmasi, jumlah pendaftar disebut hanya sangat sedikit.
“Yang mendaftar untuk jalur afirmasi hanya 11 orang,” kata Anwar. Angka itu jauh berada di bawah kuota yang tersedia. Dalam perhitungan panitia, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi distribusi kursi pada jalur lainnya.
Situasi serupa juga terlihat pada jalur mutasi. Dari kuota sebanyak 18 siswa, jumlah pendaftar baru mencapai tujuh orang. Sementara, beberapa subkategori prestasi, jumlah pendaftar juga belum memenuhi kuota yang disediakan.
“Seperti untuk kepemimpinan itu kuotanya sembilan, yang daftar cuma tiga orang. Terus keagamaan kuotanya sembilan, yang daftar baru lima,” Syamsinar menimpali, sesaat ketika ia masuk dan mulai ikut dalam perbincangan.
Bila melihat sajian angka-angka yang dibuka di atas meja itu, pihak panitia tampaknya tidak hanya disibukkan oleh proses verifikasi berkas, tetapi juga oleh berbagai pertanyaan yang terus datang dari orang tua siswa.
Salah satu yang paling sering muncul berkaitan dengan penggunaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Bagi panitia, persoalan tersebut bahkan menjadi semacam keluh-kesah tersendiri selama proses penerimaan berlangsung.
Berulang kali mereka harus menjelaskan mekanisme akumulasi nilai kepada pendaftar dan orang tua siswa.
“Yang kurang dipahami orang tua siswa, karena ada akumulasi TKA, sementara ada beberapa sekolah itu yang tidak memiliki nilai TKA seperti yang berasal dari pesantren,” kata Syamsinar.
Kondisi itu membuat panitia kerap menerima pertanyaan serupa berulang kali. Sebagian orang tua khawatir anak mereka berada pada posisi yang kurang menguntungkan dalam proses pemeringkatan karena tidak memiliki nilai TKA.
Sementara itu, pada jalur afirmasi, Suardi mengatakan proses verifikasi dilakukan melalui data yang terhubung langsung dengan data pemerintah.
Setidaknya harus ada bukti berbasis kartu PKH, yang secara langsung terhubung dengan Dinas Sosial, ia berkata. Ketentuan itu tak bisa ditoleransi, karena telah termuat dalam petunjuk teknis yang dipedomani seluruh sekolah.
“Biasanya kalau jumlah pendapatan rumah tangga bertambah, biasanya itu dikeluarkan langsung dari pihak Dinsos. Keluarga itu dianggap telah keluar dari data Dinsos,” lanjutnya.
Meski begitu, Anwar mengingatkan, agar masyarakat dapat memahami seluruh proses penerimaan secara utuh. Menurutnya, angka-angka yang terlihat selama proses pendaftaran berjalan tetap diakumulasi, dari jalur-jalur yang minim kuota untuk dibuka kembali pada jalur lainnya.
“Jadi kuota dari jalur prestasi kita sekarang, karena yang mutasi ada sisa, kemudian di jalur lainnya juga minim pendaftar. Yang sudah lulus 144 dari 360 yang mau diterima. Jumlah yang akan diterima itu masih 216,” ia berkata.
Pihak sekolah, sebutnya, tetap berupaya agar seluruh proses dapat berjalan dengan baik dan bisa memberi kesempatan bagi sebanyak mungkin calon siswa.
“Kita berharap semua, doakan kita semua, kita bekerja di sini sesuai dengan juknis yang ditentukan oleh pihak Provinsi Sulawesi Selatan,” pinta Anwar.